OB Tampan Pemikat Hati

OB Tampan Pemikat Hati
45.Kami Berjanji


__ADS_3

Untuk beberapa minggu ke depan, Bagas lah yang menggantikan posisi sang kakak di kantor karena Vanya akan sibuk dengan pernikahannya.


Vanya menekuk wajahnya, wanita ini terus cemberut karena selama ini Leon sudah berhasil membohonginya.


Leon baru saja berkata jujur jika cafe yang selama ini tempat dirinya mengais rezeki adalah miliknya pribadi yang di bangun atas bantuan Lucas di saat Leon masih sekolah menengah ke atas dulu.


"Maaf, aku sudah membohongi mu," Leon berusaha membujuk Vanya.


"Aku sebenarnya sudah curiga, dari kau yang bebas keluar masuk bekerja dan bisa membayar semua jika sedang pergi berdua. Kenapa kau membohongi ku hah?"


"Ya biar aku terlihat lebih tampan, begitu maksud ku."


"Laki-laki tampan juga akan hilang ketampanannya jika dia sudah membohongi pasangannya. Dasar menyebalkan, aku marah pada mu!"


"Jadi, sekarang kau maunya apa? apa mau membatalkan pernikahan ini?"


Semakin melotot mata Vanya, tanpa aba-aba lagi wanita ini mencubit dan mempelintir perut Leon.


"Orang-orang sudah menganggap ku gila karena mengejar mu dan sekarang kau membatalkan pernikahan ini. Leon,....apa kau sudah gila?"


"Ampun,...aku hanya bercanda sayang ku!" Leon memohon.


"Leon aku marah pada mu,...hiks...hiks..." Vanya tiba-tiba bersandar di dada bidang Leon.

__ADS_1


Leon tertawa kecil lalu berkata. "Bilang saja kau ingin bersandar di dada ku!"


Buk...


Vanya memukul dada Leon.


"Kenapa sekarang kau suka menggoda ku hah?"


"Aku akan lebih menggoda mu nanti," ucap Leon membuat Vanya bingung.


"Nanti,? kapan?"


"Setelah kita resmi menikah. Lihat saja, aku akan lebih menggoda mu!" bisik Leon. Meskipun belum pernah menikah, tentu saja Vanya paham. Mereka sama-sama orang dewasa.


"Biarkan saja!" seru Leon mencium pipi Vanya kemudian pergi.


Vanya langsung merona malu, wanita ini mengusap pipinya.


"Ingin lagi,...!" batin Vanya penuh harap.


Hari telah berganti, tidak terasa pernikahan Vanya dan Leon tersisa waktu satu hari lagi. Sesekali Vanya mengusap dadanya, ada debaran yang tidak bisa Vanya jelaskan.


"Vanya, mami ingin bicara nak!"

__ADS_1


"Vanya sudah tahu apa yang ingin mami bicarakan. Jika mami meminta Vanya untuk datang meminta restu pada dia. Maaf mi, Vanya tidak bisa!"


"Tapi di papi mu nak, setidaknya berikan kabar atas hari bahagia mu ini."


Vanya menarik nafas dalam, menatap wajah sang mami.


"Baiklah, Vanya pergi sekarang!"


Vanya mengalah, wanita ini tidak ingin berdebat lagi. Bersama Bagas, Vanya pergi ke kantor polisi untuk sekedar memberitahu Yoman atas pernikahan Vanya dan Leon.


Bukannya berubah dan menjadi lebih baik. Justru kata-kata Leon sangat menyakiti Vanya.


"Aku tidak peduli jika kau ingin menikah dengan siapa pun termasuk laki-laki bajingan itu. Dia sudah membuat hidup ku hancur seperti ini. Semoga saja pernikahan kalian tidak akan pernah bahagia!" ucap Yoman benar-benar menambah kebencian di hati Vanya.


"Jika bukan karena permintaan mami. Tidak mungkin aku datang kesini. Anda benar-benar orangtua yang tidak tahu diri," balas Vanya yang sudah sangat sakit hati.


"Papi seharusnya bisa berubah, kenapa selalu menyakiti hati kami sebagai anak-anak?" Bagas juga ikut kecewa.


"Pergi kalian dari sini...!" Yoman malah mengusir kedua anaknya.


Vanya dan Bagas tidak mau membuang waktu lagi, kakak beradik ini langsung beranjak dari duduknya.


"Kami berjanji, tidak akan pernah menampakan diri di hadapan anda lagi.Anggap saja kami sudah mati...!" ucap Vanya kemudian mengajak adiknya pergi.

__ADS_1


Tidak ada air mata kesedihan, yang ada hanya air mata kekecewaan. Sebagai seorang anak yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah, Vanya betul-betul merasa kecewa dengan sikap Yoman yang sangat keras kepala dan egois.


__ADS_2