
...🍀🍀🍀...
Semua orang yang ada di meja makan itu terheran-heran dengan Lisa yang tiba-tiba saja mual. Tapi semuanya mencoba berpikir positif bahwa Lisa hanya masuk angin. Tidak ada pikiran macam-macam seperti itu.
Sementara itu disisi lain, Justin berusaha untuk tidak peduli pada Lisa. Dia juga tidak berpikir macam-macam tentang Lisa. Jujur saja Justin kecewa saat tau bahwa Lisa selama ini menyukainya dan ia menduga bahwa Lisa bersahabat dengan Alea karena ingin dekat dengannya.Ya, itu memang benar pada awalnya. Tapi pada akhirnya Lisa benar-benar tulus bersahabat dengan Alea bukan karena perasaannya pada Justin saja.
"Mom, aku susul Lisa dulu ya." kata Alea lalu beranjak dari tempat duduknya. Ia hanya mendapatkan jawaban anggukan kepala dari semua orang yang ada disana.
Alea yang cemas pada sahabatnya itu, segera pergi menyusulnya ke toilet yang ada di dapur. Alea hanya bisa berdiri didepan pintu sebab Lisa mengunci pintunya. Tapi Alea bisa mendengar bahwa Lisa muntah-muntah didalam sana.
"Lis, apa kau baik-baik saja? Lisa?" Alea mengetuk pintu itu, sungguh ia sangat mencemaskan keadaan Lisa.
Di dalam kamar mandi, Lisa terlihat kacau. Wajahnya pucat, bahkan ia menangis sambil melihat dirinya di cermin.
"Tuhan aku harus bagaimana...Alea, bagaimana bila kau tau semuanya? Hiks...tapi aku tidak menahan ini seorang diri, ini juga sulit untukku. Maafkan aku Alea, tapi aku harus bicara dengan Justin dia harus tau." ucap Lisa sambil terisak, ia memegang perut datarnya sekilas. Lalu ia pun mengambil ponsel di dalam tas selempangnya. Lisa mengetikkan sesuatu disana, ia mengirimkan pesan pada Justin.
...Justin, temui aku sore ini di apartemenku. Aku ingin bicara hal penting....
Setelah mengirim pesan itu, Lisa kembali menangis dan jatuh terduduk di lantai kamar mandi. Dia tidak mengindahkan Alea yang masih ada disana.
Pikiran Lisa kembali pada dua hari yang lalu, dimana ia memeriksakan kondisi tubuhnya yang akhir-akhir ini menjadi lemah. Pusing, mudah lelah, muntah mual dan menolak makanan. Alangkah kagetnya Lisa saat ia melihat hasil tes kesehatan tubuhnya, yang malah menyatakan bahwa dirinya tengah mengandung dan usianya kandungannya sekitar 3 Minggu, tepat setelah ia dan Justin melakukannya. Lisa rasa Justin berhak tau tentang hal ini, tapi ia juga bingung dengan perasaan Alea nantinya. 'Maafkan aku Alea, tapi aku juga tidak bisa merelakan Justin. Justin adalah ayah dari bayiku, Alea.'
"Lis? Apa kau baik-baik saja?" tanya Alea lagi, kali ini dengan panik. Ia takut terjadi sesuatu pada Lisa.
Lisa segera bangkit dari tempat duduknya dan mengusap air matanya. Ia berusaha menetralkan kondisi wajahnya saat ini. Lisa dilema, sungguh dilema dengan keadaan ini. Tapi Justin wajib tahu kan tentang kehamilannya?
'Maaf Alea, maaf aku egois'
Ceklet!
__ADS_1
Pintu kamar mandi itu pun terbuka, terlihat Alea yang sangat mencemaskan sahabatnya. Ia langsung memegang tangan Lisa dengan erat.
"Lis, kau sepertinya sakit." cetus Alea cemas.
"Aku baik-baik saja Al, hanya sedikit masuk angin." dusta Lisa seraya tersenyum dibibir pucatnya.
'Maaf Al, kau baik tapi aku akan menyakitimu setelah fakta ini terbongkar' batin Lisa merasa bersalah. Tapi dia juga tidak mau kehilangan Justin setelah tau kehamilannya.
"Benarkah? Kalau begitu, lebih baik bila dokter memeriksamu. Aku akan panggilkan dokter keluargaku agar--"
"Tidak perlu Al, aku hanya butuh istirahat." Lisa tiba-tiba saja memeluk Alea dengan erat. "Alea kita sahabat kan?"
"Ya Lis, kita bahkan sudah seperti saudara. Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti ini?" tanya Alea heran, sambil membalas pelukan Lisa. Walau dalam hati ia bertanya-tanya ada apa dengan Lisa.
"Apakah kau akan memaafkan kesalahanku, Al? Apakah kau akan memaafkanku bila aku mengambil sesuatu darimu?"
"Jika aku menginginkan sesuatu--"
"Sweetie, kau ada disini?" pertanyaan itu sontak saja membuat ucapan Lisa terputus. Lisa dan Alea pun melepaskan pelukan mereka.
Justin mendekati Alea lalu menggandeng tangan gadis itu dengan posesif. Alea balas menggandeng tangannya, ia sedang berusaha menumbuhkan kembali rasa cintanya pada Justin yang sempat terbenam karena memikirkan Raiden. Justin dan Lisa sempat beradu netra tajam, tapi hanya sekilas. Alea yang polos tidak menyadarinya, tapi Alex dia cukup peka.
****
Setelah makan siang dan membicarakan masalah pernikahan Alea Justin dibahas oleh pihak keluarga. Justin dan Lisa pun berbicara di apartemen Lisa tanpa diketahui oleh siapapun juga. Tepat setelah mereka pulang dari rumah Alea.
"Kau mau bicara apa? Hal penting apa? Apa kau sakit setelah kejadian itu? Aku akan kirimkan uang untuk biaya ke dokter." cecar Justin yang tak mau banyak bicara lagi setelah ini. Justin malas berurusan dengan Lisa lagi. Lisa bagai noda yang ingin ia hapus dari hidupnya.
"Justin, kau tau aku tak butuh uangmu. Dan tentang sakit, ya aku memang sakit dan aku sudah memeriksa diri ke dokter." ungkapnya.
__ADS_1
"Lalu? Apa?"
Tanpa kata, Lisa menyerahkan surat dan juga alat tes kehamilan pada Justin. Pria itu melihat ada garis dua disana, lalu ia beralih melihat isi surat tersebut yang mengatakan bahwa Lisa hamil.
"Kau hamil?" kata Justin tak terima.
"Ya, aku hamil Justin. Anak kita." jawab Lisa.
"Ini tidak mungkin... maksudku apa tujuanmu memberitahukan ini padaku?!" hardik Justin tidak terima dan terkejut dengan hasil tes itu. Lisa sudah menduga hal ini, tapi tetap saja rasanya sakit.
"Aku ingin kau bertanggungjawab, Justin."
"APA?!"
"Aku hamil anak kita, maka kau harus menikahiku." tegas Lisa dengan tangan gemetar. Sakit rasanya melihat raut wajah Justin yang marah mengetahui kehamilan ini.
"Maaf Lisa, aku menolak. Aku tidak bisa menikahimu karena aku hanya akan menikahi Alea. Mumpung usia kandunganmu masih kecil, lebih baik gugurkan saja!" seru Justin menolak tanggungjawabnya pada Lisa.
Lisa menangis, lalu ia menampar Justin penuh kemarahan dan rasa kecewa. Justin diam saja ditampar seperti itu, asalkan Lisa menuruti keinginannya.
"Tega kau! Ini anak kita!" teriak Lisa marah. Namun Justin terlihat tidak merasa bersalah pada Lisa setelah mengatakannya.
...****...
Spoiler...
"Alea, apa kau baik-baik saja?" pria itu berdiri di dekat teras belakang mansionnya sambil melihat ke arah taman tempat Alea biasa duduk disana.
"Bukan aku yang harusnya kau nikahi, tapi dia JUSTIN!"
__ADS_1