OB Tampan Pemikat Hati

OB Tampan Pemikat Hati
22.Diam Kau!


__ADS_3

Menjelang makan siang, Leon mengajak Vanya makan di salah satu restoran yang terkenal memiliki pengunjung sangat ramai. Untung saja Leon dan Vanya datang lebih cepat jadi mereka bisa mendapatkan meja kosong.


Sudah memesan makanan, Leon dan Vanya masih harus menunggu sebentar.


"Setelah ini kita kemana?" tanya Leon yang bingung mau pergi kemana lagi.


"Terserah aja deh mau kemana!" jawab Vanya membuat Leon semakin bingung.


"Kita pergi pantai saja, pulangnya nanti sore. Lihat sunset...!" kata Leon langsung di setujui oleh Vanya.


"Aku sudah lama tidak melihat matahari tenggelam di pantai. Setelah makan siang kita langsung pergi ya....!"


"Vanya.....!" panggil suara berat yang sangat di kenali Vanya, "papi gak suka lihat kamu berhubungan dengan lelaki ini. Heh, kamu....jauhi anak ku!" sentak Yoman yang tiba-tiba muncul di hadapan Vanya dan Leon.


Vanya langsung menghembuskan nafas kesal. "Memangnya apa urusannya dengan anda?" tanya Vanya dengan santainya.

__ADS_1


"Kamu kalau cari pasangan itu yang berpendidikan dan bibit, bobotnya yang jelas. Papi gak suka lihat kamu sama pegawai ini, dia hanya memanfaatkan kamu saja!"


"Maaf om, saya tidak pernah memanfaatkan anak om!" Leon buka suara.


"Halah jangan percaya pi, dia ini selalu mengekor di belakang Vanya. Ini restoran loh pi, mana mungkin seorang OB mampu membayar makanan di tempat seperti ini," Naomi mencoba mengompori.


"Diam kau Naomi...!" sentak Vanya.


"Vanya, buka mata mu. Mamah juga tidak setuju kau bersama lelaki ini. Sepertinya dia bukan laki-laki baik!" Mira ikut mengompori.


Vanya berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada. "Sebenarnya kalian ini ada masalah hidup apa sih? terutama kau Naomi, perasaan kau sangat suka mengganggu ku!"


"Lihat Naomi, dia akan segera menikah dengan laki-laki baik-baik. Berpendidikan, anak orang kaya dan tidak seperti dia...!" cibir Mira.


Leon yang duduk santai hanya bisa tersenyum santai, melirik lelaki yang berdiri di samping Naomi.

__ADS_1


"Lelaki yang berbeda!" batin Leon yang masih tetap diam.


"Tidak ada urusannya dengan kalian. Leon pilihan ku, aku tidak pernah mempermasalahkan latarbelakang pendidikannya. Yang ku butuhkan hanya lelaki yang bertanggung jawab dan tentunya tidak mudah tergoda perempuan lain!" sahut Vanya benar-benar kesal.


"Dengar papi Vanya, papi tidak akan pernah merestui kau dan lelaki ini. Dia bukan laki-laki baik!" ujar Yoman malah membuat Vanya tertawa.


"Lalu, katakan pada ku seperti apakah lelaki baik itu? apakah seperti anda? lelaki baik yang tega meninggalkan anak dan istrinya demi perempuan lain dan lebih memilih membesarkan dan membahagiakan anak dari orang lain sedang anak kandungnya sendiri menderita?"


Jleeb....


Yoman mati ucap, wajah tebalnya seakan di lempar kotoran oleh anaknya sendiri.


"Heh perempuan perusak rumah tangga orang. Kalau mau ceramah, tolong bercermin dulu!" cibir Vanya lalu menarik tangan Leon mengajaknya pergi.


"Pi, lelaki itu sudah menghasut Vanya. Ini tidak bisa di biarkan!" Naomi semakin mengompori.

__ADS_1


"Diam kau!" sentak Yoman pergi begitu saja karena malu menjadi tontonan orang banyak.


Sepanjang perjalanan Vanya terus mengumpat kesal. Leon hanya bisa menyuruh Vanya untuk bersabar. Perut yang lapar seketika hilang di buat Naomi dan papinya.


__ADS_2