
Orang-orang yang duduk di bawah masih memandang Leon dengan sebelah mata. Vanya masih bisa mendengar dengan jelas saat wanita ini berjalan menuju altar pernikahan.
Ingin sekali Vanya turun dan menghajar beberapa tamu yang sudah merendahkan Leon.
"Sabar Vanya, kau harus terlihat anggun hari ini," batin Vanya menyabarkan dirinya sendiri.
Dengan di dampingi Bagas, wanita melangkah dengan anggunnya. Gaun pengantin yang membalut tubuh Banyak nampak serasi dengan warna kulitnya.
Pria tampan dengan setelan tuxido berwarna senada dengan gaun pengantin ini mengulurkan tangannya, dengan malu-malu Vanya menyambut uluran tangan Leon.
"Aku gugup!'' bisik Vanya.
"Aku juga...!" balas Leon.
Mereka kemudian saling berhadapan dan berpegangan tangan. Di depan semua orang, Leon dan Vanya saling mengucapkan janji suci pernikahan mereka.
Suara Vanya terdengar bergetar, ada kesedihan yang tiba-tiba menyeruak dalam hati wanita ini. Orangtuanya masih lengkap, namun hanya sang mami yang peduli akan hidupnya. Bahkan, di hari bahagia seperti ini saja papinya masih tidak mau berbaikan.
Selesai acara pernikahan yang di selenggarakan di gereja yang berada tak jauh dari hotel, Vanya dan Leon langsung kembali ke hotel.
"Mau ngapain?" tanya Vanya panik ketika melihat Leon hendak melepas kancing kemejanya.
__ADS_1
"Aku gerah, aku ingin mandi. Kenapa?"
"Lepas di kamar mandi sana!" ujar Vanya malu sendiri.
"Kita sudah menikah, kenapa kau malu sendiri?"
"Siapa yang malu?"
"Bilang saja kau malu,...!"
Leon malah mendekati Vanya sambil melepas satu persatu kancing kemejanya.
"Mau apa kau?" Vanya panik.
Krek,....
"Ya ampun,...masih siang woi....main gas aja!" tegur Bagas membuat Vanya malu dan langsung mendorong tubuh Leon.
"Apa yang kau lihat tidak seperti yang kau pikirkan.Jadi, jangan berpikir yang aneh-aneh!" ucap Vanya dengan wajah gugup merona malu.
Leon hanya tertawa, dengan santainya pria ini masuk ke kamar mandi tanpa menjelaskan apa pun pada Bagas.
__ADS_1
"Sebaiknya aku keluar. Kak, jangan lupa kunci kamarnya!" pesan Bagas sebelum keluar.
Vanya mengumpat, Leon sudah berhasil mengerjainya tadi.
"Awas saja!"
Vanya kemudian duduk di sofa, sambil menunggu sore wanita ini memainkan ponselnya untuk melihat foto pernikahannya di gereja tadi.
Fokus Vanya langsung buyar ketika melihat Leon dengan santainya keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan sehelai handuk yang menutupi pedangnya.
Dada bidang itu, terlihat sexy ketika basah. Vanya menelan ludahnya kasar, benarkah lelaki tampan ini sudah resmi menjadi suaminya sekarang?
"Kenapa melihat ku?" tanya Leon langsung membuat Vanya membuang pandangannya, "sabar sayang, nanti malam kita akan melakukannya. Aku tidak ingin membuat mu lelah sekarang karena kita masih ada resepsi nanti."
"Bicara apa kau ini hah?"
"Jangan malu-malu, kita orang dewasa dan tidak mungkin jika kau tidak paham maksud ku!"
"Ingin sekali aku memenggal kepala mu itu....!" ucap Vanya geram. Niat hati ingin mencubit perut Leon namun Vanya malah salah sasaran. Wanita ini malah menarik handuk yang di kenakan Leon hingga terlihat pedang layu belum di asah.
Vanya ternganga, wanita ini langsung berbalik badan kembali ke sofa dan berusaha fokus pada ponselnya.
__ADS_1
Leon hanya tertawa, dengan santainya lelaki ini mengenakan kembali handuknya.
"Sudah ku bilang sabar...!" seru Leon tidak di tanggapi Vanya.