Obsesi Cinta Tuan Mafia

Obsesi Cinta Tuan Mafia
Bab 40. Insiden mansion Xavier


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Setelah mendengarkan penjelasan demi penjelasan dari Raiden tentang Raymond dan juga semua dunia hitamnya. Alea paham, sedikitnya Raiden melakukan ini demi saudaranya.


Alea berusaha memahami perubahan dalam diri Raiden.Tapi gadis itu ingatkan sekali lagi, bahwa Raiden tidak boleh melangkah terlalu jauh.


"Rai, aku paham kenapa kau begini. Tapi bisakah kau berhenti setelah menemukan Raymond?" ucap Alea seraya memohon pada Raiden.


"Bisa."


Mata Alea berbinar-binar saat mendengar jawaban dari Raiden. Ia senang bila Raiden mau berhenti berada di dunia hitam setelah menemukan Raymond. "Kau harus janji padaku! Kau akan kembali selamat, kau akan hidup dan kau akan menemukan saudaramu." ucap Alea seraya menunjukkan jari jempolnya.


"Baik." Raiden menautkan jempolnya pada jari jempol Alea. Lalu mereka saling mengucap janji yang sering mereka lakukan di zaman TK dulu.


"Stempel!" Alea menyentuh kening Raiden dengan jari jempolnya. "Kau sudah janji padaku, jadi jangan berbohong."


"Lea...aku juga ingin kau berjanji padaku." ucap Raiden kali ini yang meminta gadis itu berjanji.


"Apa?" tanya Alea dengan kedua mata polosnya menatap Raiden.


"Saat aku kembali nanti, kau tidak boleh menikah dulu. Ataupun memiliki hubungan dengan pria manapun juga."


Gadis itu tercengang mendengar permintaan dari Raiden. Kedua matanya melebar menatap Raiden. Apa pria itu serius memintanya untuk tidak menikah dan tidak memiliki hubungan dengan pria manapun?


"Apa kau serius? Kenapa Rai? Kenapa kau memintaku berjanji seperti ini?" Alea bingung.


"Bukankah kau sudah tau jawabannya, Alea." jawab Raiden yang lugas dengan tatapan dalam pada gadis itu.


"Rai..."


"Kau sudah tau, jadi jangan pura-pura tidak tahu. Aku tau ingatanmu bagus Alea. Setelah apa yang terjadi pada kita selama di Milan, kau sadar bahwa aku men--"


Bibir Raiden bungkam manakala Alea buru-buru menutup bibir pria itu dengan satu tangannya. Alea berkata jangan meneruskan lagi ucapannya. Ia tak mau mendengarkan ungkapan cinta lagi dari sahabatnya itu. Alea tegaskan sekali lagi bahwa mereka adalah sahabat dan untuk kesekian kalinya Raiden menelan kepahitan dari ucapan Alea padanya.


Menusuk.


Menyakitkan.


Menyesakkan dadanya.


Wajah datarnya itu berubah menjadi sendu, dengan sedikit air mata menggenang di bawah sana. Padahal Raiden berharap bahwa ia akan mendengar kata cinta dari Alea sebelum ia kembali ke Meksiko besok.


"Apa kau masih mencintai Justin? Alea...Justin sudah menikah."

__ADS_1


"Aku...aku tidak tau. Tapi yang aku tau kita adalah sahabat, hubungan kita seperti itu Rai." kata Alea yang terkesan ambigu bagi Raiden, sebab wanita itu tidak memberikan kejelasan tentang Justin. Raiden jadi bertanya-tanya dalam hatinya apakah Alea masih mencintai pria itu, atau tidak?


"Baiklah, jika kau memang berpikir kita adalah sahabat. Maka--tidak masalah bukan jika aku melakukan ini?" wajah Raiden kian mendekat kepada Alea, sontak saja gadis itu pun memundurkan tubuhnya. Kedua netra mereka bertemu pandang, saling menyiratkan perasaan yang tidak dapat dijelaskan oleh kata-kata.


Benarkah mereka ini hanya sebatas sahabat? Ataukah ada something yang lebih di antara mereka. Pertanyaan semua tertuju pada Alea, gadis itulah yang belum mengatakan cinta. Sedangkan Raiden, dia sudah menyatakan cintanya berkali-kali kepada gadis itu.


"Rai, apa yang akan kau lakukan? Kenapa kau--" Alea berhenti bicara mana kalau dia melihat tatapan pria itu yang begitu nanar padanya. Menyiratkan kabut gairah yang mendalam.


"Jika benar kau hanya menganggap kita sahabat, maka kau akan mendorong ku. Namun jika sebaliknya, maka--" Raiden tidak melanjutkan ucapannya, tangan kekarnya meraih tengkuk Alea dengan lembut. Perlahan tapi pasti, Raiden menyatukan bibirnya dengan bibir ranum nan indah milik gadis itu.


Alea tidak marah, dia tidak menolak, apalagi memberontak saat bibir Raiden menyentuh bibirnya. Lama kelamaan, ia membiarkan lidah Raiden masuk ke dalam mulutnya dan mengobrak-abrik didalamnya. Mereka pun bertukar saliva dengan lembut dan refleks Alea pun memegang dada bidang milik Raiden.


"Hmphh--umptt-" lenguh Alea tatkala lidah Raiden semakin mahir bermain didalam sana, memanjakan Alea.


Lembut dan semakin dalam ciuman itu, hingga 3 menit kemudian. Raiden melepaskan ciuman itu karena ia merasa Alea sudah kelurahan pasokan oksigen.


Raiden menyatukan kening mereka dan otomatis membuat kedua hidung mereka yang mancung jadi menyatu juga. Masih dalam keadaan mengambil nafas, kedua netra mereka bertemu pandang dengan dalam. Tangan Alea juga masih memegang dada Raiden.


"Rai, kita sahabat....hubungan kita tidak seperti ini." Alea berusaha menyangkal perasaan yang ada di dalam hatinya.


"Bodoh! Sudah kubilang hubungan kita tidak seperti itu. Dan apa yang baru saja terjadi di antara kita, sudah membuktikan segalanya. Bahwa kita saling mencintai." seloroh Raiden yang membuat Alea terpaku. Gadis itu tak tahu harus menjawab atau berkilah apa lagi.


Pria itu menjauhkan kepalanya, namun tangannya masih membelai tengkuk si cantik dengan lembut. Sorot matanya dalam dan membuat Alea tenggelam didalamnya. Gadis itu, menggigit bibirnya sendiri.


Deg!


Alea tercekat, ia tidak menyangka bahwa Raiden sudah memantapkan hatinya untuk memilih Alea sebagai pelabuhan terakhirnya. Rasanya sudah sedalam itu hati Raiden untuk dirinya, tapi Alea masih bingung.


"Kau harus baik-baik saja selama aku pergi, kau harus mengangkat telponku bila aku menelepon. Paham?" seloroh Raiden seraya mengecup kening Alea dan gadis itu membiarkan Raiden berbuat sesukanya.


"Jangan menggigit bibirmu seperti itu, sebab itu adalah tugasku." seringai Raiden saat melihat gadis itu menggigit bibirnya sendiri. Dengan cepat, Raiden kembali memagut bibir indah Alea sampai bengkak dan basah.


"Kita pulang." ucap Raiden usai ciuman basahnya diakhiri. Jari Raiden mengusap basah dibibir gadis itu.


Alea tidak menjawab, dia memalingkan wajahnya. Entahlah bagaimana hatinya saat ini, tapi yang jelas ia tak pernah merasakan seperti ini saat dekat dengan Justin. Dan sebagai pengingat, Justin tak pernah mencium bibirnya. Hanya pelukan, pegangan tangan, tak lebih dari itu. Raiden yang pertama.


Setelah menceritakan segalanya, Raiden mengajak gadis itu untuk makan terlebih dahulu sebelum ia mengantar Alea pulang ke rumahnya. Sebab keluarganya sudah menelpon Alea berkali-kali.


"Kau mau makan apa? Kebetulan ada pasar malam disana, pasti banyak makanan." tunjuk Raiden pada sebuah pasar malam di ujung jalan dekat sekolah SMA mereka dulu.


"Hem...boleh." Alea tersenyum.


"Oke." sahut Raiden datar, tapi dalam hati ia senang karena bisa menghabiskan waktu bersama Alea sampai besok.

__ADS_1


"Aku akan menghubungi mommy terlebih dahulu," ucap Alea sambil melihat ponselnya. Gadis itu tercengang melihat isi pesan dari adik, kakak, mommy dan juga bodyguardnya.


"Ada apa, Al?" tanya Raiden saat melihat Alea yang gelisah saat melihat ponselnya.


"Kita pulang sekarang Rai, ke rumahku." pinta Alea seraya memegang lengan kiri berotot Raiden.


"Ada apa?" tanya Raiden cemas melihat Alea gelisah.


"Nanti akan ku jelaskan. Antarkan aku pulang sekarang Rai!" ujar Alea pada Raiden.


"Baiklah."


Raiden kembali menyalakan mesin mobilnya, kemudian melajukan mobil ke mansion Xavier. Setelah menempuh perjalanan 15 menit, Raiden dan Alea pun sampai didepan mansion.


Namun disana banyak polisi yang berdatangan, mobil polisi juga terparkir disana. Alea dan Raiden terkejut melihat mereka semua. "A-apa yang terjadi?" tanya Alea gelagapan.


Alea berlari masuk ke dalam rumah, ia melihat banyak polisi disana. Lalu ia kaget melihat ada 3 jenazah yang tidak asing baginya terbaring di lantai dengan kondisi berdarah-darah.


Bu Ratna dan beberapa pelayan disana menangisi tiga jenazah itu. Tubuh Alea ambruk ketika melihat tiga jenazah itu.


"Nyonya....tuan muda Arsen, tuan Leon...hiks..."


"Mommy...Arsen...Daddy...." Alea tidak percaya ini, jenazah tiga orang tersayangnya terkapar di lantai dengan kondisi tak bernyawa. Wajah mereka pucat dan ini seperti mimpi buruk untuk Alea.


Raiden juga kaget melihat itu semua. Ia ternganga, tapi lebih kaget lagi saat melihat ada luka tembak di tubuh mereka.


"Alea..." lirih Raiden.


"Apa yang terjadi? Apa yang--"


"Nona...nona harus kuat nona." pinta Frans dan Ratna pada gadis itu. Mereka berdua adalah orang terdekat dengan Alea di rumah ini.


Gadis itu kosong melihat kedua orang tua dan adiknya telah menjadi mayat. Ia menangis histeris dan tidak percaya semua ini terjadi.


"MOMMY! DADDY!! ARSEN!!!" teriak Alea histeris. Tak berselang lama kemudian, matanya mulai menggelap.


"ALEA!!" teriak Raiden seraya menahan tubuh Alea yang roboh. "Alea!!"


...*****...


Wah...wah apa yang terjadi ya? Apakah benar keluarga Alea meninggal? Lalu kemana Alexander? 🤧🤧 akan banyak adegan action nanti ya....


Hai Readers jangan lupa mampir ke karya baru author ya, terus mampir ke sini juga...karya WENY HIDA...seru banget 😍🙏

__ADS_1



__ADS_2