
...🍁🍁🍁...
Malam sebelum tragedi pembantaian di mansion Xavier terjadi. Setelah berhasil mengusir Justin dari rumah itu, Aileen, Arsen, Alexander dan Leon pun berjalan masuk ke dalam rumah.
Saat Aileen dan Arsen berjalan bersamaan, tiba-tiba saja Aileen mengeluarkan pistolnya dan mendorong Arsen menjauh darinya. Leon juga siap siaga saat mendengar suara tembakan yang meletup dari rumah besar didepan mansion Xavier itu.
Dorr!
Dor!!
"ARSEN,ALEX masuk ke dalam!" seru Aileen pada Arsen dan Alexander.
"Mom..."
"Masuk Arsen, Alex, ini perintah!" teriak Leon pada kedua putranya. Arsen menurut dan akan pergi dari sana, namun Alexander tidak. Ia masih bersama ayah dan ibunya disana. Arsen juga ikut diam disana.
"ARSENIO XAVIER, ALEXANDER XAVIER!" seru Aileen pada kedua putranya itu, disaat keadaan genting seperti ini mereka malah berada diluar rumah. Dimana baju tembak terjadi.
"Kami akan berada disini, bersama mommy dan Daddy." cetus Alexander tegas.
__ADS_1
Suara tembakan itu pun berhenti, Aileen segera membawa kedua anaknya masuk ke dalam rumah. Sialnya malam itu hanya ada Frans dan satu satpam yang berjaga di mansion. Serangan ini sangatlah mendadak dan tidak diketahui siapa pelakunya. Banyak dugaan pelaku di dalam benak pasangan suami-istri mantan mafia nomor 1 dan 2 di Italia itu.
Bisa jadi musuhnya dari pihak Aileen, atau dari pihak Leon. Atau dari masa lalu mereka yang kelam.
"Cepat kau hubungi Alea, suruh dia bersama Raiden!" ujar Aileen pada Arsen dan Alexander. "Mommy akan meminta para pelayan bersembunyi dulu." sambungnya lagi, lalu wanita itu bergerak menuju ke kamar pelayan untuk mengamankan mereka terlebih dahulu. Dan Leon, dia dan Frans tengah meminta anak buah Leon yang lain untuk datang ke rumah itu guna menangkap siapa peneror itu.
Aileen tercengang melihat 2 pelayan muda di rumahnya tewas dengan kondisi kepala yang berlubang. "Sial! Aku terlambat, mereka pasti sudah disini." geram Aileen seraya mengigit bibir bagian bawahnya.
"Tapi kenapa bik Ratna dan Erina?" tanya Aileen bingung, sebab ia tidak melihat dua pelayan yang paling dekat dengannya itu disana. Mungkinkah mereka dijadikan Sandera? Atau sudah dibunuh?
Aileen berjalan dengan waspada sambil memegang pistolnya menuju ke kamar Ratna dan Erina yang letaknya di ujung dapur mansion tersebut. Baru saja setengah jalan, lampu tiba-tiba padam.
Dor!!
"Shitt!!" umpat Aileen sambil menahan rasa sakit di kakinya itu.
Dalam penerangan yang padam, Aileen berusaha menajamkan pandangannya dengan pistol itu. "Siapa kalian? Cepat keluar!" teriak Aileen dengan nafas yang berdebar-debar.
Tiba-tiba saja ada yang menyentuh tangannya, refleks ia menodongkan senjata pada orang itu.
__ADS_1
"Nyonya...ini saya Ratna,"
"Dan ini saya Erina."
Aileen bernafas lega, ternyata yang memegang kedua tangannya itu adalah Ratna dan Erina. "Kita keluar dari sini ya, tempat ini tidak aman." ucap Aileen. Wanita itu menuntun kedua pelayannya yang masih hidup untuk bersembunyi di ruang bawah tanah.
Setelah menjamin kedua pelayannya selamat, Aileen kembali ke ruang tengah rumah itu dengan hati-hati. Lampu kembali menyala saat ia tiba disana dan...
Dor...
Dor...
Dor...
Aileen, Leon dan Alexander kecolongan saat melihat beberapa orang pria sudah ada dihadapan mereka dan memberendel Arsen dengan tembakan bertubi-tubi ditubuhnya.
"ARSEN!!" histeris Leon, Aileen dan Alexander saat melihat adegan itu. Adegan yang mengiris hati mereka.
Sadis, memang. Arsen berlumuran darah, tubuhnya limbung ke lantai.
__ADS_1
...****...