
Beberapa hari kemudian, kediaman Yoman di kejutkan dengan kepulangan Naomi yang tergeletak tak berada di depan pagar rumahnya. Sang pembantu lah yang pertama kali menemukan Naomi dengan keadaan yang sangat memilukan.
Mira terus menangisi keadaan anaknya yang sekarang di nyatakan cacat permanen tidak bisa berbicara dan menggerakkan tangannya. Bahkan, untuk sekedar membuka mulut saja Naomi sangat kesulitan.
Yoman sudah berusaha mencaritahu siapa yang sudah membuat Naomi menjadi seperti ini namun nyatanya mereka tidak menemukan satu informasi apa pun.
Sedangkan Naomi, wanita ini juga tidak bisa memberikan ketenangan apa pun. Jangankan untuk menulis, berbicara saja sudah tidak bisa. Naomi hanya bisa menangis, sorot matanya seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Mira dengan mata sembabnya.
"Kita tidak mungkin lapor polisi, kau membaca sendiri pesan dari orang yang sudah membuat Naomi seperti ini,"
"Siapa dia? kenapa dia tahu semua tentang kejahatan kita di masa lalu?" Mira sangat mulai merasa jika hidupnya sekarang berada dalam ancaman.
"Ini hukuman, kak Naomi kalau bicara tidak memikirkan perasaan orang lain lagi. Jadi, di harus menerima akibatnya," ucap Naura yang sama sekali tidak ada rasa kasihan pada Naomi.
Plak....
Tiba-tiba saja Mira menampar wajah Naura.
"Di mana rasa empati mu? kakak mu terkena musibah tapi kau malah menyudutkannya!" sentak Mira dengan nada tinggi.
__ADS_1
Naura hanya tersenyum cengir, mengusap pipi yang sedikit panas.
"Keluarga ini tidak pernah mengajarkan ku rasa empati. Jadi, jangan salahkan aku jika hati ku keras!" sahut Naura dengan beraninya.
"Anak bajingan!" umpat Yoman, "seharusnya dari kecil kau sudah aku buang!"
"Kenapa kalian tidak membuang ku? itu akan jauh lebih baik!" Naura semakin menantang.
"Kau,...!" Mira menunjuk anaknya, "ikut aku...!" Mira menarik tangan Naura, mendorongnya masuk kedalam mobil lalu mengajak gadis itu pergi.
Naura tidak banyak tanya, gadis ini nampak terlihat santai tidak peduli. Dua puluh menit perjalan, mobil Mira berhenti tepat di depan sebuah club terbesar di kota itu.
"Di mana bos kalian?" tanya Mira pada dua orang pria bertubuh besar.
"Kau mau menjual ku kah?" tanya Naura mendadak panik.
"Diam kau!" bentak Mira pada anaknya, " aku sudah tidak kuat lagi mengurus anak pembangkang seperti mu!"
"Tuan ada di dalam!" jawab salah seorang penjaga.
"Antarkan aku masuk!" pinta Mira.
__ADS_1
"Mah, lepaskan aku!" Naura berusaha melepaskan cengkraman mamahnya yang cukup kuat.
Bruk.....
Naura di dorong masuk hingga membuat gadis itu jatuh ke lantai.
"Mira,....!" ucap seorang pria yang masih berusia sekitar empat puluh sembilan tahun.
"Anak mu, dia anak mu. Sekarang aku serahkan pada mu. Aku sudah tidak sanggup lagi untuk mengurusnya!" ucap Mira yang sudah emosi, membuat pria bernama Lucas itu terkejut begitu juga dengan Naura.
"Apa maksud mu perempuan sialan?" tanya Lucas dengan kasar mencengkram wajah Mira.
"Naura, namanya Naura dan dia anak kandung mu. Urus dia!" sekali lagi Mira memberitahu.
"Oh, dia ayah kandung ku?" tanya Naura dengan santainya.
"Katanya ayah ku sudah mati, lalu kenapa sekarang kau menyerahkan ku padanya?" tanya Naura yang sebenarnya hancur namun gadis ini harus kuat sekarang.
"Biarkan aku pergi," Mira mendorong tubuh Lucas yang masih tidak percaya pada Mira, "dan kau Naura, jangan pernah lagi menginjakan kaki di rumah ku atau pun memanggil ku mamah. Aku muak, aku sudah bosan mengurus mu," ucapnya tanpa berperasaan.
Mira pergi begitu saja, meninggalkan Naura yang berdiri mematung di sana. Mata Lucas lekat memandang seorang gadis yang berusia sekitar dua puluh tahun itu, wajahnya sangat mirip dengan Lucas, namun pria ini masih belum percaya jika Naura adalah darah dagingnya. Memang, pada zamannya Lucas pernah beberapa kali berhubungan suami istri dengan Mira. Namun, pada saat hubungan mereka berjalan, Mira lebih memilih menikah dengan Yoman saat mengandung Naura.
__ADS_1