
...🍁🍁🍁...
Begitu melihat Raiden membuka matanya, memeluknya. Alea tidak memikirkan apapun selain bahagia, bahkan refleks ia memeluk pria itu dengan erat. Alea terisak dalam dekapan tubuh bisep pria itu.
"KAU! Syukurlah sebelum hitungan ketiga kau sudah membuka matamu. Kalau belum maka--hiks...aku tidak tahu lagi harus bagaimana."
Raiden tersenyum, ia merasakan aroma stroberi dari tubuh Aurora. Aroma yang ia rindukan. Raiden membalas pelukan Aurora, ia merindukan gadis itu. Rasanya sudah lama dia tidak melihat Aurora.
'Kupikir aku akan tiada begitu saja tanpa melihatmu Alea. Ternyata Tuhan masih mengizinkanku untuk melihatmu, bahkan kini kau memelukku. Kau mencemaskanku? Ini bukan mimpi kan, Tuhan?'
Tak lama kemudian, Alea mengurai pelukan itu lebih dulu. Ia menatap Raiden dengan lekat. Sungguh melihat Raiden siuman adalah kebahagiaannya. "A-aku akan meminta Lance untuk menghubungi dokter Chris!"
Alea hendak beranjak dari ranjang itu, namun Raiden memegang tangan Alea dan menahannya. "Disini saja, jangan kemana-mana." Raiden bersandar di bahu Alea.
"Tapi kau butuh dokter Rai,"
"Aku lebih membutuhkanmu Alea."
Deg!
Seketika jantung Alea berdegup kencang saat mendengar perkataan itu dari Raiden. Hatinya tersentuh, ia sendiri tak bisa memahami perasaan apa ini.
'Sebenarnya aku kenapa? Kenapa jantungku berdebar seperti ini?'
Tiba-tiba saja ia teringat dengan kilas balik masa lalu saat SMA. Saat itu Raiden juga terluka karena menolong dirinya.
#Flashback
Alea dan Lisa sedang berjalan menuju ke perpustakaan, mereka berdua berjalan melewati lapangan basket. Dimana ada yang beberapa siswa yang sedang bermain basket disana.
Tanpa sengaja bola basket itu terlempar tepat ke wajah Alea. Hingga tubuh gadis itu pun ambruk dan sontak saja buku-buku yang ada ditangannya berserakan ke bawah.
"Alea! Kau tidak apa-apa? ASTAGA kau terluka!" seru Lisa sambil melihat hidung dan kening Alea terluka. Lisa cemas melihatnya.
"Makanya kalau jalan tuh pakai mata!" tegur Anton, siswa yang melempar bola ke wajah Alea.
"Hey! Kau yang sudah membuatku terluka begini, kau malah menyalahkan aku!" hardik Alea tak terima. Hidungnya masih mimisan saat itu.
Alea dan Anton pun berdebat, namun akhirnya guru melerai perdebatan mereka dan diakhiri dengan permintaan maaf dari Anton. Namun pria itu sama sekali tidak jera. Hingga saat pulang sekolah, Raiden, Alex dan Justin memukuli Anton habis-habisan karena sudah menyakiti Alea. Raiden yang terluka paling parah disana dan saat itu ia diomeli oleh Alea.
"Sakit ya? Rasakan! Siapa suruh kau memukuli si Anton, hah?" cecar Alea marah tapi cemas. Raiden hanya diam saja dan meringis sesekali.
"Sepertinya kau membutuhkan dokter, aku akan panggil dulu dokter."
__ADS_1
"Disini saja, jangan kemana-mana." Raiden bersandar di bahu Alea dan menahan tangannya.
"Tapi kau butuh dokter Raiden," ujar Alea.
"Aku lebih membutuhkanmu Alea."
#End flashback
Entah kenapa teringat masa lalu itu, membuat hati Alea tak karuan. Apa benar Raiden telah mencintainya sejak lama? Tapi kenapa pria itu tidak pernah mengungkapkan cinta padanya? Kenapa harus menculiknya dihari pernikahannya?
"Rai...lepas..." pinta Alea.
"Alea, kau cemas padaku? Kau takut aku mati kan?" tanya Raiden dengan suara serak seperti orang yang baru bangun tidur.
"Jangan bicara soal kematian, kau masih hidup dan kau akan baik-baik saja, Rai." ucap Alea tanpa melihat ke wajah Raiden. Alea menyembunyikan matanya yang berair.
Raiden mengangkat dagu Alea, lalu membuat wajah gadis itu berhadapan dengan wajahnya. "Tatap mataku Lea," lirih Raiden memanggil nama Alea dengan nama favoritnya yaitu Lea. Hanya Raiden yang memanggilnya begitu.
"Kau cemas padaku? Benar? Kau cinta padaku." ucap Raiden
"Aku tidak mencintaimu, pria es!" sangkal Alea.
"Hatimu sudah berpindah padaku, tidak...sejak dulu hatimu sudah jadi milikku Lea." kata Raiden retoris.
****
Sehari setelah Raiden siuman, ia masih berada di mansion meninggalkan semua pekerjaannya karena Alea tidak mau Raiden pergi bekerja yang membahayakan dirinya di luar sana. Melihat Raiden terluka seperti sebelumnya, benar-benar membuat Alea terkena serangan jantung.
Pada suatu sore, Raiden melihat Alea yang sedang duduk termenung sambil melamun. Niat hati ingin menghampirinya, tapi tiba-tiba saja Lance bicara padanya. "Tuan, sepertinya nona Alea butuh udara segar, beberapa hari ini beliau mengeluh jenuh."
"Jadi aku harus bagaimana?"
"Tentu saja membawa nona jalan-jalan keluar tuan!" saran Lance pada Raiden.
Raiden pun terdiam sesaat, selama ini pria itu begitu posesif sampai ia tak sadar sudah mengurung Alea di mansion itu. Akhirnya pria itu mengajak Alea pergi ke luar mansion, ia tidak mau Alea stress berada didalam mansionnya. Mewah, serba ada tapi tetap saja jenuh.
Kini Alea dan Raiden berada di salah satu pusat perbelanjaan di kota Milan. Tentu saja dengan pengawalan Jerry. Lance dan Tommy tidak ikut sebab mereka berdua dipercaya menjaga mansion. Alea begitu dimanjakan oleh Raiden, wanita itu bebas berbelanja apapun yang ia mau. Meski pada dasarnya Alea tak begitu suka belanja, tapi dia tetap memilih beberapa barang di sana.
"Berapa semuanya?" tanya Raiden pada seorang kasir toko butik disana.
"Semuanya 2500 dollar, tuan." jawab si wanita itu dengan bahasa Inggris.
Tanpa banyak bicara Raiden langsung menggosok kartu untuk membayarnya. Alea melongo, ia tak percaya bahwa barang-barang yang dibelinya itu tidaklah murah. Raiden benar-benar kaya dan memanjakannya.
__ADS_1
Barang belanjaan Alea sangatlah banyak, dari mulai sepatu, tas, baju, jam tangan, bahkan buku-buku novel juga dibelinya. "Raiden!"
"Kenapa?"
"Apa kau sangat kaya sekarang?"
"Seperti yang kau lihat," jawab Raiden santai.
"Woah..."decak Alea kagum. Kekayaan Raiden sekarang dari bisnis ilegal nya jelas lebih besar dibandingkan status CEO-nya.
"Jadi--bagaimana? Kita bisa menikah, hidup bahagia tanpa kekurangan apapun. Aku bisa berikan apa saja padamu. Kau tertarik sekarang?" tanya Raiden seraya menatap wajah cantik Alea.
"Hem...jangan bicara omong kosong. Sudahlah aku lapar, Rai!" Alea mengalihkan pembicaraan.
"Ya, mari kita makan." Raiden hanya tersenyum.
Mereka berdua lalu duduk di salah satu meja yang ada di restoran ayam. Alea sedang ingin makan ayam tepung. Ketika sudah memesan makanan, tiba-tiba saja ponsel Raiden berbunyi. Raut wajahnya menjadi tegang.
"Kenapa?"
"Aku permisi ke toilet dulu." jawab Raiden. "Jerry, kau jaga dia!" titah Raiden pada Jerry. Si ajudan yang satu itu hanya menganggukkan kepalanya, ia sebenarnya malas pada Alea.
Tak lama setelah Raiden pergi, Alea juga ikut pergi dari sana. Jerry bertanya mau kemana Alea. Gadis itu menjawab bahwa ia akan pergi ke toilet.
"Saya akan menemani nona,"
"Kau disini saja! Aku tidak akan lama." kata Alea. "Aku juga tau kau malas mengikutiku." cetus Alea sebal.
"Baiklah, saya disini saja." Jerry tersenyum sinis dan itu sangat menyebalkan. Kali ini salah besar Jerry membiarkan Alea sendiri.
Alea sebenarnya bukan ingin pergi ke toilet, tapi ia ingin mengikuti Raiden yang bicara diam-diam dengan seseorang di telpon. Alea takut Raiden membahayakan dirinya lagi.
"Raiden kemana ya?"
HUP!
Tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik tubuh Alea dan membekap mulutnya. Tubuh itu sangat kekar dan tinggi, tentu Alea tak bisa mengimbanginya.
"RAIDEN! TOLONG!" teriak Alea yang sempat membuka mulutnya itu. Ia melihat Raiden sedang bicara di telpon dengan seseorang dibelakang mall dan Alea juga dibawa kesana.
Detik berikutnya, Alea jatuh pingsan karena di pukul oleh seorang pria lainnya. "HURRY!" ujar si pria bertato naga di tangannya itu.
Mereka yang jumlahnya tidak hanya satu orang itu, akhirnya berhasil membawa Alea pergi dari sana.
__ADS_1
...****...