OB Tampan Pemikat Hati

OB Tampan Pemikat Hati
55.Peluk Aku


__ADS_3

Sudah bukan menjadi rahasia lagi mengenai hubungan rumah tangga Vanya dan Leon. Meskipun mereka suami istri namun Leon dan Vanya bekerja secara profesional.


Karyawan di kantor juga sudah terbiasa, tidak ada lagi dari mereka yang membicarakan tentang Leon di belakang.


"Berkat Leon, sekarang kita bisa cuci mata setiap hari," ucap salah seorang karyawan.


"Iya, sekarang kantor ini banyak laki-laki tampan juga."


"Seharusnya kita memberi hadiah untuk Leon. Berkat dia, kita semua bisa cuci mata," timpal karyawan yang lain.


"Tidak perlu, suami ku tidak membutuhkan hadiah!" ucap Vanya membuat mereka terkejut.


"Bu,....!"


"Untung saja jam makan siang, kalau kalian bergosip di jam kerja. Akan ku pecat kalian!" ancam Vanya.


"Maafkan kami mu,...!" ucap ketiga karyawan tersebut.


Vanya malah membuka dompetnya lalu menyodorkan beberapa lembar uang dengan nominal yang cukup besar.


"Untuk apa uang ini bu?" tanya salah satu karyawan.


"Pergi beli minuman dan pizza, ajak semua karyawan menikmatinya termasuk OB dan OG di kantor ini,"


Mereka bertiga saling pandang tidak percaya.


"Ini serius bu,...?"


"Jika tidak mau, ya udah...!"

__ADS_1


"Eh, iya bu...!"


ketiga karyawan tersebut langsung mengambil uang, mereka mengucapkan terimakasih dan bergegas pergi.


"Sayang,....!"


Leon menghampiri istrinya.


"Apa aku terlihat keren?" tanya Vanya.


"Sangat keren kak!" seru Bagas yang tiba-tiba muncul bersama Dalia.


"Apa sih?"


"Lihatlah, kakak ku hari ini begitu bijaksana. Mentraktir semua karyawan dan memberikan libur setengah hari. Lihat mereka, semuanya mulai sibuk!" ujar Bagas yang merasa senang melihat hiruk pikuk kantor hari ini.


"Diam kau, sana ajak Dalia pergi...!"


"Ajak aku pergi, aku ingin menikmati alam. Naik motor seperti sebelumnya!"


"Ayo gas....!"


Leon langsung menggandeng tangan Vanya, mereka pulang ke rumah untuk berganti pakaian dan kendaraan.


"Kita kemana dong?" tanya Dalia yang merasa iri dengan keharmonisan Leon dan Vanya.


"Jangan mengajak ku naik motor. Aku tidak bisa mengendarainya, kau tahu sendiri saat aku memaksa mengendarai motor malah jatuh!"


"Naik ojek saja yuk....!" Dalia menarik tangan Bagas, mengajak pria itu pergi.

__ADS_1


Di rumah Leon yang nampak sederhana dari luar namun sengat mewah di dalam, Vanya dan Leon sudah bersiap-siap untuk pergi.


Belum juga ada jauh naik motor, Vanya sudah meminta berhenti karena perutnya terasa mual. Wanita ini muntah-muntah di tepi jalan hingga membuat Leon panik.


"Kita ke rumah sakit ya..!"


"Tidak usah. Kita pulang saja,!" tolak Vanya dengan kepala yang terasa berat.


Bergegas Leon memutar arah, menuju arah pulang. Setibanya di halaman rumah, Leon langsung menggendong istrinya masuk ke dalam.


"Sayang, kau ini kenapa? perasaan tadi baik-baik saja!"


Leon bingung sendiri.


"Aku tidak tahu, kepala ku sakit sekali,"


"Duduk sebentar, minum obatnya."


Leon membantu istrinya duduk untuk minum obat.


"Istirahat lah, aku akan menemani mu!"


"Peluk aku,....!" rengek Vanya. Leon dengan senang hati menuruti permintaan istrinya.


Tidak jadi pergi jalan-jalan, Leon hanya menemani istrinya yang saat ini sudah terlelap tidur karena pengaruh obat.


Sementara itu, segala satu bulan berada di rumah sakit jiwa, keadaan Mira semakin bertambah parah. Wanita ini sering ketakutan dan menyebut nama-nama orang yang pernah di sakiti nya.


Lucas memandang iba, ada secuil penyesalan karena sudah membuat Mira seperti ini.

__ADS_1


"Andai saja di masa lalu kau tidak meninggalkan ku, mana mungkin aku akan bersikap seperti ini pada mu. Kita memang tidak pernah menikah, tapi kau sudah menyembunyikan anak itu dari aku. Bagaimana bisa Yoman mau menerima mu yang sudah hamil anak dari laki-laki lain?"


Lucas tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaan. Di akui Lucas jika Mira yang dulu sangat liar. Sampai hari ini, Lucas belum mengizinkan Naura untuk bertemu dengan Mira.


__ADS_2