Obsesi Cinta Tuan Mafia

Obsesi Cinta Tuan Mafia
Bab 8. Kesepakatan Alea Raiden


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Tibalah Raiden dan Alea dia sebuah kamar mewah dengan dekorasi yang simpel namun elegan. Saat tiba di kamar tersebut, Alea dikagetkan oleh foto-foto dirinya yang terpajang di dinding. Foto itu di perbesar dan memenuhi dinding ruangan.


Tebak, apa yang dipikirkan Alea saat dia melihat semua fotonya disana? Alea berpikir bahwa perasaan Raiden padanya bukan cinta seperti apa yang pria itu katakan sebelumnya. Alea semakin yakin bahwa Raiden terobsesi padanya karena mereka adalah sahabat.


Raiden tak sengaja menampakan raut wajah cemas ketika ia melihat Alea terdiam beberapa saat setelah memandang foto-fotonya dengan tatapan yang aneh. Sial! Raiden lupa memindahkan semua foto itu dan harusnya Raiden membawa Alea ke kamar lain saja.


Alea dibaringkan di atas ranjang empuk itu oleh Raiden sang pemilik kamar. "Rai, apa boleh aku bicara sesuatu padamu?"


"Apa?"


"Kalau kau mencintaiku, kenapa kau meninggalkanku 4 tahun yang lalu dan baru kembali saat hari pernikahanku?" tanya Alea dengan tatapan dalam pada pria yang memiliki paras tampan dan berwajah dingin itu.


"Kau bisa menanyakan yang lain, Alea. Asalkan jangan itu." jawab Raiden yang sama sekali tidak memuaskan.


Alea mendesah panjang, lalu ia kembali bertanya pada Raiden. "Kalau begitu, apa yang terjadi padamu selama 4 tahun ini? Kau tidak hanya kuliah saja kan? Lalu--kau bilang kau bilang kau bekerja. Pekerjaan apa yang kau lakukan Rai?"


Lagi-lagi pertanyaan Alea membuat Raiden bungkam. Raiden tak bisa menjawabnya. Ia tak mungkin menjelaskan pada Alea tentang dirinya yang bergelut dalam bisnis haram dan juga telah menjadi monster pembunuh. Raiden tidak sanggup dengan reaksi gadis itu, apabila Alea sampai tau apa yang terjadi selama 4 tahun ini.


"Rai...kau juga tidak mau menjawabnya?" tanya Alea lagi sebab Raiden hanya diam saja.


"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Tapi jika kau setuju menjadi istriku, akan ku pertimbangkan." cetus Raiden retoris dan membuat Alea tercengang.


"Istri? Rai, kau jangan gila! Jika aku menjadi istri seseorang, aku adalah istri Jus--"


Cup!


Raiden mengecup bibir Alea singkat yang membuat gadis itu tak menyelesaikan ucapannya menyebut nama Justin. Pria yang sudah bertunangan resmi dengannya dan harusnya saat ini ia sudah menikah dengan Justin. Namun Raiden menculiknya dihari pernikahannya.

__ADS_1


"RAIDEN!"


"Wajah marahmu ini sangat cantik Al," ucap Raiden dengan senyum sendu dibibirnya. Jujur, Alea rindu dengan senyuman sahabatnya itu.


"Baiklah, aku ganti pertanyaannya. Jika kau mencintaiku dan ingin menikahiku, lalu kenapa kau tidak bicara padaku atau pada keluargaku?" tanya Alea


"Karena keluargamu tidak akan setuju," jawab Raiden jujur.


Ya keluargamu terutama papamu, tidak akan setuju jika mereka tau diriku yang sebenarnya.


"Hah? Papa, mama, kak Alex bahkan Arsen sangat menyukaimu Rai. Logikanya, jika kau ingin melamarku...mereka pasti setuju. Ini...hanya berandai-andai saja!" oceh Alea.


Kenapa sepertinya banyak yang kau sembunyikan Rai?


Lagi-lagi Raiden terdiam dengan raut wajah yang tidak dapat ia mengerti, lalu ia pun melangkah pergi dari kamar itu. Namun Alea menghentikannya. "Rai, kumohon biarkan aku pergi Rai!"


"Tidak bisa Alea."


Raiden hanya menoleh tanpa bicara.


"Rai..." panggil Alea seraya memegang tangan Raiden dan menyuruh pria itu untuk bicara.


"Itu benar Alea." sahut Raiden dingin.


"Mari kita buat kesepakatan Rai!" beo Alea yang memiliki ide untuk lepas dari Rai.


Kali ini Raiden kembali duduk di samping Alea diatas ranjang. Ia menatap gadis itu dengan lembut. "Apa?"


"Kita buat kesepakatan! Dalam waktu 1 bulan jika kau bisa membuatku luluh padamu, maka kita akan menikahi...tapi jika dalam waktu 1 bulan itu kau tidak berhasil membuatku luluh. Kau harus membiarkanku pergi pada Justin!"

__ADS_1


Deg!


Semua atensi Raiden pun tertuju pada Alea sepenuhnya. Tawaran Alea cukup menarik untuknya, waktu 1 bulan untuk menguji cinta Raiden pada Alea begitu pula dengan perasaan gadis itu kepadanya.


"Baik, tapi jika kau melanggarnya! Aku tidak segan-segan mencelakai Justin."


"Ayolah Rai, aku tau kau tak serius. Justin adalah sahabatmu dan dia orang yang kucintai, Rai." lirih Alea tak percaya bahwa Raiden akan melakukan itu dan ucapannya hanya sekedar ancaman saja.


Pria itu tersenyum miring dan senyuman tersebut tanpa asing bagi Alea yang baru pertama kali melihatnya dan kini Alea sadar bahwa Raiden mungkin telah berubah.


Raiden memperlihatkan ponselnya pada Alea, dia menunjukkan sebuah video pada Alea. Video itu membuat Alea terkejut bukan main.


"APA YANG KAU LAKUKAN RAIDEN?!" sentak Alea emosi melihat video yang ditunjukkan Raiden padanya.


"Aku tidak pernah main-main Alea. Aku mencintaimu dan aku akan lakukan apapun agar kau tetap disini!" Raiden mengangkat dagu Alea dengan satu tangannya, dia mengapit dagi itu. Ia perhatikan raut wajah Alea yang marah padanya.


RAIDEN, kau sudah gila. Kau berubah!


...****...


Di tempat lain seperti tempat hiburan malam, tampak seorang pria bertubuh besar tentang berbicara dengan beberapa pria disana. Ditemani alkohol dan rokok, mereka menikmati malam itu.


Diantara mereka ada 2 orang tengah mengobrol serius, aura mereka tampak kelam dan penuh kemarahan. Seorang pria diantara mereka terlihat memakai sebelah penutup mata.


"Jadi pamanmu ditangkap oleh si Stanhard junior?"


"Iya benar, Jack kau harus membantuku membawa pamanku kembali. Aku yakin dia masih hidup!" tukas pria itu sambil menyalakan cerutunya dengan pemantik api.


"Baiklah, kebetulan aku ada urusan PENTING dengan Raiden Stanhard. Kau lihat mata ini? Dia pelakunya!" seru pria bermata satu itu dengan geram.

__ADS_1


...****...


__ADS_2