OB Tampan Pemikat Hati

OB Tampan Pemikat Hati
62.Senyum Dong


__ADS_3

Setibanya di rumah, Leon langsung menenangkan Vanya yang masih emosi. Istri mana pun tidak akan terima jika suaminya di rendahkan orang lain.


Vanya menangis, membuat Leon bingung ingin bersikap seperti apa karena baginya hujatan seperti ini sudah biasa dia terima. Leon memeluk Vanya sambil mengusap perut istrinya.


"Maafkan aku, sejak hidup bersama ku, kau selalu saja mendapatkan hinaan."


"Wajar jika aku marah. Aku tidak terima jika suami ku ini di rendahkan terus menerus!"


"Aku benar-benar minta maaf. Sekarang, kau ingin aku bagaimana?" tanya Leon berusaha membujuk istrinya.


"Aku hanya ingin melihat perempuan itu mendapatkan balasannya. Mulut mereka sudah sangat keterlaluan!" ucap Vanya hanya di iyakan oleh Leon.


"Sudah-sudah, jangan menangis lagi. Kasihan anak kita....!"


"Aku ingin menginap di rumah mami. Aku rindu mami,...!"


"Iya, sekarang kita kembali ke rumah mami ya...!"


Tidak ingin membuat Vanya kecewa, Leon langsung membawa sang istri kembali ke rumah mertuanya meskipun mereka baru tadi pagi pergi ke sana.


Melihat wajah sedih Vanya, ada rasa sakit di hati Leon. Begitu sakitnya kah hati Vanya ketika melihat dan mendengar Leon di rendahkan.

__ADS_1


"Senyum dong,....!" ucap Leon sambil mengusap rambut istrinya.


"Fokus saja mengemudi," ujar Vanya.


"Iya sayang,...!"


Liana tidak merasa curiga ketika melihat anak menantunya kembali. Wanita ini merasa senang apa lagi Vanya bilang akan menginap malam ini.


"Sayang, aku pergi dulu. Tidak apa-apakan jika ku tinggal sebentar?"


"Tidak apa-apa. Pasti pekerjaan mu tadi sore berantakan!"


"Terimakasih sudah mengerti aku," ucap Leon lalu mengecup kening istrinya.


Ternyata, Leon pergi ke salah satu gudang kosong tempat di mana dia pernah menyiksa almarhum Naomi dulu.


"Di mana perempuan itu?" tanya Leon pada dua anak buahnya.


"Ada di dalam bos!"


Leon membuka pintu besi itu dan melihat seorang wanita yang terikat lemas di sudut ruangan.

__ADS_1


"Kau,....!" ujar Leon membuat wanita itu terkejut.


"Lepaskan aku,....!" pinta wanita itu dengan isak tangisnya.


"Untuk apa aku melepaskan mu? kau sudah membuat air mata istri ku tumpah tadi sore!" ujar Leon dengan sorot mata tajam.


"Kalian ternyata manusia jahat!" ucap wanita itu dengan lantang.


Leon tidak terima dan langsung mencekik leher wanita itu.


"Ya, aku memang jahat. Siapa yang sudah jahat pada istri ku akan berurusan dengan ku. Kau harus membayar air mata dan rasa sakit hati istri ku...!"


Set,....set....


Leon tiba-tiba saja menyilet mulut wanita itu. Membuatnya berteriak histeris menahan kesakitan. Dua sayatan sudah cukup membuatnya histeris, bibirnya terbelah mengeluarkan darah.


"Lain kali, jaga mulut mu jika kau tidak ingin mati di tangan ku. Untuk kali ini, aku akan membebaskan mu. Jika sekali lagi kau ikut berkomentar tentang hidup ku, akan ku bunuh kau!" ancam Leon, "jika kau mau lapor polisi, percuma saja. Mereka tidak akan menerima laporan mu. Jadi, sekarang pergi lah....!"


Leon mendorong kasar perempuan yang mulutnya sudah di penuhi dengan darah. Hanya ingin memberi pelajaran, Leon tidak akan membunuh perempuan ini karena Leon sendiri tidak kenal.


Dengan sisa tenaganya, perempuan tersebut berjalan keluar dari gudang tersebut sambil menangis menahan sakit dan perihnya luka di mulutnya.

__ADS_1


Leon tersenyum puas, menatap darah yang mengalir di tangannya. Leon membersihkan darah tersebut setelah itu barulah dia pulang.


__ADS_2