
Di dalam perjalanan pulang setelah Raiden membeli makanan untuk Alea, Raiden terlihat gelisah. Entah apa yang membuatnya gelisah setelah bicara dengan ayahnya. Ternyata pria itu meninggalkan ponselnya di rumah merah milik ayahnya.
"Jerry, putar balik ke rumah merah!" titah Raiden pada Jerry yang tengah menyetir kala itu. Jerry tidak bertanya apapun, ia hanya menjawab dan patuh dengan apa yang diperintahkan oleh atasannya.
Tak lama kemudian Raiden sampai di rumah merah, namun ia tak mendapati sosok ayahnya disana. Padahal selama ini ayahnya tak pernah pergi meninggalkan rumah itu apalagi masih ada beberapa tahanan yang disiksa olehnya. Bahkan penjaga terbaiknya si Robby juga tidak ada disana.
"Kemana ayahku pergi?" tanya Raiden pada salah satu penjaga yang ada disana. Bawahan William.
"Maaf tuan, saya tidak tahu. Beliau pergi bersama tuan Robby." jawab si pengawal itu. Raiden menelisik matanya, ia berusaha mencari kebohongan disana. Tapi--ia tak melihat itu pada mata di pengawal.
"Baiklah!"
__ADS_1
Tanpa bertanya apa-apa lagi, Raiden langsung pergi dari sana. Namun alangkah kagetnya Raiden saat ia tak sengaja menemukan secarik kertas kecil dibawa sana. "Dokter jantung?"
Entah apa yang membuat Raiden penasaran dengan kartu nama dokter spesialis jantung itu. Mana mungkin kan kalau William punya penyakit jantung? Atau--jangan jangan ada yang pria itu sembunyikan darinya. Raiden jadi over thinking. Ia pun memutuskan untuk mengunjungi Jonas yang masih ada di rumah merah itu, semoga saja ia mendapatkan informasi dari pria yang sudah lama bekerja bersama ayahnya, tapi ujung-ujungnya berakhir menjadi pengkhianat.
Raiden tiba di ruang bawah tanah, ia melihat kedua tangan dan kaki Jonas di rantai. Tubuhnya telanjang dan penuh luka. Rambutnya juga gondrong, ia kacau. Ia tidak mati, namun hidup juga menyakitkan untuknya. William dan anak buahnya sangat kejam, tidak membiarkan dia mati begitu saja. Begitu semua orang di perintahkan untuk meninggalkan mereka berdua, oleh Raiden. Mulailah mereka bicara.
"Wow...wow...ada apa Stanhard junior datang kemari?" decak Jonas dengan seringai dibibirnya, seolah ia menyambut sang antagonis datang.
"Aku pikir ayah membunuhmu." cetus Raiden pada pria itu dengan wajah datarnya.
"Aku kesini untuk bertanya padamu, kau sudah lama bekerja dengan ayahku. Kau pasti tau bahwa ayahku mengidap penyakit jantung." seloroh Raiden ragu.
__ADS_1
"Pfuttt...ayahmu? Memiliki penyakit jantung? Haha....jadi kau sudah mulai menemukan sesuatu? Apa yang kau temukan?" cibir Jonas dengan wajah babak belurnya.
"Aku menemukan sesuatu yang janggal, penyakit jantung--dan siapa yang sakit." Raiden terlihat bingung dengan keadaan ini.
"Hey Stanhard junior! Aku bisa memberitahumu semuanya, terutama tentang saudara kembarmu Raymond!" ujar Jonas yang membuat Raiden tercengang bukan main.
"Kau mau apa? Uang? Kebebasan?" tawar Raiden.
"Kebebasan, karena setelah mengungkapkan ini...aku pasti mati ditangan ayahmu." cetus Jonas yakin. "Aku ingin kebebasan dan aku ingin jaminan darimu. Aku punya 3 permintaan terakhir." seru Jonas seraya tersenyum. Merasa hidupnya akan tiada tak lama lagi.
"Baik, kita sepakat." kata Raiden setuju. "Sekarang, katakan apa yang kau tau tentang saudara kembarku? mungkin kau tau juga dimana dia."
__ADS_1
"Raymond, kakakmu dia masih hidup dan dia terkena penyakit jantung." jawab Jonas tanpa ada kebohongan disana. Raiden sangat terkejut saat mendengarnya sampai ia tertegun dan wajahnya berubah menjadi pias.
...*****...