Obsesi Cinta Tuan Mafia

Obsesi Cinta Tuan Mafia
Bab 13. Alea pingsan


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Alea yang tadinya sedang duduk di atas ranjang tiba-tiba saja terperanjat saat mendengar Jerry berteriak-teriak meminta tolong padanya demi nyawa Carissa. Alea pikir tidak mungkin Raiden akan sampai membunuh gadis itu karena dirinya.


Tapi mendengar teriakan Jerry yang semakin keras, sepertinya pria itu tidak bercanda. Melihat Raiden yang mudah terpancing emosi, bahkan sampai berani mencekik wanita, tidak memungkinkan bagi pria itu untuk berani membunuh.


"Nona! TOLONG...saya mohon, selamatkan nyawa Carissa!" teriakan Jerry masih terdengar di sana.


Akhirnya Alea pun berjalan mendekati pintu, dia berusaha untuk membuka pintunya. Tapi pintu itu masih terkunci. "Tuan Tommy, saya mohon buka pintunya! Saya harus bertemu dengan Raiden sekarang juga!" seru Alea.


"Maafkan saya nona, saya tidak bisa--"


Alea langsung memotong perkataan Tommy yang belum selesai itu. "Kalau kau tidak membuka pintunya, aku akan bilang pada Raiden bahwa kau menyiksaku disini!" ancam Alea.


"Nona, saya mohon tolong jangan lakukan ini." kata Tommy memohon, dia ingat sebelumnya bahwa karena Alea. Dua kali dia di hukum Raiden karena tidak bisa menjaga Alea dengan baik. Dan sepertinya apapun yang dikatakan oleh gadis itu, Raiden akan menurutinya.


"Aku serius, aku benar-benar akan mengadu pada RAIDEN. Buka pintunya atau aku akan menyakiti diriku sendiri, jadi sekarang buka!" teriak Alea kesal karena apapun yang dikatakannya tidak didengar oleh Tommy ataupun pengawal yang ada di luar kamarnya.


Diluar sana Tommy, para pengawal dan juga Brieta sedang berdebat. Ada yang ingin pintu dibuka dan sisanya mereka tak mau Alea keluar dari sana. Karena sudah bisa ditebak kalau Alea akan tau tentang Raiden bila pintu itu dibuka.


"Jerry, kenapa kau selalu membela Carissa nak? Ibu yakin tuan Raiden tak akan membunuhnya!" kata Brieta pada Jerry. Jerry adalah putra Brieta satu-satunya. Ibu dan anak itu memang telah berada lama bersama keluarga Stanhard dan hampir 5 tahun bersama Raiden.


"Ibu...kali ini tuan Raiden benar-benar marah! Aku tidak bisa membiarkan Carissa mati, tidak Bu!" ucap Jerry sedih.


"Tapi tuan Raiden pasti akan murka padamu, nak." kata Brieta mengingatkan, ia tau benar bagaimana marahnya Raiden itu tidak pandang bulu.


"Aku tak peduli Bu!"


Tak lama kemudian, terdengar suara jeritan dari kamar Alea dan seketika semua orang diluar kamar itu menjadi panik. "Tommy! Cepat buka pintunya!" seru Brieta panik.


"Kalau terjadi sesuatu pada nona, kita juga yang akan celaka. Ayo tuan Tommy!" seru salah seorang bawahan Tommy.


"SHITT!" umpat Tommy kesal, ia tak punya pilihan lain lagi Kecuali membuka pintu kamar itu.


Tommy pun membuka pintu kamar itu dengan kunci, lalu dengan cepat Alea berlari pergi dari sana. Semua orang panik dan mengejar Alea, ternyata dia berbohong agar pintu kamarnya di buka.


"Jerry dimana Raiden? Bawa aku padanya!" titah Alea pada Jerry dengan cepat.


"Saya akan membawa nona padanya,"

__ADS_1


"JERRY-KAU!" hardik Tommy geram dengan sikap Jerry.


"Kalian tenang saja, aku yang akan bertanggungjawab jika Raiden marah." kata Alea seraya menenangkan semua anak buah Raiden yang memiliki raut wajah tegang itu. Setelah mendengar ucapan Alea, jujur saja mereka tidak lega sama sekali.


Akhirnya Jerry, Tommy diikuti beberapa pengawal membawa Alea ke kamar hitam. Sebab Alea mengamuk dan mengancam jika keinginannya tidak dituruti.


Tommy dan anak buahnya benar-benar tegang kala itu. Bisa dipastikan Raiden akan marah karena mereka membawa Alea kesana dan tidak bisa mencegah Alea. Rahasia Raiden pun akan terungkap.


"Matilah aku, tuan Raiden pasti akan marah." gumam seorang bawahan Tommy.


"Bukan marah lagi, tapi murka!" seru seorang pengawal tegang.


Kini Alea telah sampai di sebuah rumah yang letaknya lumayan jauh dari mansion yang dia tinggali. Rumah itu memiliki aroma anyir darah dan seluruh catnya berwarna hitam. Buluk kuduk Alea meremang saat memasuki rumah itu.


Ada rasa takut didalam dirinya saat melangkah lebih jauh ke dalam rumah itu. Tapi ia juga penasaran dengan identitas Raiden selama ini. Benarkah pekerjaan Raiden sama dengan kakek buyutnya dulu? Seorang mafia? Alea jadi curiga dengan semua yang ia lihat selama bersama Raiden. Terutama sikap pria itu.


Alea sungguh takut jika benar Raiden telah berubah, Alea takut sahabatnya bukan orang yang sama lagi. Jika benar Raiden berubah, entahlah dia belum memikirkan lebih jauh bagaimana kedepannya.


"Nona, lebih baik kita hentikan sampai disini-" kata Tommy yang masih berusaha membuat Alea ragu untuk masuk ke dalam kamar hitam, tempat Carissa disiksa.


Disisi lain, Jerry resah ingin Alea cepat-cepat menyelamatkan Carissa.


Jika benar kau seperti itu Rai, aku akan menunjukkan padamu jalan yang benar. Batin Alea dengan kepala yang penat karena teringat masa lalu.


#Flashback


18 tahun yang lalu, disebuah Mansion mewah di Italia. Terlihat Ericko, kakek buyut dari Alea berada di halaman belakang rumah dimana cucu perempuannya bermain bersama dua kucing kesayangannya disana.


"Kakek?" Alea mendongak melihat wajah kakeknya yang terlihat marah itu.


Ericko tiba-tiba mengeluarkan pistolnya dan menembak kedua kucingnya itu. Darah kucing itu muncrat kemana-mana, bahkan sampai ke wajah Alea.


Gadis kecil itu syok dan langsung pingsan saat melihat kedua kucingnya mati. "Kakek...hiks...kakek tega, Kakek jahat, kakek membunuh mereka..."


Ericko hanya tersenyum iblis, ia tak peduli Alea syok dan trauma karena ulahnya ini.


#End flashback


Lamunan Alea pun menjadi buyar saat ia mendengar suara tembakan sebanyak 3 kali.

__ADS_1


Dor!


Dor!


Dor!


Alea pun memberanikan dirinya untuk pergi tangga yang menuju ke lantai bawah tanah. Diikuti oleh Tommy, Jerry dan anak buah Raiden yang lain.


Gadis itu akhirnya tiba di sebuah ruangan dengan pintu yang terbuka. Disana tidak hanya ada Raiden saja, tapi ada Lance dan ketiga pengawalnya yang lain. Saat ini Raiden dalam posisi memegang pistol.


Sementara Carissa dia terlihat tak sadarkan diri dengan wajah yang berlumuran darah dan kaki yang melepuh. Jerry yang paling terlihat cemas melihat Carissa seperti itu.


Raiden mematung manakala ia menangkap eksistensi Alea disana. "Alea kenapa kau ada disini?"


Alea menutup mulutnya yang menganga. Kepalanya benar-benar pusing saat ini, ia tidak bisa berkata-kata setelah melihat apa yang ada didepannya itu. Air matanya mengalir deras. Tubuhnya pun gemetar hebat.


"Alea..." lirih Raiden seraya mendekati Alea. Namun gadis itu menepisnya, sorot mata Alea tampak tajam pada Raiden.


"Teganya kau...teganya..."


Tak lama kemudian, tubuh Alea roboh dan dengan sigap Raiden menahan tubuh mungil ramping gadis itu. Seketika Raiden dan anak buahnya yang ada disana panik melihat keadaan Alea.


"Alea! ALEA!!" Raiden panik melihat Alea jatuh pingsan.


Sial! Sudah dipastikan Tommy dan anak buahnya akan kena hukuman lagi dan jangan lupakan Jerry. Entah apakah masih ada mentari hari esok untuk mereka.


...*****...


Di Jakarta, Indonesia.


Kamar Aileen dan Leon. Wanita berusia 40 tahunan yang masih tampak muda itu, tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya. "Alea...Alea..."


"Sayang, kau kenapa?" tanya Leon pada istrinya. Leon baru saja pulang dari Italia, mencari informasi tentang Alea.


"Alea...Alea... perasaanku tidak enak, pa." Aileen memegang dadanya yang terasa desak saat memikirkan Alea. Sudah seminggu Alea belum ada kabar.


"Anak kita akan baik-baik saja sayang, percayalah! Aku sudah menemukan titik terangnya." ucap Leon sambil memeluk Aileen dengan lembut.


Aileen langsung mendongakkan kepalanya dan atensinya tertuju pada Leon. "Maksud mu apa pa?"

__ADS_1


...****...


__ADS_2