OB Tampan Pemikat Hati

OB Tampan Pemikat Hati
42.Saya Mengerti


__ADS_3

Liana kembali percaya pada Leon setelah pria itu menceritakan apa yang sudah terjadi sebenarnya. Berulang kali Leon menyakinkan keluarga kecil itu. Liana juga dapat melihat sorot mata tulus Leon pada Vanya. Satu harapan Liana, Leon tidak akan pernah menyakiti anaknya, cukuplah dirinya di masa lalu yang mengalami kelukaan.


"Mami tidak peduli, minggu depan kalian sudah harus menikah. Leon, kau pasti paham maksud tante bukan?" desak Liana.


"Besok, Leon dan Vanya akan mendaftarkan pernikahan kami...!" ucap Leon malah membuat Vanya berdebar.


"Kak kenapa?" tanya Bagas mencubit lengan kakaknya.


"Duh, kalau kakak menikah minggu depan. Itu artinya kakak bukan anak gadis lagi dong!"


"Ya, karena kegadisan mu akan ku ambil...!" bisik Leon tertawa.


"Bisik-bisik apa ini?" tanya Liana curiga.


"Gak ada tante, Vanya bilang minta cincin berlian!" bohong Leon.


"Eh, gak ada mi...!" sanggah Vanya.


"Yang sederhana saja, yang penting kalian sah. Mami bosan melihat kalian wira wiri berdua tanpa ikatan!"


"Si Vanya tante, kalau gak di ajak keluar pasti ngambek!" adu Leon mulai berani.


"Leon, apa sih?"


"Benar mi, kakak pasti akan marah jika kak Leon gak ada kabar satu menit!" Bagas malah membela Leon membuat Vanya semakin tersudut. Dari sini Liana bisa melihat jika selama ini anak perempuannya ini lah yang mengejar Leon terlebih dahulu.

__ADS_1


Keluarga kecil Vanya sedang berbahagia atas rencana pernikahan beda lagi dengan Yoman yang sekarang sedang sekarat di rumah sakit sedangkan Mira sudah babak belur di hajar oleh para napi perempuan lainnya atas perintah Lucas.


Leon tidak tahu jika Lucas akan ikut campur dalam masalah ini. Mereka berdua memiliki dendam pribadi masing-masing.


Naomi hanya bisa menangis tanpa suara ketika supirnya mengantarkan ke kantor polisi. Melihat wajah sang mamah yang sudah babak belur tak berdaya, wanita ini hanya bisa menangis ketakutan. Tidak bisa berbuat apa-apa, ingin bicara pun Naomi sudah tidak bisa.


Keesokan harinya, seisi kantor di buat terkejut ketika mendengar kabar jika Leon dan Vanya akan segera menikah. Semua karyawan tidak pernah menyangka jika Vanya benar-benar akan menikah dengan lelaki biasa bahkan seorang karyawan yang tidak memiliki pangkat apa pun di kantor.


Leon hanya tersenyum mendengar pertanyaan yang di lontar kan dari beberapa karyawan. Setidaknya para karyawan perempuan harus berterimakasih pada Leon karena sejak kehadiran Leon di kantor ini Vanya mulai menerima lowongan pekerjaan untuk laki-laki.


"Kita kapan nikah?" tanya Dalia dengan wajah cemberut.


"Setelah kakak ku memiliki anak. Aku akan menikahi mu!" jawab Bagas.


Dalia mendengus kesal, Leon dan Vanya hanya tertawa. Sejak sang papi di rawat di rumah sakit, Vanya dan Bagas tidak berniat menjenguk Yoman. Bukannya apa, rasa sakit di hati mereka sudah terlalu dalam. Vanya juga tidak berniat memberitahu Yoman jika dirinya akan segera menikah dengan Leon.


"Urusan apa?" tanya Vanya penasaran.


"Masalah hukum mereka!" jawab Leon, Vanya pun mengerti.


Leon kemudian keluar dari ruangan Vanya, berganti pakaian kemudian pergi. Leon pergi ke rumah Yoman, membuat Naomi syok dan trauma melihat wajah Leon.


"Sebenarnya, apa yang selama ini kalian nikmati adalah milik keluarga ku. Mamah mu adalah perampok halus. jadi, menurut mu apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Ingin sekali Naomi melawan, namun wanita ini tidak bisa mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


"Ku harap kau bisa keluar dari rumah ini dengan senang hati. Rumah ini dan perusahaan yang di kelola papi mu itu adalah milik keluarga ku. Bahkan, nyawa mu sekali pun tidak akan bisa membayarnya!"


Leon tertawa ketika melihat ekspresi wajah Naomi.


"Aku tidak akan mengiba pada mu. Kau selalu merendahkan ku dan merendahkan Vanya. Anggap saja ini karma mu!" ucap Leon lagi semakin membuat Naomi ketakutan.


Leon kemudian memerintah dua orang pria masuk untuk menyeret Naomi keluar dari rumah ini. Para pembantu dan penjaga rumah tidak ada yang berani membela Naomi.


"Maaf tuan, bagaimana dengan kami?" seorang pembantu memberanikan diri untuk bertanya.


"Aku yang akan menggaji kalian. Buang semua barang-barang milik Naomi, Mira dan Yoman!" titah Leon kemudian pergi.


Lelaki ini pergi ke kantor polisi, betapa syoknya Leon ketika melihat keadaan Mira sekarang.


"Maaf pak, siapa yang sudah melakukannya?" tanya Leon penasaran.


"Tuan Lucas. Anda pasti kenal!" jawab sipir.


Leon mengangguk paham.


"Pak Jhoni, tuntut mereka dengan hukuman paling berat asal jangan hukuman mati. Aku ingin melihat mereka menderita saja!" perintah Leon pada pengacaranya.


"Baik pak!"


"Jangan buat Yoman mati, aku hanya ingin dia merasakan sakitnya di acuhkan oleh anak-anaknya."

__ADS_1


"Saya mengerti...!"


Leon tidak ingin membunuh mereka semua, cukuplah mereka menderita di dalam penjara itu sudah lebih dari cukup. Jika di bunuh, Leon tidak akan pernah merasakan kepuasan atas penderitaannya semasa dulu kehilangan keluarga.


__ADS_2