
Pada akhirnya Leon dan Vanya memutuskan untuk makan di pantai. Keduanya tidak terlihat malu sama sekali saling lahap menyantap makanan karena pasangan ini sudah benar-benar kelaparan.
Selesai makan, Vanya mengajak Leon duduk di bawah pohon kepala yang berada tepat di pinggir pantai. Angin berhembus sangat kencang, membuat rambut panjang Vanya melambai kemana-mana.
Leon menarik Vanya hingga membuat wajah mereka dekat tanpa celah. Vanya gugup, apa lagi mata Leon sangat tajam melihatnya. Wajah Leon perlahan maju ke depan, membuat Vanya tanpa sadar menarik kepalanya kebelakang.
"Leon, mau apa kau?" tanya Vanya benar-benar gugup.
sat...set.....sat...set....
Ternyata Leon hanya mengikat rambut Vanya setelah itu kembali pada posisi semula. Duduk di samping Vanya. Pada saat itu, Vanya langsung menghembuskan nafas lega.
"Kenapa kau sangat tegang?" tanya Leon.
"Eh,...anu,...tidak apa-apa!" jawab Vanya semakin gugup, "ku pikir mau mencium ku!" batin Vanya lagi.
"Jangan berpikir jika aku akan mencium mu tadi?" tebak Leon membuat Vanya langsung merona malu.
"T-tidak, enak aja!" kilah Vanya malah membuat Leon tertawa.
__ADS_1
"Sayang ku, wajah mu itu kalau bohong langsung merah. Bilang saja kau tadi berharap aku mencium mu!" Leon semakin menggoda Vanya.
"Leonnn.....!" Vanya mencubit lengan pria itu.
Kembali menikmati suasana pantai yang indah, Vanya memberanikan diri untuk bersandar pada pundak Leon. Pundak seorang lelaki yang sangat Vanya rindukan, benar-benar kokoh dan nyaman hingga membuat wanita ini hanyut dalam kedamaian.
"Sudah lama rasanya aku tidak seperti ini. Aku rindu bersandar pada pundak seorang pria," ucap Vanya sambil menatap indahnya gelombang laut yang menari-nari.
"Kau bebas bersandar di pundak ku. Jangan ragu untuk mengungkapkan perasaan mu," sahut Leon sambil mengusap pucuk kepala Vanya.
"Aku punya seorang laki-laki yang seharusnya bisa aku banggakan. Pundak ayah yang seharusnya bisa menjadi tempat ku berpulang dan mengadu namun nyatanya semua itu hanya sebuah ilusi."
"Jangan di pikirkan. Lupakan mereka yang sudah menyakiti mu, nanti juga akan mendapatkan balasannya sendiri," kata Leon yang ternyata tangan kanannya sibuk mengotak atik ponselnya.
Aku bingung mau jawab apa!" seru Leon.
"Kenapa?"
"Ya bingung aja, apa aku harus menyelam dulu nyari putri duyung?"
__ADS_1
"Jangan, nanti kalau kamu ketemu putri duyung malah gak pulang dan nikah sama dia,"
"Lagian, pertanyaan mu ini ada-ada aja!"
Kembali hening sembari menikmati angin yang berbisik dan riuh gelombang yang berirama. Vanya dan Leon saling bersandar terpejam menikmati kebersamaan mereka.
Sementara itu, di kediaman Yoman sedang terjadi pertengkaran hebat. Untuk pertama kalinya Yoman menampar wajah Naomi di depan sang calon suami.
Naomi berlutut di bawah kaki calon suaminya, meminta maaf namun tidak mau mengakui jika rekaman tak senonoh yang sekarang sedang hangat beredar itu adalah dirinya.
Sedang Mira terus membela anaknya dan tidak percaya jika itu adalah Naomi.
"Maaf om, tante. Aku tidak bisa meneruskan pertunangan ini. Aku malu punya calon istri yang binal dan suka tidur dengan suami orang!" ucap Darius calon suami Naomi.
"Darius, ini bukan Naomi. Ini hanya fitnah, pasti sudah ada seseorang yang berusaha merusak hubungan kalian!" Mira masih mencoba membela anaknya.
"Mamah benar, ini bukan aku. Kalian jangan percaya!" ucap Naomi dengan isak tangisnya.
"Kau sudah membuat malu keluarga kita Naomi. Bagaimana bisa kau tega melakukan hal menjijikan seperti ini hah?" Yoman marah besar.
__ADS_1
"Aku memutuskan untuk tidak jadi menikah dengan Naomi. Apa kata keluarga ku nanti,....!" Darius beranjak pergi dari rumah kediaman Yoman. Naomi berusaha mengejar Darius namun langkahnya langsung mundur ketika melihat istri dari kekasihnya datang melabrak Naomi.
Keributan tidak bisa di hindarkan lagi, wanita tersebut terus menghajar Naomi di bantu dua orang temannya. Tekanan darah Yoman langsung naik hingga membuat dirinya tumbang. Mira tidak bisa membantu Naomi, wanita ini harus secepatnya membawa Yoman ke rumah sakit.