OB Tampan Pemikat Hati

OB Tampan Pemikat Hati
53.Gas Terus


__ADS_3

Kembali ke rutinitas seperti biasa, kehidupan rumah tangga Vanya dan Leon sangat bahagia. Namun tidak dengan keadaan Mira yang semakin memprihatinkan.


Mira depresi, sejak kematian Yoman dan Naomi wanita ini mengalami gangguan kejiwaan. Entah kenapa Mira sering berteriak ketakutan,membuat pihak kepolisian memutuskan untuk memindahkan Mira ke rumah sakit jiwa.


"Bagaimana dengan perasaan mu sekarang Leon?" tanya Lucas yang berdiri di samping Leon sambil menatap Mira dari dinding kaca karena Mira sekarang di kurung dalam sebuah ruangan.


"Aku sudah lega, setidaknya di hati ku sudah tidak ada lagi rasa ingin membalas dendam!" jawab Leon dengan wajah serius.


"Mira memang ibu kandung Naura, tapi aku tidak akan menginginkan mereka untuk bertemu. Ini adalah hukuman untuk perempuan jahat seperti Mira!"


"Uncle benar, hukuman ini sebenarnya tidak sebanding dengan rasa sakit yang sudah dia ciptakan untuk orang lain."


"Lalu, bagaimana dengan perusahaan milik Yoman? apa kau jadi menjualnya pada ku?"


"Ya, meskipun itu milik almarhum papah, tapi aku tidak mau mengurusnya."


"Pendidikan mu sangat tinggi, uncle yakin jika kau punya jalan sendiri untuk menentukan masa depan mu. Leon, pesan uncle hanya satu, jangan sakiti istri mu seperti papah mu menyakiti mamah mu. Perempuan itu untuk di jaga dan di lindungi, bukan untuk di lukai...!"

__ADS_1


Lucas memberi nasehat pada Leon, sebenarnya Leon juga mengerti tindakan apa yang harus dia lakukan, namun pria ini lebih memilih untuk terlihat bodoh.


"Maaf uncle, aku harus pergi. Vanya sudah menunggu ku untuk di jemput," ucap Leon sambil melirik jam yang melingkar di tangannya.


Leon kemudian pergi menjemput sang istri yang sedang bekerja. Masih tetap sama sebelum menikah, masih ada segelintir orang yang memandang rendah Leon yang. Menganggap dirinya hanya menumpang hidup pada Vanya.


"Kita mampir ke rumah mami ya. Mami masak banyak hari ini katanya," ujar Vanya mengajak istrinya.


"Asyik, makan enak lagi...!" seru Leon.


"Masakan ku juga enak. Kenapa kau hanya memuji masakan mami?" protes Vanya.


Vanya mengerti, di banding dirinya Leon adalah orang yang tidak pernah merasakan hangatnya sebuah keluarga.


Sebagai menantu pertama kesayangan, seminggu empat kali Liana mengirim makanan untuk menantunya ini. Apa lagi masakan Liana cocok di lidah menantunya.


"Sayang, kamu mandi dulu. Aku akan pergi ke dapur melihat mami...!" ujar Vanya yang baru saja memasuki kamarnya.

__ADS_1


"Em, cepat kembali ya sayang!"


Vanya hanya mengiyakan, wanita ini kemudian pergi ke dapur sedangkan Leon hanya berdiri di pintu kamar memandang punggung istrinya.


"Aku heran, mantra apa yang di berikan perempuan itu sehingga membuat pak Yoman bisa meninggalkan keluarga yang hangat ini?"


Leon bergeleng kepala, tidak mengerti dengan jalan pikiran orang-orang yang haus akan kepuasan ego.


Makan malam yang menyenangkan, Liana sangat bahagia melihat anak menantunya makan dengan lahap seperti ini.


"Bagas, kapan kau akan menikah?" Leon bertanya pada adik iparnya.


"Nanti kak, setelah kalian memiliki anak!" jawab Bagas dengan santainya.


"Hih, kau ini....!!" Vanya cemberut.


"Ayo dong, gas terus. Mami pengen momong cucu nih....!" ujar Liana membuat Vanya malu.

__ADS_1


"Ini juga udah di gas dengan kecepatan tinggi mi. Mami tenang aja, Leon akan bekerja dengan keras!"


Vanya mencubit lengan suaminya, wajahnya terasa tebal mendengar ucapan tersebut. Leon tidak peduli, pria ini semakin suka menggoda Vanya setelah menikah.


__ADS_2