Obsesi Cinta Tuan Mafia

Obsesi Cinta Tuan Mafia
Bab 47. Pesta mafia (1)


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Wanita itu mencoba segala cara untuk membujuk para penjaga terutama Tommy, agar ia bisa pergi ke pesta itu. Sungguh, ia merasakan perasaan tidak enak terhadap Raiden. Apalagi pria itu pergi tanpa pamit dan hanya pamit lewat Brieta saja, disaat ia ketiduran sore tadi.


"Kumohon Yona, nyonya Brieta! Tolong bujuk agar Tommy membawaku pergi kesana, aku benar-benar memiliki perasaan tidak baik tentangnya. Kumohon...aku akan baik-baik saja!" Alea memelas, bahkan ia mengatupkan kedua tangannya agar lebih meyakinkan. Rasa gelisah ini sudah pecah tak dapat ditahannya lagi.


Brieta dan Yona saling melirik satu sama lain, sebelum mereka menjawab pertanyaan Alea. "Maaf nona, bukannya saya tidak ingin mengabulkan keinginan nona. Namun, pasti ada alasan kenapa tuan meminta nona diam disini." jelas Brieta setelah mendesah nafas panjang.


"Itu benar nona, ini demi keselamatan nona juga." beo Yona sambil mengangguk-anggukan kepalanya, membenarkan apa yang diucapkan oleh Brieta.


"Tapi--aku..."


'Mereka sangat keras kepala! Aku harus bagaimana agar bisa pergi kesana?'


"Nona saya mohon jangan keras kepala, ini demi kebaikan nona juga." kata Brieta tegas dan tak mau dibantah.


"Ya sudah, kalau begitu aku tidak mau makan malam ataupun tidur sebelum Raiden pulang. Dan jika kalian paksa aku, aku tetap tak mau!" serka Alea kesal.


"Nona...saya mohon jangan begini." ucap Brieta bingung.


"Dan kalau aku sakit, kalian yang akan terkena amukan Raiden. Oh...dan aku tak mau peduli, aku kesal." inilah sisi kekanak-kanakan Alea, ia lembut namun kadang keras kepala.


"Lalu, apakah Tommy dan anak buah Raiden kurang percaya diri hingga mereka tak mau membawaku kesana dengan aman? Bukankah mereka kuat dan terbaik? Tapi apa nyatanya!" seru Alea dengan suara cukup keras agar Tommy dan beberapa anak buah Raiden yang menjaganya didepan kamar, mendengarnya.


Dan ya, Tommy juga ketiga anak buah Raiden yang lain mendengarnya dengan jelas. Seketika harga diri mereka sebagai anak buah mafia langsung ternodai.

__ADS_1


"Tuan Tommy, apa kita harus diam saja?" tanya seorang anak buah Raiden yang berdiri tepat disamping Tommy.


Tommy tidak bergeming, dia mengepalkan tangannya dengan erat. Dikata katain seperti itu oleh seorang wanita, membuat Tommy terluka.


"Tuan Tommy..." ucap seorang anak buah Tommy yang lainnya. Dia juga merasa di remehkan oleh Alea.


Dengan tipu muslihat dan ancaman yang memaksa, akhirnya Alea berhasil meyakinkan para anak buah Raiden yang mengawalnya untuk membawa gadis itu ke pesta. Tapi kan setelah kesana pasti Alea tidak akan diizinkan masuk karena ia tidak memiliki izin, kartu anggota apalagi yang lainnya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, Alea dan keempat anak buah Raiden termasuk Tommy berada didepan sebuah gedung club malam yang besar. Alea juga sempat berganti baju dengan memakai gaun pesta dan asal memilih gaun itu buru-buru. Jadi, tidak akan ada masalah kalau dia masuk ke dalam sana.


"Izinkan saya masuk, saya ada kenalan di dalam sana!" seru Alea menggunakan bahasa Inggris pada kedua penjaga yang seperti patung, atau seperti robot Terminator itu. "Aku mencari Raiden Lucius Stanhard!" seru Alea.


Tapi kata-kata Alea sama sekali tidak digubris oleh si penjaga. "Maaf nona, anda tidak bisa masuk karena anda tidak memiliki kartu anggota dan--"


"Gadis ini bersamaku," tiba-tiba saja seorang pria memegang tangan Alea. Sontak saja Tommy dan ketiga anak buah Raiden lainnya siap siaga dengan wajah waspada. Kalau terjadi apa-apa pada Alea , bukankah mereka yang akan mati.


Sial!


Tommy dan ketiga bawahannya merasa deg-degan saat ini, sebab pria yang bersama Alea bukanlah orang sembarangan yang bisa mereka tembak atau ancam. Ya, dia adalah putra dari Mr.X si pewaris kingdom mafia nomor 1 di seluruh negara bagian Eropa itu.


"Le-lepaskan aku!" seru Alea seraya menatap pria itu dengan tatapan kesal.


"Aku hanya akan menolongmu nona, kau tenang saja. Bukankah kau ingin bertemu Raiden? He's my best friend!" kata pria itu sambil tersenyum.


Wanita itu jelas tidak percaya, namun ia memilih bersandiwara terlebih dahulu agar bisa masuk ke club. Tentu Tommy dan bawahannya juga mengikuti Alea.

__ADS_1


Segera setelah sampai di dalam club', Alea langsung menghempaskan tangan pria itu. "Terimakasih atas bantuannya tuan, kalau begitu....aku permisi."


"Wahai nona yang cantik, aku tak suka membiarkan orang berhutang padaku." pria itu memegang tangan Alea.


"Lepaskan tangan nona saya!" seru Tommy memberanikan diri.


"Tuan Tommy, aku tidak apa-apa!" ujar Alea lalu melepaskan tangannya dari pria itu.


"Nona...kau sangat menarik, jika boleh--mari kita berke--"


Sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya, suara seorang pria membuatnya terhenti.


"ALEA!!"


"Oh my God! Itu kan suara Raiden?" cicit Alea yang akhirnya menoleh ke arah Raiden. Sialnya tatapan Raiden seperti akan memakannya hidup-hidup saja. Alea tak berani menatap pria itu untuk sekarang, tatapan Raiden sangat mengintimidasinya. Bisa dipastikan kalau ia pasti MURKA. Namun pria itu memegang tangan Alea dengan erat, seakan akan terjadi sesuatu yang buruk


Tommy dan ketiga bawahannya segera memberi hormat pada Raiden. "Kalian berhutang penjelasan kepadaku, tapi nanti." ucap Raiden dingin pada Tommy dan ketiga bawahannya itu.


"Santai lah Raiden! Bukankah pesta ini bebas untuk wanita juga? Hem...tapi Raiden Lucius Stanhard, membawa seorang wanita ke pesta para petinggi mafia ini? Wow...wow...ini sangat spektakuler!" kata pria itu sambil bertepuk tangan.


Sebisa mungkin Raiden menahan rasa paniknya. Ia takut karena Alea berada di tempat berbahaya ini.


"Dia bukan wanita ku." kata Raiden kemudian melepaskan tangan Alea, gadis itu pun menoleh bingung ke arahnya.


...****...

__ADS_1


__ADS_2