Obsesi Cinta Tuan Mafia

Obsesi Cinta Tuan Mafia
Bab 44. Ada aku disini


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Cahaya panas yang terik menyelimuti suasana duka. Orang-orang berpakaian hitam satu persatu mulai pergi dari sebuah pemakaman besar yang letaknya tak jauh dari rumah Alea, kediaman Xavier.


Alea, gadis itu masih terduduk di dekat nisan ibu, adik dan juga ayahnya. Padahal jenazah yang ada di dalam peti mati Leon itu bukanlah dirinya, melainkan salah satu anak buahnya yang mati tertembak dan di palsukan sebagai identitas Leon.


Buliran air mata masih membasahi pipi Alea, beberapa kerabat terdekatnya berusaha untuk membujuk Alea pulang karena hari sudah mulai gelap.


"Alea, ayo pulang dengan Tante nak. Kau harus istirahat, kau belum makan apapun sejak tadi pagi." Lusi, sahabat baik Aileen berusaha untuk membujuk gadis itu. Tapi tidak ada respon, Alea masih membisu dengan tatapan mata kosong dan air mata yang mungkin kini sudah mengering.


Ini semua bagaikan mimpi buruk bagi Alea, mendadak dan menyakitkan hati Alea. Sungguh Alea tidak bisa menerima fakta ini dengan mudah. Kehilangan semua anggota keluarganya dalam satu malam, membuat gadis itu sangat terpukul. Hanya satu harapannya, yaitu Alexander yang keberadaannya tidak diketahui.


Agatha, adik dari Leon yang baru datang dari Inggris juga berusaha membujuk Alea agar tenang dan mau pulang. "Alea...kita pulang ya sayang?"


Gadis itu bergeming, ia hanya terdiam mematung. Tidak ada satupun orang yang bisa membujuknya saat ini. Bahkan Cleo, Sam dan Asha sekalipun. Mereka sangat menyayangi Alea, seperti anak mereka sendiri. Mereka kasihan pada Alea yang baru saja ditinggal menikah oleh kekasihnya dan sekarang dia harus menghadapi duka mendalam perihal keluarganya. Ini tidak mudah.


'Daddy....mommy, Arsen...kenapa kalian meninggalkanku? Kenapa kalian kejam padaku? Kenapa harus seperti ini? Kenapa tidak membawaku dengan kalian? Jika malam itu aku pulang ke rumah, pasti aku akan bergabung dengan kalian juga kan?' batin Alea perih.


Raiden menghela nafas, ia sungguh tak tega melihat wanita yang ia cintai terluka sedalam ini. Tapi ia paham kenapa Alea begini, gadis itu butuh pelampiasan untuk melewati masa dukanya. Setiap orang memang mempunyai fase dan cara sendiri-sendiri untuk melampiaskan rasa sedih mereka. Tapi--sungguh Raiden tak tahan lagi dan ia kembali mendekati gadis itu.


"Kau tidak sendirian Alea...ada aku dan masih banyak orang yang menyayangimu. Mommy, Daddy dan adikmu pasti akan sedih melihatmu begini. Please, ayo kita pulang." ujar Raiden membujuk. Pria itu memegang tangan Alea dengan pelan, membuat wanita itu bangkit.

__ADS_1


Semua kerabat dekat Alea tersenyum melihat Raiden berhasil membuat gadis itu sedikit merespon. Setidaknya Alea akan pulang ke rumah dan beristirahat.


"Ayo..."


Saat berjalan keluar dari pemakaman, terlihat seorang wanita berpakaian seksi dan berwarna merah itu mendekati Alea. Alea hanya menatap gadis itu dengan kosong.


"Aku turut berdukacita ya, atas meninggalnya keluargamu itu. Ya, mungkin ini sebagian dari karma." ucap Cindy sinis, seolah menertawakan penderitaan Alea.


"Apa maksudmu, Cindy?" tanya Raiden sarkas.


"Aku hanya berbicara fakta, semua kemalangan dan kesialan yang terjadi pada Alea adalah karena karmanya sendiri. Karma sudah merebut kekasih orang lain!" serka Cindy seraya tersenyum menyeringai, matanya begitu menyiratkan kepuasan saat melihat Alea yang hancur.


"Jaga bicaramu gadis kecil! Kau tidak pantas bicara dan bersikap seperti ini di pemakaman." tegur Cleo seraya menatap tajam pada Cindy.


"Sungguh tidak sopan, datang ke acara pemakaman dengan memakai pakaian seperti ini!" cetus Asha yang juga ikut bicara.


"Suka-suka aku lah. Apa urusannya dengan kalian? Yang penting aku sudah mengucapkan bela sungkawa." balas Cindy sengit, tak mau kalah. "Ah ya...dan untukmu Raiden. Aku tau kau menyimpan rasa untuk Alea, tapi aku rasa kau harus mengurungkan niatmu untuk memilikinya. Hapus saja keinginanmu itu." lirik Cindy pada pria tampan yang tengah memegangi Alea.


Raiden tidak menanggapi ucapan Cindy, seolah angin lalu. Melihatnya pun tidak! Ia menganggap Cindy orang gila.


"Kau akan terkena sial dan kau akan mati Raiden, camkan ucapkanku baik-baik!" teriak Cindy seraya tersenyum smirk.

__ADS_1


Pria itu menutup telinga Alea dengan kedua tangannya, kemudian ia menatap Cindy dengan tajam. "Jangan paksa aku untuk melukai perempuan. Kau tau kan bagaimana saat aku marah? Kau ingin lihat bagaimana tangan ini bergerak? Ah...atau kau lupa kejadian 4 tahun yang lalu di gudang?" ancam Raiden dengan tatapan intimidasi dan senyum psikopatnya terukir disana. Beruntung keluarganya tidak melihat itu sebab posisi Raiden blocking.


Seketika tubuh Cindy gemetar, ia meremass roknya. Matanya berkaca-kaca, hanya dengan tatapan dan ancaman itu berhasil membuat Cindy takut.


Perlahan memory Cindy kembali pada 4 tahun yang lalu. Dimana ia sedang dihukum untuk membersihkan gudang sekolah. Saat itulah secara tak sengaja ia melihat Raiden tengah membunuh seekor anjing disana. Anjing yang telah melukai sedikit kaki Alea, ia tega memutilasi anjing itu. Setelah melihat kejadian itu Cindy ketakutan saat berhadapan atau bahkan sekedar bertemu tak sengaja dengannya.


"Apa kau mau seperti ANJING itu?" Raiden kembali tersenyum sinis. Beruntung Alea tidak mendengarnya, sebab kedua tangan Raiden masih menutup rapat telinganya.


"Kau...kau psikopat!" cetus Cindy, kemudian ia pun pergi dari sana. Cindy tak mau berurusan dengan Raiden.


****


1 Minggu berlalu, Alea melalui semua.. hari-harinya dengan galau. Raiden harusnya kembali ke Meksiko, terpaksa harus mengulur waktu untuk kembali kesana. Ia sudah terikat janji dengan Leon akan membawa Alea kesana.


Akhirnya Alea setuju pergi kesana dengan alasan liburan, ia sedih berada di mansion keluarganya sedangkan ia sendirian kesepian disana. Dan hari itu juga Alea dan Raiden pergi ke Meksiko, namun Alea dengan tegas mengatakan bahwa dia tidak mau serumah dengan Raiden.


"Kau tidak mau serumah denganku? Baiklah...kau bisa memakai apartemen milikku disana. Dan kali ini kau harus ikut dulu ke Mansionku, banyak yang ingin bertemu denganmu."


"Hem...baiklah." sahut Alea datar. Masih belum ada senyum bahagia di wajahnya.


...****...

__ADS_1


__ADS_2