OB Tampan Pemikat Hati

OB Tampan Pemikat Hati
63.Titip Salam


__ADS_3

Akhir bulan yang di tunggu, acara pernikahan Bagas dan Dalia. Akhirnya Dalia bisa bernafas lega ketika dirinya sekarang sudah sah menjadi istri dari Bagas.


Pesta malam ini sangat meriah, semua orang berbahagia apa lagi Liana. Meskipun hatinya perih, bagaimana tidak perih, pernikahan kedua anaknya sama sekali tanpa kehadiran sang papi.


Liana memandang Bagas dan Dalia lalu memandang berganti ke arah Vanya dan Leon yang sedang asyik bercanda.


Liana memandang ke atas, seperti menahan air mata yang hendak jatuh.


"Yoman, lihatlah. Tanpa kau aku bisa membawa kedua anak ku sampai ke tahap ini. Bagaimana, apa kau menyesal sekarang?"


Senyumnya tipis, sebagai seorang ibu sudah sampai waktunya Liana untuk beristirahat sambil menunggu kelahiran cucu pertamanya.


"Mami,....!" Vanya mengejutkan Liana, "mami kenapa?"


"Tidak, mami tidak kenapa-kenapa. Ada apa sayang?"


"Aku lelah, aku akan kembali ke kamar."


"Istirahat lah nak, kau pasti sangat lelah. Leon, ajak istri mu ke kamar,"

__ADS_1


"Iya mi,...!"


Leon menuntun Vanya menuju pintu keluar, sesekali masih terdengar jelas beberapa tamu yang menggunjing dan merendahkan dirinya. Acuh, Leon acuh dan tidak peduli.


Leon sendiri tidak akan membalas perbuatan mereka jika mereka tidak menyentuh istrinya.


Leon melepas heels istrinya lalu mengambil air hangat untuk merendam kaki Vanya. Sikap seperti ini lah yang membuat Vanya semakin terpikat pada Leon.


"Aku sudah menyiapkan pakaian mu. Sebentar, aku akan memijat kaki mu dulu," ujar Leon tanpa merasa rendah berjongkok di lantai dan memijat kaki Vanya.


"Orang-orang hanya berkomentar buruk pada mu. Tapi, jika mereka melihat bagaimana perlakuan mu pada ku, mereka akan merasa sangat iri."


Vanya mengusap wajah suaminya, di perlakukan layaknya ratu adalah impian semua wanita termasuk Vanya yang sudah mendapatkannya.


"Uang bisa di cari. Tapi, pasangan seperti mu ini sangat susah. Leon, aku mencintai mu!"


"Aku juga mencintai mu!" balas Leon lalu mengecup bibir istrinya.


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Leon dan Vanya langsung beristirahat. Namanya juga ibu hamil, Vanya akan tidur jika suaminya mengusap perutnya.

__ADS_1


Malam telah berganti pagi, Leon terkejut ketika mendapatkan kabar dari Lucas jika Mira meninggal dunia. Bukan hanya Leon, sang istri juga sangat terkejut. Vanya langsung memberitahu maminya. Di pagi yang penuh bahagia atas pernikahan Bagas dan Dalia ternyata ada duka di sana.


"Aku akan menghadiri acara pemakamannya. Sayang, tidak apa-apakan jika kau di temani Dalia dulu?"


"Aku baik-baik saja. Titip salam untuk Naura!" kata Vanya.


Leon pergi bersama mertuanya, pada awalnya Vanya melarang sang mami untuk menghadiri acara pemakaman namun Liana kekeh ingin melihat wanita yang sudah menghancurkan keluarganya untuk yang terakhir kalinya.


Melihat kematian Mira, entah kenapa ada beban yang lepas begitu saja dalam dada Liana. Meskipun Mira masih meninggalkan satu anak perempuan.


"Tante turut berbela sungkawa ya Naura," ucap Liana terus memandang wajah Naura yang tidak menunjukkan raut kesedihan.


"Terimakasih tante. Atas nama mamah, Naura ingin meminta maaf," ucap Naura lalu membukukan tubuhnya memberi hormat pada Liana.


"Istri ku titip salam pada mu. Maaf jika dia tidak bisa datang," timpal Leon.


Naura tersenyum, "terimakasih kak. Aku mengerti jika sekarang kak Vanya sedang hamil. Semoga tetap sehat dan lancar sampai melahirkan."


"Anak ini sangat berbeda dari Mira dan Naomi, mungkin saja sifatnya menurun dari pria ini," batin Liana.

__ADS_1


Sampai acara selesai, Leon dan Liana ada di sana. Setelah semua orang bubar barulah mereka pulang.


__ADS_2