OB Tampan Pemikat Hati

OB Tampan Pemikat Hati
60.Biarkan Saja


__ADS_3

Akhir minggu, Bagas benar-benar membuktikan ucapannya. Lelaki ini langsung melamar Dalia setelah kakaknya di nyatakan hamil.


Vanya terus memandang ke arah maminya yang sejak awal acara terus tersenyum tanpa henti. Ada kebahagiaan tersebut yang di rasakan Vanya sebagai anak pertama.


"Sejak tadi melihat ke arah mami terus. Ada apa?" tanya Leon membuyarkan lamunan istrinya.


"Aku, sebagai anak pertama rasanya malam ini beban ku perlahan lepas."


"Kenapa?"


"Mami terlihat sangat bahagia. Untuk kedua kalinya aku melihat mami tersenyum bahagia setelah pernikahan kita."


"Senyum itu akan terus ada. Aku tidak akan membiarkan orang lain mengusik kebahagiaan mami mu."


"Jangan kejam-kejam. Kau ini terkadang suka membuat ku was-was!"


"Apanya?" Leon tidak mengerti.


"Ucapan mu itu, kau terkadang suka menganggap ucapan mu atau pun ucapan ku serius. Contohnya Naomi...!"

__ADS_1


"Hanya memberi pelajaran. Tidak ada yang salah!"


Suami istri ini sibuk dengan dunia mereka, mengobrol berdua tanpa menghiraukan orang-orang di sekitarnya hingga satu ucapan seorang membuat Vanya dan Leon terdiam.


"Kalau gak salah, itu OB yang di jadikan suami. Kalau OB nya seperti ini, aku juga mau. Maklum, memperbaiki keturunan lah!" bisik salah seorang tamu.


Vanya langsung mengepalkan tanganya tidak terima dan hendak menyahut namun Leon menahannya.


"Biarkan saja, itu asumsi mereka. Kita yang menjalani, bukan mereka!"


Mengalah, Vanya tidak ingin membuat keributan di acara bahagia adiknya.


"Yah, untung saja saya bukan anak ibu. Jadi, saya bebas mau menikah dengan siapa pun. Bu, kalau iri bilang ya...!" sahut Vanya membuat ketiga ibu-ibu yang duduk di meja samping langsung membuang wajah malu.


Leon hanya bisa menarik nafas panjang menenangkan istrinya.


"Sayang, kita pulang. Ayo pamit dulu sama mamah dan orangtua Dalia." Ajak Vanya yang sudah kehilangan mood.


Mereka pulang setelah berpamitan, entah kenapa Leon merasa kasihan pada sang istri yang selama ini terus bersabar atas hinaan orang yang tidak tahu dengan kehidupan mereka.

__ADS_1


"Apa kau menyesal menikah dengan ku?" tanya Leon langsung mendapatkan tatapan tajam dari istrinya.


"Sekali lagi bertanya seperti itu, akan ku putus batang urat mu!"


Leon tertawa.


"Sayang, kau mengerikan!" seru Leon yang masih fokus pada kemudinya.


"Aku belajar dari kau yang diam-diam menakutkan. Pertanyaan mu itu tidak masuk di nalar ku, jika aku menyesal kenapa perut ku bengkak seperti ini sekarang?"


"Bengkak lah kan isinya nasi dan lauk pauk!" gurau Leon.


"Selain nasi dan lauk pauk ada juga benih mu di dalam sana. Apa kau lupa?"


Leon hanya bisa tertawa, istrinya ini bisa juga mencari kata-kata. Setibanya di rumah, Vanya langsung mencuci wajah dan berganti pakaian.


"Sayang, minum dulu Vitaminnya." Leon mengingatkan istrinya. Bukan hanya mengingatkan, sejak Vanya di nyatakan hamil, Leon lah yang menyiapkan susu maupun vitamin untuk istrinya.


"Terimakasih," ucap Vanya, "suami ku sangat perhatian dan sayang pada ku. orang lain saja yang kurang kerjaan suka mengomentari...!" Vanya kembali kesal.

__ADS_1


"Udah, biarkan saja. Yang penting kau bahagia itu sudah lebih dari cukup bagi ku!"


__ADS_2