
...🍁🍁🍁...
"Eunghh--" lenguhan terdengar di sebuah kamar apartemen mewah. Terlihat pula seorang pria dengan tubuh tanpa sehelai benang, baru saja membuka matanya.
Pria itu adalah Justin, pria yang sudah melewati malam panas bersama dengan Lisa sahabatnya dan juga sahabat Alea.
"Aku dimana?" Justin meringis memegangi kepalanya dengan bingung. Matanya menatap kesana-kemari, setelah menyadari bahwa dia berada di kamarnya. Justin langsung terperangah, sebab seingatnya ia tengah berada di club malam. Lalu siapa yang sudah membawanya kemari?
Adanya sosok wanita berambut pendek di sampingnya yang tanpa sehelai benang dan dan hanya ditutupi oleh selimut saja. Telah menjawab semua pertanyaan Justin.
Matanya terbelalak kala itu menatap Lisa, sosok yang dikenalinya tengah tidur satu ranjang dengannya. Fokusnya jadi tertuju pada tanda merah di kulit putih Lisa.
"LISA?!" pekik Justin terkejut, sambil memakai celananya yang ada di lantai. Ia berdiri menatap Lisa dengan bingung.
Teriakan Justin akhirnya membuat Lisa membuka matanya perlahan, ia berusaha duduk meski tubuhnya sakit. "Jus-Justin!" Lisa membuka matanya lebar-lebar, tangannya menutupi tubuh telanjang dengan selimut.
Seketika kesadarannya kembali dan mengingatkannya pada kejadian semalam. Ya, ia telah melakukan malam pertama dengan Justin dan dia merelakan tubuhnya untuk pria itu. Bisa dibilang ia telah memanfaatkan situasi Justin yang saat itu sedang mabuk.
"Apa yang terjadi?! Kenapa kita--kenapa--" Justin kebingungan, ia terlihat marah pada Lisa dan juga berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. "LISA! Apa kita sudah--"
"Iya Justin, kita sudah melakukannya semalam....kau dan aku, kita sudah melewati batas." ucap Lisa sambil menundukkan kepalanya.
"TIDAK! Aku tidak mungkin melakukannya denganmu Lisa! Aku--aku hanya akan melakukannya dengan Alea! Kenapa kau--kenapa malah kau HAH?!" Justin histeris, ia mengacak-acak rambutnya dengan kasar dan perlahan-lahan ingatan tentang kejadian semalam terlintas di kepalanya.
Lisa hanya menangis, ia juga menyesal kenapa dia tidak menolak Justin dan malah menikmatinya. Itu semua karena Lisa mencintai Justin, walau pria itu tak tahu.
"Kau--kau seharusnya pergi! Kau seharusnya tidak menikmatinya Lisa! Arggggh...." teriak Justin frustasi. Justin merasa sangat bersalah pada Alea, ia telah berkhianat pada kekasihnya itu. Padahal baru seminggu Alea menghilang dan dia sudah tidur dengan wanita lain.
"Maafkan aku Justin, baiklah...aku tidak akan meminta pertanggungjawaban mu. Aku juga tidak akan menceritakan ini pada siapapun. Biarlah semua yang terjadi tadi malam, hanya mimpi saja...hiks.." Lisa memelas, tangisnya pecah karena semalam adalah pertama kali baginya juga.
Dalam hati gadis itu meminta maaf pada Alea, ia sudah mengkhianati Alea dengan tidur bersama Justin calon suaminya.
"Bagus! Lagipula aku juga tidak mau bertanggung jawab. Cintaku hanya Alea dan ini pertama dan terakhir kalinya aku berbuat kesalahan. Lisa, aku minta maaf....tapi kita tidak bisa bersahabat lagi! Jauhi aku Lisa!" ujarnya tegas. Ia tak mau hal ini terungkap oleh siapapun.
Setelah apa yang mereka lakukan, mereka bukanlah sahabat lagi. Ya, Justin memutuskan untuk menjauhi Lisa.
Sakit hati Lisa saat Justin mengatakannya. Walau memang pada dasarnya ia tak akan meminta pertanggungjawaban Justin, tapi tetap saja hatinya sakit.
__ADS_1
"Iya Justin, aku paham. Kita berdua sama-sama salah, kita berdua sudah mengkhianati Alea. Jadi, memang lebih baik kita menjauh...hiks." tangis Lisa tak terbendung lagi.
Sakit sekali hatiku Justin, kenapa kau harus memperlakukanku seperti ini? Kenapa juga aku malah mengkhianati Alea, sahabatku?
"Pergilah ke kamar mandi, bersihkan tubuhmu! Lalu segera pergi dari sini!" titah Justin dengan dingin pada Lisa. Dengan hati miris Justin fotonya dan Alea di dinding, seketika rasa bersalah memenuhi hati dan pikirannya. Ia merasa seolah Alea menyaksikan pengkhianatan nya dengan Lisa di kamar itu.
Tanpa bicara apapun, Justin keluar dari kamar itu dan meninggalkan Lisa sendirian disana. Justin pun pergi ke kamar lain, ia jatuh terduduk, meringkuk dan berteriak-teriak meminta maaf pada Alea.
"Maafkan aku ALEA! Maaf....aku khilaf...maafkan aku ALEA... ARGGGGH! Bodoh, kau bodoh Justin!!!" pria itu menampar dirinya sendiri sambil menangis, membayangkan jika Alea atau Alex, Arsen bahkan Leon mengetahui semua ini.Betapa kecewanya mereka, betapa marahnya mereka nanti.
Dan betapa sakit hatinya Alea jika dia tau semuanya. "Aaaaggggggghhhhh....."
Lisa juga menangis di dalam kamar mandi, sambil mengguyur tubuhnya didalam shower.
"Alea...maaf...maaf Alea...aku mencintai Justin dan aku tidak bisa menahan diri...hiks." sesal Lisa kepada Alea.
******
Kota Milan.
Siang itu di mansion tempat Raiden membawa Alea. Tampak gadis cantik itu tengah duduk di dekat teras mansion sambil menikmati pemandangan di depan Mansion itu.
"Kau baik-baik saja kan Justin? Aku merindukanmu. Seharusnya kita sudah menikah sekarang." gumam Alea sambil memandang ke arah cincin yang tersemat di jarinya. Cincin yang disematkan oleh Justin di hari pertunangan mereka 4 bulan yang lalu sebelum mereka memutuskan untuk menikah.
"Oke, aku hanya perlu bertahan di sini selama satu bulan dan setelah ini aku kembali sama mama, papa, Arsen, kak Alex dan kamu Justin." gumam gadis itu seraya tersenyum pada dirinya sendiri. "Tapi...kemana Raiden? Kenapa dia jarang pulang dan kadang pulang pagi? Pekerjaan apa yang sebenernya ia lakukan?"
Alea bertanya-tanya tentang Raiden yang mencurigakan, pria itu jarang berada di mansion kecuali saat malam atau pagi. Entah apa yang dikerjakan pria itu. Selama Raiden tidak ada, Alea dijaga oleh Tommy dan juga pengawal di rumah itu. Setiap pergerakannya di awasi oleh Tommy.
Tak lama kemudian, seorang maid menghampirinya sambil membawakan secangkir coklat panas di cangkir. Maid itu tersenyum sinis, kemudian dia dengan sengaja melempar coklat panas itu ke arah Alea. Ia pura-pura tersandung kaki kursi.
Namun coklat panas itu bukannya mengenai Alea melainkan Raiden yang tiba-tiba muncul di belakang Alea.
"Tu-tuan Raiden!" serka Carissa panik melihat dada Raiden yang tersiram coklat panasnya dan bukan punggung Alea.
Alea mendengar teriakan Carissa lalu ia membalikkan badannya. Alea terkejut manakala Raiden sudah mencekik leher Carissa.
"Rai! Apa yang kau lakukan?!" sentak Alea.
__ADS_1
"Tu-tuan.. kkkeukkhhh..." Carissa kesakitan karena cekikan Raiden.
"Apa kau sengaja hah? Kau sengaja ingin membuat Alea terluka?!" bentak Raiden yang tidak mau melepaskan cekikan itu dari Carissa. Ia terlihat marah, membayangkan bila Alea yang terluka karena coklat panas itu.
"Rai, kenapa kau marah padanya? Lepaskan dia Rai!" Alea masih tidak mengerti apa yang terjadi.
Beberapa pelayan dan pengawal pun berdatangan, mereka melihat itu semua dengan panik. Mereka takut dengan Raiden yang kalau sudah marah akan berakibat fatal.
"Sa-saya tidak sengaja tu-tuan--" Carissa kesakitan dan ketakutan.
"Tuan saya mohon hentikan, saya akan mendisplinkan dia!" kata Brieta yang akhirnya angkat bicara. Ia kasihan juga dengan Carissa. Dia bisa mati kalau Raiden terus mencekiknya.
Kata-kata wanita paruh baya itu tidak di hiraukan oleh Raiden. Sedangkan tatapan Raiden sudah seperti elang pembunuh pada Carissa.
"Rai! Hentikan, dia bisa mati! Hentikan Rai! Kumohon..." Alea bicara dan memohon pada Raiden menghentikan aksinya ini, walaupun dia tidak tahu sebenarnya, kenapa Raiden marah pada Carissa.
"Kau hampir terluka! Aku tidak bisa membiarkan dia begitu saja!" jawab Raiden dengan amarahnya.
Para maid terlihat cemas, mereka melihat ke arah Alea dan meminta gadis itu untuk menghentikan Raiden. Alea paham, lalu dia pun menarik tangan Raiden.
"Rai! Dadamu terluka? Ya Tuhan! Ayo aku obati, Rai." ujar Alea saat melihat baju dibagian dada Raiden basah karena coklat panas. Ia juga berusaha mengalihkan perhatian Raiden.
Akhirnya Raiden pun luluh, ia melepaskan Carissa. Maid itu jatuh terduduk sambil memegangi lehernya yang serasa patah. Yona, Brieta dan beberapa maid lainnya menghampiri Carissa.
"Lance, bawa dia ke kamar hitam!" seru Raiden pada Lance seraya melirik sinis pada Carissa, marahnya mereda tapi dia TIDAK bisa membiarkan kejadian ini begitu saja.
"Baik tuan." sahut Lance, pria berambut pirang itu.
"Rai, ayo aku obati..." lirih Alea sambil memegang erat tangan Rai.
Ya Tuhan, kenapa Raiden berubah jadi kasar? Sebenarnya apa yang terjadi disini?
"Ya, obati aku Alea." jawab Raiden.
Kemudian Raiden dan Alea pun naik ke lantai atas berdua saja. Raiden ceritakan agar semua orang tidak naik ke atas. Carissa menatap kepergian mereka dengan kesal dan penuh sesal.
Sialan! Kenapa aku malah melukai Tuan Raiden?
__ADS_1
...****...