Obsesi Cinta Tuan Mafia

Obsesi Cinta Tuan Mafia
Bab 46. Nyonya Stanhard


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Pria bertopeng itu bersandar pada besi dek kapal pesiar, menikmati indahnya pemandangan malam di laut tersebut. Ia membuka topengnya, terlihat seseorang tak asing disampingnya, yaitu Frans.


"Tuan Leon, ada pesta berkumpulnya king of mafia di kota Paris. Haruskah kita kesana?" tanya Frans pada Leon.


Leon sekarang telah menjadi ketua dari kelompok red dragon. Mafia yang baru saja berdiri. Ya, Leon tidak mengambil identitasnya sebagai mafia nomor 1 di masa lalu sebab semua orang tau dia sudah mati. Namun ia mengambil identitas baru sebagai Mr. R, alias Reinhard sebagai alibi. Tentang kerajaan mafia, Kalajengking merah yang dipimpin oleh Mr. X, saat ini menempati posisi pertama. Red Snake nomor 2, dengan pemimpin William Stanhard. Dan Black dragon nomor 3 yang kemarin menculik Alea, dipimpin oleh Jack.


"Tentu saja, meski kita berada dalam kelas bawah....kita harus tetap datang kesana. Tentu dengan penyamaran." ucap Leon tegas. Tujuannya kesana hanya satu, mencari siapa orang yang sudah membantai keluarganya.


Pria itu kembali memakai topengnya, ia memandang foto keluarga kecilnya yang ada di dalam dompetnya. "Kalian tenang saja, aku akan membalas dendam atas kematian kalian dan aku juga akan menemukan Alex." gumam Leon sedih saat ia kembali teringat dengan keluarganya. Setelah semua ini selesai, segera ia akan kembali berkumpul dengan keluarganya yang tersisa.


*****


Usai menikmati cemilan yang dibuatkan para maids untuknya, Alea merasa kekenyangan. Namun ia merasa tak enak dengan kebaikan para maid yang sudah susah payah membuatkannya.


"Sudah cukup! Ini sudah malam, nona Alea harus beristirahat. Nona Alea sudah kekenyangan." ucap Brieta menginterupsi semua maids untuk berhenti memberikan cake pada Alea.


"Iya itu benar, nona Alea bisa memakannya esok lagi. Kita harus beristirahat juga." kata Yona menimpali.


"Baiklah...baiklah." para maid lainnya mendesah kecewa. Alea tidak tega melihat mereka. Ia pun mengatakan akan memakan 2 cake lagi dan sisanya besok.


Saat Alea akan menghabiskan cake terakhir, tiba-tiba saja gadis itu tertegun cukup lama. Matanya berkaca-kaca memandang cake durian itu. Para maid keheranan melihat Alea tiba-tiba sedih. Mereka bertanya ada apa dengan Alea, namun gadis itu tak bergeming.


"Nona...nona kenapa?" tanya salah satu maid dengan kening berkerut.


"Apa nona tidak suka durian?" tanya Yona cemas.


Alea menjatuhkan air matanya, lalu ia memegang piring dengan sepotong cake durian itu. Yona, Brieta, Clarisa dan 3 maid lain disana terkejut melihat Alea menangis.


"Tidak, aku sangat suka...aku suka durian...hiks..." Alea menutup mulutnya yang menahan tangis. Ia tak kuasa melihat cake durian yang mengingatkannya pada seseorang. "Aku menyukainya, durian ini...aku suka...hiks..hiks..." tangis Alea pecah, ia seakan lupa ada banyak orang disana. "Arsen...hiks...Arsen..."


"No...nona..." lirih para maid bingung dengan apa yang terjadi pada Alea.


#Flashback


Pada suatu malam, Alea hendak mengambil makanan di kulkas karena ia lapar. Cemilan manisan disana, namun alangkah kagetnya Alea saat ia melihat seseorang yang tengah asyik memakan cake seorang diri dengan lahapnya di dapur.


"Arsen, kau sedang apa?" tanya Alea pada adiknya itu.


"Apa kakak tidak lihat? Aku sedang makan kak, hehe." Arsen, anak remaja berusia 17 t?ahun itu nyengir pada kakaknya. Dengan bibir yang belepotan dengan cake berwarna kuning.


"Ish mau ini! Ya, kakak tau kau sedang makan...maksud kakak kau sedang makan apa?"


"Nih kak!" Arsen menyodorkan piring kecil yang ada cake durian itu pada Alea. Alea yang kurang suka duren, langsung saja menghindar dan menjauhkan cake itu.


"Ih...bau Arsen!" seru Alea pada adiknya.


"Ini bukan bau kakak, tapi wangi. Apalagi rasanya, hum..nyam nyam...enak sekali kak." ucap Arsen seraya tersenyum pada kakaknya.


"Apa kau sangat suka duren, huh?" tanya Alea pada adiknya, lalu mengambil tempat duduk kosong di samping Arsen.

__ADS_1


"Iya kak...aku kan suka duren dari kecil. Hehe...dan kakak kan suka coklat." Arsen yang baik hati, mengambilkan kue coklat untuk kakaknya yang dibuatkan bi Ratna dari dalam kulkas. Ia serahkan kue itu pada Alea lalu mereka pun makan bersama sambil tersenyum.


'Sebentar lagi kan ulang tahun Arsen, aku akan menyiapkan makanan serba duren untuk Arsen sebagai kejutan. Dia pasti suka' batin Alea.


"Kak, kenapa kakak melamun?" tanya Arsen lalu mengambil air minum di dalam gelas dan meneguknya.


"Eh--kakak tidak melamun. Ayo habiskan makanannya, lalu kita tidur." ajak Alea pada adiknya.


Saat gadis itu beranjak dari tempat duduknya, Arsen juga ikut bangkit dan dia tiba-tiba saja memeluk kakaknya. "Eh-eh Arsen ada apa?"


"Kak...apa kau tau? Aku sayang kakak." Arsen tersenyum lebar.


"Hehe...itu aku sudah tau. Kakak juga sayang padamu, dek." Alea membalas pelukan hangat adiknya.


"Kak...kak Raiden itu orang baik, dia sangat mencintai kakak. Aku berharap kakak bersama dengannya."


Alea terheran-heran mengapa Arsen memihak Raiden, padahal sebelumnya ia mengutuk Raiden yang sudah menculik kakaknya. Alea pun bertanya apa yang membuat Arsen memihak Raiden, setelah semua sikap pria itu pada dirinya. Arsen menjawab bahwa, dibalik sikap Raiden itu adalah bagian dari ungkapan rasa cintanya pada Alea.


Arsen berharap Alea bisa menikah dengan Raiden, daripada dengan Justin. Hal ini Arsen katakan satu hari sebelum pernikahan Alea dan Justin. Dan inilah saat terakhir Alea melihat adiknya.


#End Flashback


Tangan Alea bergetar, ia memegang sendok di cake durian itu. Dengan air mata yang masih mengalir deras, perlahan ia mencoba kue itu. Para maid termasuk Brieta merasa heran dengan sikap nona mereka.


'Apa-apaan wanita itu? Apa dia sedang bermain drama?' batin Clarisa nyinyir. Wanita itu masih duduk di kursi roda, sebab kakinya belum bisa sembuh total dalam waktu 4 bulan lagi.


"Nona..."


"Baiklah, kau yang laporkan pada tuan Raiden. Pergilah Yona!" perintah Brieta pada Yona.


Yona, gadis itu menganggukkan kepalanya. Ia hendak melangkah pergi, namun Tommy melarangnya. Tommy lah yang akan memberitahukan hal ini pada tuannya.


Tak berselang lama kemudian, Raiden datang bersama Tommy menuju ke dapur. Raiden berlari menuju kesana saat ia mendengar dari Tommy bahwa Alea menangis. Pria itu bahkan belum sempat mengeringkan rambutnya yang basah karena panik.


"Ada apa ini?" tanya Raiden datar dan tajam, saat melihat Alea menangis. Ia menatap tajam kepada para maid yang kini sedang menghormat ke arahnya. Sontak saja udara disana seperti mencekik mereka. Tidak ada satupun dari mereka menjawabnya, hingga akhirnya Brieta yang bicara.


"Tuan Raiden, saya tidak tahu kenapa nona Alea menangis saat melihat cake durian dan nona menyebut nama Arsen." jelas Brieta berbisik.


Sontak, raut wajah yang tadinya kelam dan penuh selidik itu. Kini berganti menjadi sendu dan teduh, apalagi saat melihat wanita yang ia cintai tengah menangis tergugu. Seolah sesak di dadanya. Lantas, Raiden pun mengisyaratkan pada semua orang dengan mengangkat satu tangannya untuk pergi dari sana. Dalam hitungan beberapa detik, semua orang termasuk maid dan pengawal sudah pergi dari sana, meninggalkan Raiden dan Alea berdua disana.


Alea terlonjak saat merasakan ada tangan yang menyentuh bahunya. Lantas ia pun melihat siapa yang sudah memegang bahunya. "Rai?" buru-buru gadis itu menyeka air matanya. Namun Raiden menahan tangan Alea yang akan menyeka air mata itu.


"Rai..."


"Menyeka air matamu, adalah tugasku Alea." tangan Raiden menyeka air mata Alea dengan lembut penuh perasaan.


"A-aku tidak menangis--" sangkalnya.


"Pembohong!" Raiden mencubit hidung Alea dengan gemas.


"Sakit Rai!" pekik Alea dengan bulir air mata yang masih mengalir. Kemudian pria itu meraih Alea ke dalam pelukannya. Seketika Alea merasakan kenyamanan, apalagi saat ia menghirup aroma tubuh Raiden yang maskulin dan menenangkannya.

__ADS_1


"Menangislah sepuasmu, tapi kau tidak boleh menangis lagi Al."


"Aku rindu Arsen, Rai...aku rindu semuanya." Alea membalas pelukannya. Gadis itu menangis dan mengatakan semua perasaannya pada Raiden. Betapa dirinya masih sulit menerima kenyataan bahwa orang tua dan adiknya telah tiada, ia ditinggal seorang diri karena kakaknya juga menghilang entah kemana.


Tak lama kemudian, Alea tertidur di dalam pelukan Raiden. Gadis itu cukup tenang, perlahan Raiden membelai lembut pipi Alea. "Kau tenang saja Al, aku akan selalu menjagamu. Mulai sekarang berbagilah segalanya denganku, terimalah hatiku Al."


Cup!


Raiden mengecup kening Alea penuh kasih. Ia berjanji akan selalu bersama dengan Alea disaat susah maupun senang. Raiden berharap juga agar Alea segera menerima hatinya.


Tanpa Raiden sadari, pengawal dan dua maid kesayangan Alea masih berada disana, mereka melihat pemandangan itu.


"Sepertinya nona Alea akan berganti nama menjadi Mrs. Stanhard." gumam Brieta senang.


"Iya nyonya....saya tidak menyangka bahwa tuan Raiden yang menyeramkan itu memiliki pawangnya hehe. Aku berharap agar tuan dan nona selalu bersama! Kalau bisa segera menikah." Yona berdoa tulus untuk hubungan Alea dan Raiden.


****


Keesokan harinya, pagi itu Alea terbangun dengan kepala sedikit sakit karena semalam ia menangis. Namun gadis itu terkejut kenapa dia bisa berada di atas ranjang empuk.


"Erghh--apa Raiden yang memindahkanku?"


Alea beranjak duduk, namun ekor matanya menatap seseorang yang terbaring disampingnya. "KYAAKK!!" Gadis itu berteriak dan matanya terbelalak melihat Raiden ada disampingnya.


"Ada apa? Kenapa berteriak?" tanya Raiden tanpa merasa bersalah, ia membuka matanya perlahan.


"Kenapa kau ada disini? A-apa yang sudah kau lakukan padaku? A-apa..."


Raiden ikut duduk, pria itu tersenyum lalu tangannya menyentil kening Alea.


"Hey sakit!"


"Kau berpikir apa hah? Aku tidak akan melakukan itu sebelum kita menikah."


"Memangnya a-aku berpikir apa? A-aku tidak berpikir macam-macam!" sentak Alea dengan wajah terkejutnya.


"Hem...saat kau resmi menjadi nyonya Stanhard, baru kita akan melakukan itu."


"Da-dasar cabul! Keluar kau dari sini?!" hardik Alea marah sambil melempari Raiden dengan bantal.


Akhirnya mereka pun perang bantal di dalam kamar. Namun saat Jerry datang dan mengabarkan bahwa ada undangan dari seseorang, Raiden langsung pergi dari kamar Alea. Alea sempat bingung, apa yang membuat Raiden begitu gelisah dengan surat undangan. Gadis itu jadi penasaran.


****


Malamnya Raiden tidak ada mansion, penjagaan untuk Alea juga di perketat. Ia tak boleh keluar dari Mansion, padahal Alea tadinya berniat untuk pindah dari sana.


"Tuan Tommy, tolong katakan padaku dimana Raiden? Kumohon..."


"Nona maafkan saya, saya tidak diizinkan untuk menjawab pertanyaan nona." Tommy masih menjawab pertanyaan dengan jawaban yang sama. Alea mendengus kesal, ia harus mencari cara untuk bisa ikut Raiden ke undangan pesta itu.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2