
Sebelum berangkat ke kantor Vanya dan Bagas menyempatkan diri untuk pergi ke rumah sakit tempat di mana sang papi di rawat. Bukan ingin menjadi anak durhaka, namun Vanya hanya ingin membuka mata Yoman jika anak tiri yang selalu di banggakannya tidak lebih baik darinya.
Kreek....
Pintu terbuka, Mira dan Yoman langsung menoleh ke arah pintu. Wajah Naomi langsung melengos seolah tidak menerima kedatangan Vanya dan Bagas.
"Mau apa kalian ke sini?" tanya Naomi dengan ketusnya.
"Hanya ingin menjenguk, kenapa? tidak bolehkah?" Vanya bertanya dengan wajah tak kalah sinisnya.
"Oh yq pi, ini ada bunga. Kami sudah mendengar kabar yang sedang heboh sekarang!" ucap Bagas membuat Mira dan Naomi langsung membuang wajah malu.
"Ku dengar pernikahan ku gagal. Kasihan,...!" Vanya mencibir Naomi.
"Diam kau sialan!" ucap Naomi dengan mengeratkan semua giginya.
"Selamat untuk anda tuan Yoman, anak kebanggaan anda ini ternyata munafik juga," ucap Vanya membuat Yoman emosi.
"Pemain handal!" seru Bagas.
"Pergi kalian....!" usir Yoman.
"Tanpa di minta pun kami akan pergi...!" kata Vanya langsung mengajak Bagas pergi, "oh ya Naomi, ternyata kau dan mamah mu tidak jauh beda ya. Sama-sama perusak rumah tangga orang!" ejek Vanya sebelum menutup pintu.
Naomi tidak terima, wanita ini hendak mengejar Vanya namun sang mamah menahannya.
__ADS_1
"Lihat, lihat pi. Anak papi itu sudah menghina ku, aku tidak terima!" Naomi mengadu.
"Diam kau!" Bentak Yoman, "keluar sana, aku mau istirahat!" usir Yoman.
"Sudah, jangan teriak-teriak lagi," Mira menenangkan suaminya.
Naomi pergi dari rumah sakit, namun baru saja wanita ini keluar dari area rumah sakit seseorang langsung membekap dan menyeret Naomi masuk kedalam mobil. Tidak ada yang melihat kejadian tersebut karena terlalu cepat.
Berbeda lagi dengan Leon yang sejak pagi sudah menunggu kedatangan Vanya ke kantor. Leon sudah bertanya pada Dalia namun wanita itu tidak tahu karena Vanya dan Bagas tidak ada yang memberitahunya.
"Nah, itu mereka!" ujar Dalia menunjuk ke arah lift yang baru saja terbuka.
"Dari mana saja? kenapa baru datang jam segini?" tanya Leon yang khawatir pada Vanya.
"Aku dari rumah sakit!" jawab Vanya.
"Tidak ada, hanya sekedar ingin memberi ucapan selamat pada keluarga Naomi saja!" jawab Vanya yang tidak mau menyebut nama papinya.
Leon dan Dalia langsung paham apa yang di maksud Vanya.
"Udah ah, aku mau ke ruangan ku!" kata Bagas.
"Terus, kenapa kau ikut ke sini?" tanya Dalia heran.
"Hanya memastikan jika kakak kesayangan ku ini sampai di ruangannya dengan selamat saja!" jawab Bagas begitu santainya.
__ADS_1
Kembali pada pekerjaan masing-masing, sebenarnya Leon cukup bosan karena semua pekerjaannya sudah selesai. Jadi lah pria ini hanya duduk di ruangan Vanya sambil memainkan ponselnya.
"Tidak ada niatan membantu ku kah?" tanya Vanya membuat Leon langsung meletakkan ponselnya.
"Membantu apa?"
"Aku pusing dengan semua data ini, bisakah membantu ku?"
"Berani bayar berapa?" tanya Leon.
"Leon,....!" Vanya gemas sendiri.
"Ya kan aku cuma seorang OB. Biasanya kalau ada pekerjaan tambahan pasti akan ada uang tambahan juga!"
"Heeemmm,....iya....iya....!" seru Vanya, "sebenarnya pekerjaan ini tidak terlalu sulit. Cuma, pikiran ku sedang tidak fokus saja!"
"Kenapa?" tanya Leon penasaran.
"Kau duduk di sana sejak tadi, aku jadi tidak fokus!"
"Apa hubungannya?"
"Kau terlalu tampan untuk ku lihat!" jawab Vanya tanpa malu-malu lagi.
"Aku memang tampan, jika tidak tampan mana mungkin kau bisa jatuh hati pada ku!" ucap Leon dengan bangganya.
__ADS_1
"Haiiis,...dia ini...!"
"Kenapa lagi, mau cium kah?" goda Leon langsung membuat Vanya kembali menatap layar komputernya. Leon tertawa renyah, pria ini kembali memainkan ponselnya sedangkan Vanya kembali melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit.