
...๐๐๐...
Mansion Xavier. Waktu telah menunjukkan pukul 9 malam. Keluarga Alea terlihat gelisah, sebab Alea belum pulang juga. Setelah badai gagalnya pernikahan Alea dan Justin. Pasti hal ini membuat Alea sangat terpukul, dalam satu hari mimpi indahnya dihempaskan oleh takdir. Oleh fakta menyakitkan bahwa Justin dan Lisa memiliki hubungan gelap, tak hanya itu saja. Lisa juga sedang mengandung anak Justin. Dikhianati pasti rasanya sakit, siapa juga yang tak sakit hati dengan pengkhianatan? Apalagi oleh sahabat dan calon suaminya sendiri.
Tak hanya Aileen dan Leon yang marah dengan kejadian ini, Arsen, sang adik terus menggerutu tentang Justin dan Lisa. Ia ikut sakit hati kakaknya diperlakukan seperti itu.
"Aku masih kesal sama si Justin, mom! Bagaimana bisa dia jahat sama kak Alea, terus si Lisa juga...aku benar-benar tidak menyangka Mom." Arsen mengeluarkan semua keluh kesahnya pada Aileen yang sedang duduk di sofa ruang tengah.
"Mommy juga kesal, mommy sakit hati anak perempuan mommy satu-satunya di perlakukan seperti ini. Tapi Arsen, Alex, kalian harus menghibur Alea ya. Jangan bahas masalah ini lagi didepannya." ucap Aileen pada kedua anak laki-lakinya yang tengah duduk juga disana.
"Iya mom, kami tidak akan membahasnya didepan Alea. Arsen, kau juga diamlah...jangan cerewet." ujar Alexander pada adiknya itu. Arsen terkadang cerewet, ya Alex tau cerewet adik bungsunya itu karena dia care dan sayang pada Alea. Alea lebih dekat dengan Arsen ketimbang dengan Alexander yang jutek.
"Iya kakak, aku tidak akan membahas masalah si *njing dan si b*bi itu." ucap Arsen seraya menghela nafas panjang.
"Ya sudah cepatlah kalian pergi tidur, ini sudah malam." titah Leon pada istri dan kedua anak laki-lakinya.
"Tapi Dad, kakak belum pulang." sahut Arsen cemas. Leon mendekat pada anak bungsunya, kemudian mengelus kepalanya. "Kau tenang saja Arsen, paman Frans bersamanya. Kakakmu butuh waktu untuk menenangkan diri." ucap Leon seraya memenangkan Arsen yang gelisah.
"Kau tenanglah Arsen, paman Frans bisa dipercaya dan pasti bisa menjaga Alea." kata Alexander yang juga ikut menenangkan Arsen.
"Ya dad, kak Alex, tapi aku tetap kepikiran sama kak Alea." ucap Arsen.
"Tenang saja Sen, Alea baik-baik saja!" seru Alexander pada adiknya seraya tersenyum. Arsen pun menurut pada ayah dan kakaknya,ia pergi ke kamarnya walau hati Arsen masih tak tenang. Mungkin fisik Alea baik-baik saja tapi tidak dengan hatinya dan itu yang membuat Arsen khawatir.
Jika Arsen saja khawatir, bagaimana dengan Aileen? Jelas hatinya lebih sakit, ia bahkan kesulitan untuk tidur dan memutuskan untuk menunggu Alea pulang.
"Sayang, lebih baik kau tidur. Alea akan baik-baik saja, aku sudah meminta Frans membawanya pulang jam 11 malam." Leon mengusap wajah Aileen dengan lembut.
"Kau yakin dia baik-baik saja sayang? Tidak bisakah kau mencarinya, entah kenapa perasaanku tidak enak." kata Aileen gelisah.
"Sayang jangan bicara begitu, anak kita pasti baik-baik saja." ucap Leon pada Aileen dan berusaha menepis pikiran buruk istrinya itu.
"Kalau kau tidak percaya, aku akan video call Frans sekarang." kata Leon seraya mengambil ponsel didalam saku bajunya. Namun niatnya urung sebab Aileen melarangnya.
"Tidak usah sayang, baiklah aku akan tidur. Aku percaya pada om Frans. Tapi jika Alea sudah pulang, tolong beritahu aku." ucap Aileen dengan helaan nafas berat.
Cup!
__ADS_1
Leon mengecup kening sang istri dengan lembut. "Pergilah ke kamar lebih dulu, nanti setelah Alea pulang aku akan menyusulmu ke kamar."
"Iya sayang." Aileen balas mengecup pipi Leon, pria yang dulu pernah menjadi papa angkatnya itu dan berakhir menjadi suaminya. Ayah dari anak-anaknya.
Leon menatap punggung sang istri yang tengah berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya. Sementara Leon masih menunggu Frans dan Alea di ruang tengah.
****
Disebuah tempat hiburan malam, gemerlap lampu dan suara dentuman musik di tempat itu, mengiringi permainan joged joged manja ala Alea dan beberapa orang disana yang terlihat menikmati alunan musik. Selama ini ia selalu diatur ini itu oleh papa dan kedua saudara laki-lakinya, hingga Alea tak bisa merasakan kenikmatan seperti ini.
"Wow...ini ternyata sangat menyenangkan! Rai, ayo kesini kita menari bersama!" ajak Alea pada Raiden yang masih duduk santai di dekat seorang bartender, yaitu Riki temannya juga. "Ish lihatlah aura es batunya itu," Alea berdecih pelan, ia kesal diabaikan Raiden.
Raiden sebenarnya risih melihat Alea menari-nari seperti itu, namun ia juga tak tega menghentikannya. Apalagi gadis itu terlihat sangat menikmatinya dan baru kali ini Raiden melihat Alea menunjukkan sisi liarnya.
'****! Aku ingin memeluk dan menciumnya' umpat Raiden dalam hatinya saat melihat kecantikan Alea.
"Kau mau minum apa Rai?" tawar Riki pada Raiden, walau tak dekat setidaknya mereka saling kenal dalam ikatan teman.
"Cocktail 2 dengan kadar alkohol 0,01 persen dan mocktail buah jeruk 1." jawab Raiden singkat, padat dan jelas.
Mocktail tidak mengandung alkohol. Masing-masing punya racikannya sendiri, umumnya terbuat dari bahan-bahan yang beraroma. Misalnya seperti sari buah, sirup, es krim, susu, madu, dan sebagainya. Sedangkan, cocktail biasanya mengandung alkohol. Dan Raiden memesan Mocktail untuk Alea. Tidak akan Raiden biarkan Alea meminum alkohol.
Raiden masih melihat Alea yang asyik joged joged di sana, tidak ada pria yang berani mendekati Alea sebab Raiden selalu mengawasi dengan tatapan elangnya. Dengan tatapan itu Raiden mengisyaratkan bahwa yang mendekati Alea akan mati ditangannya.
"Paman Frans, apa paman tidak akan bergabung denganku? Bukankah lelah terus berdiri disana, paman?" ucap Raiden seraya menoleh ke arah Frans yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. Pria paruh baya itu pun berjalan mendekat ke arah Raiden dengan penyamarannya, menggunakan kumis dan rambut palsu.
"Saya kira tuan Raiden tidak mengenali saya." ucap Frans. "Bahkan nona Alea yang sudah dekat dekat saya sedari kecil saja, tidak menyadari penyamaran saya." timpalnya lagi, seraya menoleh ke arah Alea yang masih asyik joged joged.
"Saya dan Alea berbeda paman." tukas Raiden seraya tersenyum. "Duduklah disini paman dan kita minum sedikit." ajaknya. "Tentunya minuman dengan kadar alkohol yang rendah." ucapnya lagi. Mereka berdua sedang menjaga Alea dan tidak boleh mabuk.
Frans pun duduk di samping Raiden, dengan segelas minuman cocktail rendah alkohol sudah tersedia didepan sana. Ya, baru saja Riki membawakan minuman itu.
"Tuan benar, nona Alea itu polos dan itu sebabnya nona tidak mengenali saya." ucap Frans sambil mengambil gelas berisi cocktail itu, lalu meneguknya pelan.
"Hem...tapi paman Frans, kenapa paman tidak menghentikanku membawa Alea? Bukankah paman memiliki tugas dari Om Leon, bahwa--"
Frans langsung memotong ucapan Raiden dan menebak kata selanjutnya."Saya harus menjauhkannya darimu?"
__ADS_1
"Benar. Lalu kenapa Paman tidak membawa Alea pulang dan malah membiarkannya disini bersama orang berbahaya sepertiku?" tanya Raiden pada Frans heran.
"Mungkin tuan Raiden berbahaya untuk orang lain, tapi tidak untuk nona Alea. Saya tau tuan adalah salah satu orang yang tidak akan pernah menyakiti nona Alea." ucap Frans percaya. Ia juga tau perasaan Raiden selama ini pada Alea dan Frans percaya pada pria itu.
"Paman sangat percaya padaku ya? Tapi paman, asal kau tau. Aku hampir saja menyakitinya hanya untuk membuat dia berada di sisiku. Bagi om Leon, Tante Aileen, Alex dan Arsen, aku adalah orang jahat yang sudah menculik Putri mereka." jelas Raiden panjang lebar. Biasanya Raiden akan dingin pada orang lain, tapi tidak untuk Frans. Dia sangat dekat dengan bodyguard Alea yang satu itu dari kecil.
"Ya, jika aku menjadi tuan dan nona besar. Saya juga pasti akan marah jika anak gadis saya diculik seperti itu. Tapi ketahuilah tuan Raiden, mereka bersikap seperti itu karena mereka sangat menyayangi Putri mereka." tutur Frans menjelaskan, agar Raiden tidak salah paham dan berpikir yang macam-macam tentang keluarga Xavier.
"Baiklah, saya paham. Namun apakah paman juga menganggap bahwa saya adalah orang jahat?" seloroh Raiden seraya menatap Frans dengan dalam.
"Tidak. Kau hanya jatuh cinta, tapi caramu mengekpresikan cinta itu salah. Dan lagi, tuan, nona besar, tuan Alex dan tuan Arsen, tidak akan pernah menerima tuan Raiden apabila tuan masih menjadi sosok hitam itu." kata Frans yang berhasil membuat hati Raiden mencelos, walau wajahnya datar. Namun sorot matanya menyiratkan kesedihan.
Raiden terdiam dalam lamunannya memikirkan semua ucapan dari Frans. Apa yang dikatakan oleh pria paruh baya itu memang benar. Selama Raiden masih hidup dalam dunia hitam, selamanya ia dan Alea tidak akan pernah bersatu.
"Hem...paman Frans, aku--"
Saat Raiden akan bicara, tiba-tiba saja atensinya tertuju pada titik berwarna merah di wajah Alea. Raiden pun segera beranjak dari tempat duduknya.
"ALEA MENUNDUK!" ujar Raiden berteriak sembari berlari ke arah Alea.
Dor! Dor! Dor!
Suara tiga tembakan itu lepas tak jauh dari tempat Alea berdiri. Beruntung Alea cepat menundukkan kepalanya dan gadis itu jatuh terduduk. Tembakan itu lepas ke salah satu gelas di tempat bartender.
Prang!!
Semua orang berlarian keluar dari club' malam itu saat mendengar suara tembakan dan terlihat beberapa orang berpakaian hitam disana membawa senjata api, mereka berjalan mendekati Alea.
"Rai!"
Sial! Raiden dan Frans terlambat mendekati Alea dan salah satu orang berpakaian hitam itu membopong tubuh Alea bak karung beras.
"Akhh! Lepaskan aku!" pekik Alea.
"Sei molto bella, proprio come tua madre," ucap pria itu pada Alea yang membuat Alea, Raiden dan Frans tercengang saat mendengarnya.
...****...
__ADS_1
Kira-kira bahasa apa itu ya? Dan apa yang dikatakan si priaโบ๏ธ๐ปakan terjawab di next episode ๐