OB Tampan Pemikat Hati

OB Tampan Pemikat Hati
56.Suka Begitu


__ADS_3

"Mami, banyak banget makanan. Mami ada acara apa di rumah?" tanya Vanya sambil mencicipi makanan yang di bawa Liana.


"Mami dengar kamu sakit. Jadi, mami dan Bagas khawatir."


"Pasti saja Leon yang sudah ember memberitahu mami ya kan?"


"Aku hanya memberitahu, apa itu salah?"


"Iya nih, kakak ini aneh!"


"Aku baik-baik saja, cuma masuk angin. Buktinya sekarang aku sudah sembuh!" ujar Vanya.


"Leon, baru sekarang mami pergi ke rumah mu. Ternyata di dalamnya sangat mewah dan nyaman. Mami suka konsepnya,"


"Sangat mengecoh, dari luar nampak sederhana. Masuk kedalam seperti istana!" timpal Bagas yang ikut kagum.


Leon malu sendiri, karena sebelum ini Leon sangat tertutup dan tidak ada orang lain selain pembantu yang masuk kedalam rumahnya.


"Mami dan Bagas kalau ingin menginap juga boleh. Aku sebenarnya sudah menyiapkan kamar untuk kalian dari jauh hari," kata Leon membuat Liana senang.


"Suami ku memang baik!" seru Vanya.


"Leon, ada baiknya kau mundur dari OB. Kenapa kau ini sangat suka di hina orang lain?" Liana tidak terima.


"Aku nyaman dengan kehidupan ku seperti ini mi. Biarkan saja orang lain ingin berkata apa."


"Kau terlalu acuh dengan omongan orang!" Vanya suka geram sendiri pada suaminya.


"Terkadang, kita harus benar-benar acuh dengan omongan orang lain agar hidup kita waras," sahut Leon langsung di benarkan Bagas.

__ADS_1


"Ya udah, cepat di makan. Nanti keburu dingin," ujar Liana lalu Leon dan Vanya makan malam dari masakan yang di bawakan Liana.


"Kenapa kalian tidak mencari pembantu kak?" tanya Bagas penasaran, karena rumah ini nampak sepi.


"Ada pembantu, tapi datangnya dua hari sekali," jawab Vanya.


"Maksudnya yang bisa menginap gitu?" perjelas Bagas.


"Iya, kenapa?" Liana menimpali pertanyaan anaknya.


"Kami sudah sepakat untuk melakukan semuanya secara bersama-sama. Ya kan suami ku?"


"Iya istri ku!" sahut Leon.


"Hais,...membuat ku geli saja!" ujar Bagas membuat Liana tertawa.


Selesai makan, baru lah Liana dan Bagas pamit pulang. Rumah kembali sepi, itu sudah biasa. Vanya tidak merasakan kesepian, apa lagi Leon paling pandai membuatnya tertawa.


Leon mengusap perut datar istrinya.


"Ya sabarlah, semua butuh proses!"


"Bagaimana jika kita memprosesnya lagi. Semakin rajin kita mengadon akan semakin cepat jadinya!"


"Di kata donat kali...!"


"Ayo lah sayang," rengek Leon, "eh, gak usah. Kamu kan sakit...!" ujar Leon yang baru ingat jika istrinya sakit.


"Aku sudah sehat kok!" seru Vanya membuat Leon tertawa, "kenapa tertawa?" tanya Vanya heran.

__ADS_1


"Giliran enak-enak aja kamu langsung sehat. Kenapa, apa pedang ku obatnya?"


Leon menggoda Vanya.


"Suka begitu...!" Vanya malu-malu, "ayo membuat keturunan. Katanya mau punya anak!"


"Wah, sayang kau sangat agresif malam ini. Aku suka!"


Tidak menanggapi, Vanya yang semula rebahan di pangkuan suaminya langsung duduk di atas pengakuan Leon lalu mengalungkan kedua tanganya di leher.


Wanita ini dengan agresif mencium bibir Leon. Leon senang hal seperti ini, sudah pasti dia akan membalas ciuman suaminya.


Lebih gila lagi ketika Vanya mendorong tubuh suaminya terbaring. Wanita ini bahkan melepas semua pakaian Leon seolah diri.


"Kau ini kenapa?" Leon yang bingung dengan sikap istrinya mencoba bertanya.


"Aku tidak tahu, tapi rasanya aku ingin sekali malam ini," jawab Vanya lalu memulai aksinya.


Vanya menggerayangi tubuh Leon, mengurut pedang tegang di bawah sana.


"Sayang, aku sudah tidak tahan!" bisik Leon yang sudah terpancing dengan permainan istrinya.


Lelaki ini langsung mengarahkan sang istri untuk segera mengasah pedangnya. Vanya berada di atas, wanita ini membuat gerakan yang lembut hingga membuat Leon melayang.


Lenguhan, suara-suara kenikmatan kembali menggema di kamar mereka.


Yang sudah tidak tahan membalikkan posisi mereka lalu bergantian menggoyang.


"Aku akan keluar!" bisik Leon.

__ADS_1


"Aku juga...!"


Tangan-tangan mereka mulai sibuk menggerayang, tubuh keduanya saling menggelinjang menikmati semburan cairan hangat yang kembali menyatu malam ini. Vanya yang sejak siang merasa tidak enak badan, mendadak sehat walafiat malam ini.


__ADS_2