OB Tampan Pemikat Hati

OB Tampan Pemikat Hati
44.Kenapa Tersenyum?


__ADS_3

Mira dan Yoman kembali di seret kedalam penjara, dengan segala kekuatan uang yang di miliki Lucas, pria ini dengan mudahnya membayar orang untuk menyiksa Mira dan Yoman.


Leon tidak usah turun tangan terlalu jauh, cukuplah mengirim kedua manusia itu kedalam penjara dan sisanya akan di lakukan oleh Lucas.


Sementara itu, Naura sekarang sudah memiliki kehidupan yang jauh lebih baik di banding dulu. Lucas memberinya semua fasilitas yang tidak bisa di dapatkan Naura sebelumnya. Gadis ini merasa sangat bersyukur masih memiliki seorang ayah yang baik mau menerima dirinya.


"Pak, berhenti....!" pinta Naura. Mobil berhenti, Naura keluar dan menghampiri Naomi yang duduk seperti gelandangan di pinggir jalan.


Naomi memandang Naura dari atas sampai ke bawah. Wanita ini sangat terkejut melihat adiknya ini apa lagi Naura baru saja keluar dari mobil mewah dan juga semua barang yang di pakai Naura bisa di tebak Naomi jika itu mahal.


"Ternyata sekarang kau sudah menjadi gelandang. Sungguh, aku tidak pernah percaya jika akhir hidup mu akan sangat menyedihkan seperti ini. Kita memang satu ibu, di lahirkan dari rahim yang sama. Tapi, kau lebih mendapatkan segalanya di banding diri ku. Jadi, maafkan aku jika sekarang aku tidak bisa membantu mu!" tutur Naura yang sepertinya memiliki dendam mendalam.


"Dulu, kau selalu mengejek dan mengatakan jika aku adalah anak haram. Lihatlah, anak haram yang sekarang ini jauh lebih bahagia hidupnya di banding dirimu!" cibir Naura kemudian kembali masuk kedalam mobilnya.

__ADS_1


Naomi berusaha mengejar, dengan langkah lemah tak berdaya. Tanganya tak bisa menggapai, suaranya juga tak mampu keluar. Naomi hanya bisa menangis dan menyesali apa yang sudah dia perbuat selama ini.


Naura pergi ke penjara, gadis ini hanya sekedar penasaran pada orang yang sudah membuangnya ini. Sedikit terkejut ketika Naura melihat wajah dan tubuh mamahnya yang babak belur.


"Semenderitanya kah anda di tempat ini?" Naura menatap dengan miris.


"Naura,...nak,...!" Mira hendak memeluk Naura namun gadis itu langsung mendorong tubuh Mira.


"Jangan sentuh aku. Kau bukan ibu ku, tapi aku sangat berterimakasih karena kau sudah bersedia melahirkan ku."


"Dalam situasi seperti ini saja anda masih membedakan aku dan anak kesayangan mu. Asal anda tahu, anak kesayangan anda itu sekarang sudah menjadi gelandangan!"


Mata Mira terbelalak, bersimpuh di bawah kaki anaknya.

__ADS_1


"Mamah mohon, tolong rawat kakak mu. Dia kakak mu Naura!"


"Dia bukan kakak ku!" tegas Naura, "kami memang di lahirkan dari rahim yang sama tapi tidak dengan hati yang sama. Apa kalian lupa bagaimana perlakuan kalian selama ini pada ku? aku anak haram, hidup di jalanan seorang diri dan kau hanya memanjakan dia. Jadi, jangan memaksa ku untuk bersikap baik sekarang!"


Naura menepis Mira, kemudian gadis itu pergi begitu saja. Mira berusaha mengejar Naura namun tidak bisa.


Leon yang mendapatkan kabar dari salah seorang polisi mengenai keadaan Mira langsung tersenyum puas.


"Kenapa tersenyum?" tanya Vanya mengejutkan Leon.


"Apa kau tahu jika orang yang pernah menyakiti kita sekarang sedang menderita?"


"Aku tidak mau tahu, sekarang hidup ku hanya akan terfokus pada kebahagiaan diriku dan keluarga ku. Itu saja!"

__ADS_1


"Apa kau tidak berniat menjenguk papi mu di penjara?"


"Tidak, dia hanyalah penggalan cerita masa lalu yang tidak bisa di lupakan namun bisa di ambil pelajaran," sekali lagi Vanya menegaskan jika dirinya tidak mau bertemu dengan Yoman.


__ADS_2