OB Tampan Pemikat Hati

OB Tampan Pemikat Hati
37.Kenapa Memangnya?


__ADS_3

"Siapa nama mu tadi?" tanya Lucas terus menatap wajah Naura yang sangat judes.


"Naura!" jawab gadis itu singkat.


"Dia sangat mirip dengan ku!" batin Lucas yang menyadari, "kenapa Mira memperlakukan mu dengan sangat kasar seperti itu?"


"Memang seperti itu," jawab Naura acuh, "aku mau pergi, membosankan!" ucap gadis itu sambil berdiri.


"Mau kemana kau?" tanya Lucas yang masih ingin menahan Naura.


"Suka-suka aku mau kemana, toh selama ini tidak ada juga yang peduli dengan ku!" jawab Naura langsung keluar dari ruangan Lucas.


Lucas mengikuti Naura keluar, ternyata gadis itu jalannya cepat juga.


"Ikuti dia...!" titah Lucas pada anak buahnya.


"Baik bos!"

__ADS_1


Lucas memasukan kedua tanganya ke saku. Lelaki ini masih tidak percaya jika dirinya memiliki anak dari Mira. Bagaimana bisa jika selama ini Mira menyembunyikan anaknya selama dua puluh tahun.


Mira, baru saja wanita itu tiba di rumah sudah mendapatkan pesan teror dari seseorang yang memintanya untuk menyerahkan diri pada polisi. Mira langsung berteriak histeris, mengamuk dan memecahkan barang. Yoman yang mendengar keributan di luar langsung keluar dari kamarnya.


"Mira, ada apa? tenanglah!" Yoman berusaha menenangkan istrinya.


"Bajingan itu, hampir setiap hari meneror ku. Lama-lama aku bisa gila!" ucap Mira dengan nafas yang terengah-engah.


"Dan kau ini, dari mana saja kau?" tanya Yoman karena pria ini tidak tahu kemana Mira membawa Naura pergi.


"Aku menyerahkan Naura pada Lucas. Naura harus tahu siapa ayah kandungnya. Aku sudah bosan mengurusnya!" jawab Mira malah membuat Yoman langsung memijat kepalanya sakit.


"Kenapa memangnya, toh selama ini kau juga tidak peduli padanya!"


"Aku yakin jika Lucas akan membuat perhitungan pada mu karena kau sudah menyembunyikan kebenarannya selama ini. Mira,...Mira,...bodohnya kau ini...!!"


"Lalu aku harus apa sekarang?" tanya Mira pasrah, "Naomi sudah seperti ini, apa yang harus kita lakukan sekarang?"

__ADS_1


Mira kembali menangis, wanita ini tidak menyangka jika hidupnya sekarang menjadi kacau.


Sementara itu, Vanya merasa sangat bahagia karena Leon berkata ingin menikahinya dalam waktu dekat.


"Mi, apa menikah itu akan membiayai kita bahagia?" tanya Vanya yang takut jika sejarah maminya akan terulang padanya.


"Bahagia jika kita mendapatkan pasangan yang tulus dan bertanggung jawab juga setia. Vanya, jangan pernah takut untuk menikah nak. Apa yang pernah terjadi pada mami di masa lalu itu sudah mami anggap sebagai ujian pendewasaan dalam perjalan hidup mami."


"Apa Leon akan setia pada Vanya mi?"


Liana menepuk pundak anaknya, wanita ini paham betul bagaimana kekhawatiran anak perempuannya ini.


"Biarkan waktu yang akan menjawab. Jangan pernah takut untuk menikah, karena hakikatnya rumah tangga itu tanggung jawab dari kedua belah pihak. Itu semua bagaimana cara kalian dalam berkomitmen, percaya pada mami, Leon bukan seperti papi."


Di balik pilar yang menjulang menopang tingginya rumah Vanya, ada Bagas yang sejak tadi menguping pembicaraan mami dan kakaknya.


Bagas hanya diam, pria ini sadar jika trauma yang di alami kakaknya jauh lebih besar di banding sang mami yang terlihat lebih ikhlas.

__ADS_1


"Kak, mi,...Bagas janji akan menjadi seorang laki-laki yang setia dan bertanggung jawab. Karena Bagas di besarkan oleh dua malaikat bukan di besarkan oleh laki-laki bajingan seperti papi," batin Bagas kemudian pergi tanpa sepengetahuan Vanya dan maminya.


__ADS_2