
...🍀🍀🍀...
Leon dan Aileen seperti kalah telak, orang orang ini menyerang mereka disaat lengah. Disaat Leon dan Aileen tak mau berurusan lagi dengan mafia, juga masa lalu kelam mereka. Namun rupanya takdir kejam tak mengizinkan mereka bebas.
Arsen, pria berusia belasan tahun itu terkapar tak berdaya setelah 5 tembakan menembus tubuhnya. Dan akhirnya membuat Leon kalap, tanpa ampun ia menembaki ke 7 pria berpakaian hitam dan bertubuh tinggi itu tanpa prepare apapun.
"Sialan kalian semua! BRENGSEK! BRENGSEK!"
DOR!
DOR!
DOR!
Alexander tidak diam saja, ia mengambil pistol Aileen dan ikut membantu daddynya untuk melampiaskan kesal sebab mereka menembak Arsen, adiknya dengan keji. Frans juga ikut menembaki mereka tanpa rasa takut. Ia sesak melihat tuan mudanya mati mengenaskan seperti itu.
"Brengsek! Beraninya kalian menembak ADIKKU!!" teriak Alexander marah.
Air mata menggenang dibawah mata mereka, merah dan penuh kemarahan pada orang-orang yang tidak tahu siapa itu. Disisi lain Aileen sibuk dengan Arsen, ia memeluk putranya yang sudah sekarat.
"Kau harus bertahan nak." pinta Aileen dengan bulir air mata yang tidak bisa dihentikan. Luruh begitu saja, melihat Putranya menahan rasa sakit ini. Jika ia bisa menggantikan Arsen, ia rela.
"Mom....aku...sangat...lelah..." lirih Arsen seraya menatap Aileen dengan mata sayunya. Wajahnya pucat dan darahnya terus mengalir deras membasahi tubuhnya.
"Tidak! Mommy mohon, jangan tutup matamu! Jangan nak." isak Aileen seraya membelai pipi putranya.
"Mom...Ar...Arsen sayang...mom...my...Arsen sayang kak Alea...kak Alex...Daddy... Arsen...sayang..." suara Arsen melemah, sungguh membuat hati seorang ibu tercabik dan hancur saat mendengarnya. Kata-kata Arsen seolah adalah kata terakhir.
Ditengah-tengah suara tembakan yang saling bersahutan itu, Aileen fokus pada Arsen sepenuhnya. Tak peduli keadaan sekitarnya sedang kacau.
Ketika anak buah Leon datang kesana untuk membantu, Leon dan Alexander menghentikan aksi menembak mereka terlebih dahulu dan digantikan oleh anak buah Leon yang terlibat aksi kejar-kejaran tak terelakkan lagi.
__ADS_1
Leon dan Alexander menghampiri Aileen dan Arsen. Aileen menangis memeluk Arsen. Mereka hendak membawa Arsen ke rumah sakit, tapi Arsen menolak. Akhirnya Alexander menelpon dokter keluarga mereka yang rumahnya tak jauh dari sana, yaitu dokter Levin.
"Arsen, ini Daddy nak...kau pasti akan baik-baik saja. Dokter Levin akan segera datang." ucap Leon seraya memegang tangan putranya itu.
"Dad....to...long... bilang...sama kak Alea...kalau aku...sayang dia..." lirih Arsen dengan nafas tersengal-sengal dan semakin membuat 3 anggota keluarganya menangis. Mereka takut Tuhan akan mengambil Arsen lebih dulu, apalagi Aileen. Wanita itu tidak bisa menahan rasa sedihnya, ia menangis dan membelai pipi Arsen yang kini sudah berlumuran oleh darahnya sendiri.
Tak lama kemudian, Arsen tersenyum tipis, netranya menatap Alexander dan kedua orang tuanya secara bergantian. Sepersekian detik kemudian, tangan Arsen terkulai lemah dan dia menutup mata untuk selamanya.
"TIDAK! ARSEN! ANAK MOMMY....HIKS... AAAAHHHHHHH...." Aileen menjerit histeris melihat Arsen menutup mata selamanya di dalam pelukannya. "Bangun nak...ayo bangun! Buka MATAMU! Ini mommy nak...ini mommy... HUAAHHH...."
Leon dan Alexander juga menangis tanpa suara melihat Arsen sudah tidak bernyawa. Mereka tidak percaya bahwa anak laki-laki yang ceria dan selalu meramaikan mansion itu telah berpulang dan tak akan kembali.
"Arsen...hiks..."
Ditengah duka itu, Aileen tiba-tiba beranjak dari duduknya. Ia meminta agar Alexander menjaga jenazah Arsen. Kemudian Aileen melangkah pergi dengan membawa pistolnya berjenis shotgun.
"Aileen! Kau mau kemana?" tanya Leon setengah berteriak namun tak dihiraukan oleh Aileen.
Wanita itu terus melangkah keluar rumah, mengikuti anak buah Leon dan para si peneror itu keluar rumah. Dia ingat jelas perawakan pria yang sudah menembaki putranya.
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
Aileen menembaki mereka sebanyak 5 kali, persis seperti mereka menembaki Arsen. Tubuh dia pria itu limbung ke tanah. Aileen tertawa sambil menangis. "Memang kematian kalian tidak akan bisa membuat Arsenku kembali...tapi...aku puas mengirim kalian ke NERAKA!" ujar Aileen sakit hati. Mungkin sekarang hidupnya akan kurang lengkap tanpa kehadiran salah satu buah hatinya, di akan hampa.
"Aileen, sudah! Kita harus bersama Arsen dan Alexander sekarang! Kumohon...tenangkan dirimu sayang." Leon mengajak Aileen kembali masuk ke dalam rumah dan biarkan anak buahnya mengurus semuanya.
Namun kejadian dan takdir begitu cepat, semuanya begitu mendadak. Hingga satu tembakan lagi tidak berhasil lolos dan membuat Aileen tiada saat ia berusaha untuk menyelamatkan Alexander yang diculik dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Tidak, jangan membawa-bawa nama mantan mafia terbesar nomor 1 dan dua disini. Jika semuanya sudah kalah oleh takdir, tidak ada yang bisa dikatakan lagi. Yang namanya musibah, bahagia, kematian dan kehidupan. Sudah diatur oleh sang pencipta.
Leon, satu-satunya yang ada disana. Menangisi jenazah putra dan istri tercintanya. Lalu Alexander dibawa pergi oleh mereka. Setelah membawa pergi Alexander, mereka pun kabur dari sana. Leon bersumpah, ia akan membalaskan dendam pada orang-orang yang sudah membuat keluarganya hancur. Leon akan membangun kembali dan mengumpulkan kekuatannya di dunia hitam, untuk membalas dalang dari perbuatan keji ini.
__ADS_1
"Aku bersumpah demi Tuhan! Aku akan membalas semua orang yang sudah membuat istri dan anak-anakku seperti ini." Leon memeluk Aileen, matanya tak berhenti mengeluarkan buliran bening. "Sayang, beristirahatlah dengan tenang...maaf aku tidak bisa menjagamu dan anak-anak kita...maafkan aku sayang. Aku mencintaimu....aku mencintaimu...." pria itu terisak, ia mengecup kening sang istri dengan lembut. Tangannya berlumuran darah sang istri.
Sedetik kemudian, sorot matanya berubah menjadi tajam, kelam dan penuh kemarahan. Dendam yang membara telah ia tanamkan dalam hati dan pikirannya.
*****
Obrolan di ruang bawah tanah antara Raiden dan Leon, terpaksa harus berakhir manakala Leon mengatakan bahwa ia akan segara pergi ke Italia dengan identitas baru.
"Aku akan pergi, kumohon jaga putriku...aku percayakan dia padamu."
"Tapi om--kapan om akan kembali? Alea setidaknya, dia harus tau tentang ini bukan?"
"Rahasiakan ini dari Alea, saat waktunya tiba...aku yang akan menemui kalian di Meksiko." jelas Leon seraya melihat Raiden dengan sendu. Leon tau Raiden sangat mencintai anaknya, tapi ia tau juga tau betapa bahayanya Alea bisa bersama dengannya. Namun setelah ia pikirkan lagi, bukankah berada di tempat berbahaya lebih aman untuk Alea saat ini?
"Baiklah om...tapi, aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu om."
"Apa itu?"
"Kenapa om mempercayakan Alea padaku? Bukankah sebelumnya om melarangku untuk mendekati Alea." tanya Raiden penasaran.
Leon tersenyum, kemudian menjawab. "Karena kau adalah orang gila yang nekad."
"APA?" Raiden tercekat heran mendengarnya.
"Kau adalah orang gila yang nekad, menculik putriku di hari pernikahannya. Kau sangat mencintai putriku dan aku percaya kau sanggup berbuat nekad bila terjadi sesuatu pada Putriku. Kau sanggup melakukan apa saja untuk Alea, bukan? Katakan! Aku benar atau tidak, Raiden?" tanya Leon dengan sorot mata yang dalam kepada pria itu.
"Benar om, saya sangat mencintai Putri om. Dan saya pastikan akan menjaganya dengan cara gila yang nekad." ucap Raiden penuh kesungguhan. Tidak ada kebohongan di dalam raut wajah dan sorot matanya. Ia jujur, ia mencintai Alea....sangat.
Setelah pembicaraan itu, Raiden membantu Leon melarikan diri dari sana diam-diam. Ketika semua orang sedang sibuk dengan pemakaman.
...****...
__ADS_1
Jangan lupa komennya ya guys.😍 kasih gift juga boleh....
Maafkan author yang mengambil keputusan besar membuat Aileen dan Arsen meninggal karena disinilah puncak konflik untuk kerajaan mafia nantinya...❤️ Next episode, Alea udah ada di Meksiko ya guys...