
Hari ke hari telah berlalu tak terasa bulan juga telah berganti. Usia kandungan Vanya sudah memasuki bulan kedelapan. Wanita ini sudah mulai mengurangi aktifitasnya di luar rumah.
Leon juga lebih ketat lagi menjaga istrinya yang sedang hamil besar. Di tambah lagi sekarang ada Liana yang untuk sementara waktu tinggal bersama Vanya dan Leon. Hanya sesekali Liana pulang untuk melihat keadaan Bagas dan Dalia.
Leon senang Ketika mami mertuanya ikut tinggal bersamanya. Pria ini merasa memiliki seorang ibu apa lagi Liana sangat peduli dan perhatian padanya.
"Kamu gak kerja Leon?" tanya Liana.
"Tidak mi, aku akan memantau dari rumah saja. Kasihan Vanya jika harus di tinggal."
"Sekarang mami merasa sangat bersyukur karena sudah tidak ada lagi orang-orang yang mengusik keluarga kita."
"Mi, kenapa mami tidak menikah saja. Biar ada yang menemani mami di masa tua?" Vanya masih berharap jika maminya ingin membuka hati lagi.
Liana tersenyum, menggenggam tangan anaknya.
"Cukuplah bagi mami melihat kamu dan Bagas bahagia dengan keluarga kalian. Mami tidak pernah merasa kesepian, apa lagi sebentar lagi cucu mami akan lahir."
"Aku benar-benar kagum pada mami....!" ucap Leon.
__ADS_1
Sejak Yoman, Naomi dan Mira meninggal sudah tidak ada lagi yang mengganggu kehidupan Vanya. Tinggallah Naura yang sekarang hidupnya sudah bahagia bersama dengan ibu sambungnya. Vanya juga tidak menyimpan dendam pada Naura karena pada awalnya Naura tidak pernah membuat masalah padanya.
Hari yang cerah secerah senyum Vanya yang sumringah karena hari ini dirinya dan Leon di bantu sang mami akan mendekor kamar calon anak mereka.
Mereka juga kedatangan Bagas dan Dalia yang banyak sekali membawa barang-barang perlengkapan bayi yang masih kurang.
"Aku sangat salut dengan pekerjaan suami mu kak. Dia sangat rapi," puji Bagas berbisik pada kakaknya.
"Dan itu salah satu yang membuat kakak terpikat padanya," sahut Vanya dengan bangganya.
Leon sebenarnya mendengar percakapan antara istri dan adik iparnya itu hanya tersenyum tipis bergeleng kepala.
"Bulan depan, siapkan saja hadiahnya!" jawab Vanya yang sekarang terlihat sangat lembut.
"Suami mu itu kurang goyang. Dia harus banyak belajar dari ku!" celetuk Leon membuat Vanya merasa geli mendengarnya.
"Kurang hebat apa bergoyang kak, Dalia saja bisa ku buat tak bisa berjalan setiap malam!" sahut Bagas lalu kedua pria itu tertawa bersama.
"Dasar tidak tahu malu!" seru Dalia kesal.
__ADS_1
"Biarkan saja mereka, kau akan gila jika menanggapi mereka!" ujar Vanya.
"Kalian ini, ada-ada aja bahasannya!" Liana tertawa sendiri melihat sikap anak dan menantunya.
Hal seperti ini lah yang di harapkan Liana di masa tua. Hidup dengan bahagia menikmati hari-hari bersama dengan anak menantunya dan cucu-cucunya kelak. Tak sekali pun mereka mengingat kebelakang, karena masa lalu cukuplah menjadi kenangan.
Menjelang sore hari, dapur Leon yang biasa sepi mendadak ramai dengan kehadiran Bagas dan Dalia yang ikut membantu Leon memasak untuk makan malam Sedangkan Liana tidak di ijinkan untuk bergabung bersama mereka.
"Kau harus banyak bersyukur sudah memiliki suami seperti Leon. Dia memperlakukan mu layaknya ratu di rumah ini." Liana mengusap lembur rambut Vanya yang sedang berbaring di pangkuannya.
"Entah kenapa sejak aku melihat dia untuk yang pertama kalinya, aku langsung tertarik dengan Leon. Ku pikir dia hanya ingin membalas dendam, tapi ternyata dia memiliki pemikiran yang bijak."
"Vanya, melihat kamu bahagia mami jauh lebih bahagia. Dulu mami sangat takut jika kau trauma dengan yang namanya laki-laki. Jujur saja mami sangat takut."
"Tidak semua laki-laki memiliki sifat yang sama seperti papi. Menikah dengan Leon membuat mata ku terbuka, jika setiap orang memiliki jalannya masing-masing dalam hidup ini."
"Semua tergantung dari cara kita berpikir sayang. Jika ingin di cap sebagai laki-laki baik, maka harus bersikap baik dan begitu juga sebaliknya," sambung Leon yang tiba-tiba muncul dari belakang.
"Eh Leon, sudah selesai nak?" tanya Liana yang sudah tidak sabar menikmati masakan semua anaknya.
__ADS_1
"Sudah mi, ayo kita makan sekarang," ajak Leon lalu pria ini membantu Vanya berjalan menuju meja makan.