
...🍁🍁🍁...
Suara jeritan dan erangan kesakitan terdengar menggema didalam ruangan dengan pencahayaan gelap dan tentunya akan membuat orang yang tinggal di dalamnya, menjadi sesak.
"A-ampun tuan...ampuni saya....AKHHH!!" jerit wanita yang duduk di atas kursi dengan posisi tubuh yang terikat.
Ya, wanita itu adalah Carissa, ia memohon ampun pada Raiden, setelah kakinya di tusuk-tusuk oleh besi panas berkali-kali. Sumpah demi Tuhan, daripada Carissa kesakitan seperti ini dia lebih memilih mati.
Carissa mengigit bibir bagian bawahnya sampai berdarah, saking sakit panas di kakinya itu. "Aaaaggggggghhhhh...tuan Raiden...saya... mohon..."
"Beraninya kau menyebut nama aku dengan mulut kotormu itu, HAH?!" hardik Raiden yang masih belum puas menyiksa Carissa. Gadis itu sudah tak berdaya, mungkin setelah ini kakinya akan lumpuh karena Raiden. Sekarang saja ia sudah merasakan kedua kakinya hampir mati rasa.
Serangan besi panas dari Raiden, bahkan sampai mengenai tulang-tulang kakinya. Sakit sekali, Carissa menyesal telah mencoba menyakiti Alea secara terang-terangan. Harusnya ia menyakiti Alea secara sembunyi-sembunyi bukan dengan cara seperti tadi.
Carissa bodoh, seharusnya kau tidak gegabah seperti barusan. Sialan! Karena wanita itu, aku jadi harus mengalami semua ini.
Jleb!
"AAAAAAHHHH...!!" Carissa kembali menjerit manakala besi itu kembali menancap di kakinya. Sementara Raiden, si pelaku yang menyiksanya sama sekali tidak terlihat iba sedikitpun pada Carissa.
Wajah Carissa berkeringat dan pucat, darah sudah mengalir di kakinya. Sungguh Carissa tak tahan lagi.
"BERANINYA KAU MENCOBA MENYATIKI ALEAKU? KAU SUDAH BOSAN HIDUP, HAH?!"
"Tu... tuan... saya benar-benar tidak sengaja, sungguh...kaki saya tadi tersandung kaki kursi..." alibi Carissa.
__ADS_1
"DIAM! AKU TAK BODOH! KATAKAN PADAKU KENAPA KAU INGIN MENYAKITI ALEA?!" tanya Raiden dengan sorot mata iblis pembunuhnya. Sorot mata tunjukkan kepada lawannya ketika dia ingin mengakhiri mereka.
"Tuan...saya sungguh...hiks..." isak tangis Carissa menahan perih.
"Sungguh apa, hah? Wanita JALANGG sialan!" umpat Raiden lalu menampar wajah Carissa dengan kasar. Tak peduli dia wanita atau pria, Raiden akan tetap bersikap kasar. Sebab ini menyangkut keselamatan Alea, wanita yang ia cintai. Raiden tidak dapat mentolerir hal yang berkaitan dengan Alea.
Jika saja Raiden tidak menghalau coklat panas itu, mungkin saat ini Alea yang merasakan panas dan sakit.
Penyiksaan Carissa masih berlangsung, entah sampai kapan akan berakhir. Beberapa pengawal yang berjaga di kamar hitam itu terlihat gelisah dengan suara jeritan Carissa yang tidak ada akhirnya.
"Sampai kapan tuan Raiden akan menyiksanya?" tanya seorang pengawal pada Lance.
"Pertanyaanmu salah. Harusnya kau bertanya sampai kapan tuan Raiden akan menyiksanya sebelum membunuhnya." ucap Lance yang membuat Jerry tercekat. Jerry terlihat mencemaskan Carissa, bahkan Jerry juga membela Carissa sebelum gadis itu di bawa ke kamar hitam. Tapi Raiden tak mau mendengarnya.
Apa tuan Raiden akan membunuh Carissa? Tanya Jerry dalam hatinya.
"Hey Jerry! Kau mau kemana?!" teriak Lance pada temannya itu. Namun Jerry menghiraukannya dan terus berlari.
"Dia pasti mau pergi menemui nona Alea." jawab seorang pria yang berdiri disamping Lance.
"Hah? Mengapa?" tanya Lance pada salah satu bawahannya itu.
"Tuan...apa tuan tidak tahu kalau tuan Jerry menyukai Carissa?" kata pengawal itu yang membuat Lance menyadari bahwa dugaannya selama ini benar. Jerry menyukai Carissa.
Itulah kenapa Jerry begitu gelisah dan membela Carissa mati-matian tadi. Dia tidak mau melihat orang yang dicintainya terluka.
__ADS_1
*****
Jerry benar-benar menemui Alea di depan kamarnya yang dijaga oleh Tommy dan dua pengawal lainnya. Tommy bertanya ada apa Jerry datang kemari dan Jerry menjawab bahwa ia ingin bertemu dengan Alea.
"Aku harus bertemu dengan nona Alea,"
"Maaf, tapi tanpa izin dari tuan Raiden kau tidak bisa menemui nona. Bahkan tuan Raiden memintaku menjaga nona agar tidak pergi kemana-mana sampai beliau selesai di kamar hitam." jelas Tommy tegas.
"Tapi aku harus bertemu dengan nona Alea sebelum tuan Raiden membunuh Carissa." cetus Jerry gelisah. Salah satu ajudan kepercayaan Raiden itu tampaknya benar-benar sudah jatuh hati pada salah satu maid di mansionnya.
"Jika tuan mau membunuhnya, kenapa kau harus ikut campur Jerry? Biarkan saja daripada kau yang terkena masalah nantinya." Tommy menegaskan pada Jerry tentang masalah yang akan dihadapinya bila Jerry mencoba menyelamatkan Carissa.
"Aku tidak peduli jika nyawaku taruhannya!" sergah Jerry sambil mendorong Tommy. Rasa gelisah dan cemas pada keadaan Carissa, tidak membuat Jerry takut bila ia terkena masalah nantinya.
Hanya Alea yang bisa menyelamatkan nyawa Carissa saat ini.
"Jangan gila kau Jerry!" hardik Tommy yang berusaha menahan tubuh Jerry masuk ke dalam kamar Alea
"Nona! Nona TOLONG! Tolong bantu Carissa, tuan Raiden akan membunuhnya!" teriak Jerry dari luar kamar itu.
"JERRY! Kau mau tuan murka, hah?" Tommy kembali mencoba mengingatkan Jerry, ia bahkan memegang kedua tangan Jerry seraya menahannya.
"Nona!"
Tak lama kemudian, Alea berteriak dari dalam pintu dan minta pada Tommy untuk membuka pintunya. "Tommy buka pintunya!!" teriak Alea.
__ADS_1
Apa Raiden mau membunuh gadis itu karena aku? Tidak! Apa dia benar-benar bisa membunuh seseorang? Raiden...kau bukan orang seperti itu kan? Pikir Alea dalam hatinya.
...******...