
Sejak Vanya memiliki anak, wanita ini menjadi sering menggunggah kebersamaan keluarga kecilnya di media sosial. Vanya ingin menunjukan jika suaminya adalah laki-laki terbaik.
Orang-orang yang biasa merendahkan mereka sekarang malah memuji dan menyanjung Vanya dan Leon. Perlahan namun pasti juga orang-orang mulai tahu siapa Leon sebenarnya yang memiliki banyak cafe dan beberapa restoran.
Tapi, sampai sekarang mereka juga masih bertanya apa alasan Leon yang pernah bekerja sebagai Ob di perusahaan Vanya.
Vanya menyimpan ponselnya sambil tertawa geli mengingat beberapa komentar di akun media sosialnya.
"Kok tertawa sendiri, ada apa?" tanya Leon heran.
"Aku heran aja, sampai sekarang masih aja ada yang tanya tentang kamu."
"Tentang aku,...?" Leon menunjuk dirinya sendiri, "memangnya aku kenapa?"
"Kata mereka, kenapa kamu mau jadi ob sedangkan kamu sendiri memiliki banyak usaha?"
"Udah, gak usah di tanggapi. Biarkan mereka mencari jawabannya sendiri."
"Mami setuju dengan Leon!!"
"Semakin banyak orang tahu Leon orang kaya, semakin banyak perempuan yang mengaguminya. Haisss,...menyebalkan!" ucap Vanya mendadak kesal.
__ADS_1
"Cukup satu, tidak akan ada duanya. Aku bukan tipe laki-laki yang mudah tergoda. Sayang, meski almarhum papah ku pernah selingkuh, tapi tidak dengan aku!" tegas Leon.
"Berani selingkuh, akan ku lempar kau dari atap gedung!" ancam Vanya.
"Mami, anak mami mengancam ku. Aku takut,...!!" Leon mengadu pada mami mertuanya.
"Sudah ah, kalian ini malah seperti anak kecil..."
Setiap hari seperti ini, berkumpul dengan keluarga kecil yang membuat Leon semakin betah berada di rumah. Sejak memiliki anak, Leon semakin bertambah dewasa. Semua keputusan di serahkan pada sang istri bahkan semua uang tabungan yang selama ini di simpan Leon di serahkan pada Vanya hingga membuat wanita ini terkejut.
Leon sendiri hanya memegang beberapa, yang penting cukup untuk kebutuhan usahanya. Melihat keseriusan Leon, Vanya jadi ingat pertama kali mereka bertemu dulu.
"Duh, aku jadi malu sendiri...!" ucap Vanya bergeleng kepala.
"Eh, tidak kenapa-kenapa!" jawab Vanya mendadak gugup.
"Jawab atau.....!!" ancam Leon.
"Anu, itu....aku malu sendiri jika mengingat aku yang menyukai mu duluan."
"Kenapa memangnya, ada yang salah?" tanya Leon, "setiap orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan rasa cinta. Urusan di terima atau tidak, yang penting hati lega sudah mengungkapkan!"
__ADS_1
"Tapi, aku jadi malu sendiri. Gak kebayang para karyawan kemarin menggosipi ku di belakang."
"Kenapa kau jadi kepikiran sekarang, kemarin kemana saja ketika mereka asyik bergosip?"
Ingin rasanya Vanya menguliti wajahnya. Benar apa adanya jika semua karyawan menggosipinya bahkan Vanya pernah mendengarnya sendiri.
"Aku harus apa sekarang?" tanya Vanya sambil menyisir rambutnya.
"Apanya harus apa? sudah ada anak mau bagaimana lagi?"
"Tapi aku malu, aku yang mengejar mu duluan!"
"Beri judul dalam cerita cinta mu, OB tampan pemikat hati. Gitu aja kok repot!"
"Sayang,....!!"
Vanya yang gemas pada suaminya melempar sisir namun tidak kena.
Leon tertawa, pria ini tidak menanggapi istrinya dan lebih memilih pergi ke kamar sang anak yang sekarang sedang di jaga Liana.
"Di mana Vanya?" tanya Liana yang tidak mendapati anaknya.
__ADS_1
"Masih di kamar mi," jawab Leon lalu mengambil alih baby Joe dari gendongan mertuanya.
Mereka bergantian dalam menjaga baby Joe, sekarang Liana bisa beristirahat.