
...🍀🍀🍀🍀...
Beberapa menit sebelum ledakan terjadi, Leon dan William tengah beradu kekuatan tanpa senjata, alias dengan tangan kosong. Kedua pria yang berbeda usia belasan tahun itu, saling melemparkan bogem mentah tanpa ampun.
Leon dipenuhi amarah yang memuncak, setiap pukulan dan luka di wajah William karena ulahnya, adalah rasa sakit yang tidak seberapa dengan kematian istri dan anaknya. William sudah terluka parah walau hanya dengan tangan kosong mantan mafia nomor 1 itu.
"Bangun, kau BASTARDD!!" kata Leon dengan suara menggelegar, pada William yang kini sudah tersungkur dengan wajah penuh luka dan tidak berdaya.
William menatap tajam pada Leon, padahal usia pria itu jauh lebih tua darinya. Namun kekuatannya tidak bisa diremehkan. Pria itu masihlah menjadi yang terkuat.
'Sial! Aku bisa mati disini, dia sangat kuat!'
William mulai terdesak, dengan terbatuk-batuk ia berjalan ngesot menuju ke dekat ranjang tempat tadi putranya berbaring disana. William mundur dan Leon terus mendekat, dia sudah bersumpah akan membunuhnya maka dia akan melakukan itu.
"Aku sudah bersumpah, William! JIKA AKU TIDAK BISA MEMBUNUHMU, MAKA AKU TIDAK AKAN BISA MASUK SURGA. JADI KAU HARUS MATI!"
Keringat dan darah yang basah membanjiri wajah William. Aura intimidasi Leon serasa membunuhnya. "I-ini.... sebenarnya adalah ide dari Mr X, aku bersumpah...aku hanya--"
GREP!
BRUGH!
Pria berusia lebih dari setengah abad itu, menghajar William habis-habisan. Ia tau William adalah ayah kandung dari Raiden, pria yang sudah menjadi kekasih putrinya. Namun hal itu tidak menyurutkan dendam dan murka nya Leon pada William.
BRUGH!
Pukulan Leon sangat kuat sampai gigi-gigi William jadi rontok. Mulutnya berdarah-darah dan pria itu meringis kesakitan.
"Oh shitt!!"
William tampak lemah di depan Leonardo Xavier, jika diibaratkan dirinya sebagai raja singa. Mungkin pria itu lebih dari raja singa, luar, beringas dan tidak kenal ampun bila berhadapan musuhnya.
Ketika William menemui celah, ia pun berusaha melarikan diri dari sana dengan sedikit tenaga yang tersisa. Namun Leon tidak melepaskannya, ia mengambil pistolnya dan menembaki William dengan menggila.
Dor, dor, dor!
__ADS_1
"Aaaarrggh!!"
Kaki William lumpuh seketika dan sontak langkahnya terhenti didekat gudang bahan bakar ilegal miliknya.
"Kau bermain curang rupanya, Wiliam. Memang seorang anjing tetap seorang anjing. Tapi perlu kau tau, kau tidak akan pernah bisa lepas dariku."
"Kau..."
William berusaha bangkit meski kedua kakinya sudah lumpuh oleh timah panas yang ditembakkan oleh Leon. William terseok-seok, kemudian ia menyalakan korek api gas yang ada di sakunya. "Kalau kau membunuhku, aku akan meledakkan tempat ini hingga kau mati bersamaku juga!" ancam William pada Leon dengan tangan gemetar.
"Aku siap, asal kau mati lebih dulu!" seru Leon tak keberatan. Meski harus bertaruh nyawa, ia siap meninggalkan dunia ini asalkan William mati.
Dan benar saja, William nekat. Ia menjatuhkan korek api gas itu ke arah bahan bakar dan peledak yang ada disana. Namun Leon lebih cepat mengambil korek api gas itu sebelum jatuh ke tempat bensin. "Sudah cukup bermain-mainnya! Jika tempat ini meledak, maka...DENGAN MATA KEPALAKU SENDIRI, AKU HARUS PASTIKAN KAU KEHILANGAN NYAWAMU LEBIH DULU!" teriak Leon sambil menarik pelatuknya dan DOR!
Dia menembaki tubuh William layaknya algojo yang mengeksekusi mati terdakwa. Terakhir Leon menembak kepalanya.
DOR!
William kali ini benar-benar roboh, kepalanya bolong dan dia menutup mata untuk selamanya. Leon tertawa puas melihat kematian William, kini dia telah membalaskan dendam kematian Aileen dan Arsen. Tapi itu semua belum cukup, ia belum membalas Mr.X yang juga menjadi dalang dibalik semua ini.
****
Raiden yang terluka melihat ruang bawah tanah itu meledak dan ia panik karena Leon masih ada disana. Ia bahkan melupakan ayahnya, tak peduli William mau mati atau tidak.
"Om Leon..."
"Tuan, anda mau kemana! Disana berbahaya!" ujar Jerry seraya menahan Raiden untuk tidak pergi dari sana.
Tak lama kemudian seseorang dengan tubuh gosong berjalan terseok-seok ke arah Raiden dan yang lainnya. Termasuk Frans dan beberapa anak buah Leon yang membawa Alexander.
"Raiden...Frans..." suara pria berwajah gosong itu serak, tapi masih bisa di kenali. Ya, pria itu adalah Leon.
Frans dan Raiden berjalan menghampiri Leon yang kini sudah terbaring diatas rerumputan disana. Wajah Leon hancur dan tidak bisa dikenali lagi.
"Om Leon..."
__ADS_1
"Tuan..." lirih Frans sedih melihat keadaan tuannya yang selama ini ia layani, terlihat lemah tak berdaya.
"Waktuku...tidak...banyak..."
"Jangan katakan itu om, bukankah om sudah berjanji akan kembali bersama Alea dan Alex? Om akan melihat pernikahan kami, kan?" tanya Raiden dengan sedikit bercanda.
"Ya...kalian...harus menikah...dan aku...percaya bahwa kau tidak terlibat dengan semua ini..." lirih Leon dengan nafas yang terengah-engah. "Raiden...Frans...tolong jaga Alea dan Alex. Kalian harus berada di sisinya apapun yang terjadi. Aku akan menyusul istriku dan Arsen..."
"Om..." Raiden memegang tangan Leon yang sudah terbakar itu. Raiden dan Frans menangis, saat mata Leon terpejam untuk selamanya. Frans menangis terisak, ia merasakan sesak di dadanya melihat pria yang sudah seperti saudaranya sendiri. Telah meninggal dunia.
Raiden berjanji bahwa ia akan menjaga Alea dan Alexander. Setelah ini ia akan meninggal dunia hitamnya, menyembuhkan Raymond dan Alexander. Tapi untuk sementara ini, ia tak akan biarkan Alea tau lebih dulu.
****
Pagi itu, setelah mengobati lukanya dan memastikan Raymond Alexander baik-baik saja. Raiden kembali ke mansionnya. Ia langsung pergi ke kamar Alea. Gadis itu tengah tertidur pulas di atas ranjang dengan memakai tanktop dan celana pendek bahan. Pria itu memandangi Alea penuh cinta, bibirnya tampak pucat.
"Aku akan menjagamu Alea, aku bersumpah...aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu Rai," sahut Alea lalu beranjak duduk. Alea menatap kekasihnya dengan intens dan dalam. "Kenapa kau baru pulang?"
"Kau sudah bangun? Sejak kapan?"
"Aku sedang bertanya padamu, kenapa kau malah balik bertanya. Rai, kau darimana saja? Apa kau bersenang-senang dengan wanita lain di luar sana?"
"Ada wanita cantik bak Dewi yang menjadi kekasihku, aku tidak mungkin melirik wanita lain. Sebab wanita yang berada di hadapanku ini telah mencuri segalanya dariku, termasuk hatiku dan hidupku."
"Rai...jangan gombal!"tukas Alea sebal.
Tiba-tiba saja Raiden mendekatkan wajahnya dan membenamkan bibirnya pada bibir cantik Alea yang sudah menjadi candu untuknya. Seolah ciuman itu dapat menenangkan perasaannya saat ini. Ya, perasaan Raiden campur aduk sebab ia akan meninggalkan dunia hitam. Ada duka dan juga bahagia disini, semua ada hikmahnya.
"Rai, ada apa?"
"Nanti siang--aku akan menunjukkan sesuatu padamu Alea."
...*****...
__ADS_1