
...🍁🍁🍁...
Tak jauh dari club' itu, Leon dengan wajah lainnya alias menyamar, berada di dalam mobil berwarna hitam bersama Frans dan dia anak buahnya yang juga menyamar.
"Tuan--saya tau anda cemas karena nona Alea disana. Tapi tidak terjadi sesuatu pada nona, para pengawal dan juga tuan Raiden selalu mengawasinya." kata Frans berusaha menenangkan tuannya yang sedari tadi diam saja dengan wajah marah saat melihat Alea ada disana.
"Bukan hanya itu saja yang membuatku marah! Beraninya bocah ini bercinta dengan putriku di gudang!" Leon mengepalkan tangannya dengan geram.
Frans tercengang mendengarnya, ia tidak menyangka bahwa Leon akan menumpahkan semua kekesalannya. Ternyata tuannya marah karena ada yang berani menyentuh princess kesayangannya.
"Frans, aku tau dia sudah mendapatkan restuku! Tapi tidak begini juga kan? Tidak bisa seenaknya dia menyentuh putriku...aish...setelah ini selesai maka aku harus segera menikahkan mereka." gerutu Leon kesal, ia pikir Alea dan Raiden tadi telah melakukan itu tapi ternyata belum. Mereka hanya ciuman saja.
"Baiklah tuan, nanti saya akan membantu persiapan pernikahannya! Hehe." canda Frans sambil tersenyum.
"Hey--kau! Lebih baik kita kembali ke Italia!" seru Leon gusar. Setelah ia menemukan siapa yang sudah membawa Alexander dan membunuh keluarganya. Leon akan menemui Alea dan menikahkannya dengan Raiden.
****
Beberapa saat yang lalu, sebelum pesta usai. Ada beberapa orang wanita yang mendekati Raiden, mereka meraba-raba tubuh pria itu dengan sensual dan bahkan ada yang berani duduk di pangkuannya. Alea yang baru saja keluar dari toilet, melihat itu semua. Hatinya panas melihat Raiden didekati para wanita itu dan yang membuat Alea semakin marah adalah Raiden diam saja. Raiden diam bukan tanpa alasan, tapi dia merasa tak enak dengan Mr. X yang membawa wanita-wanita itu, sebab jika ia menyerang atau membunuh mereka. Akan jadi masalah di dalam kerajaan mafianya.
Bukannya Raiden tidak berani, tapi ia tidak .ah masalah jadi besar dan merembet hanya karena wanita-wanita milik Mr.X. Meski ia mencoba menghindar dari wanita-wanita itu, mereka berani mendekatinya bahkan menyentuh tubuhnya.
"Sayang?" Raiden tercekat saat melihat sosok Alea berada tak jauh darinya, menatap dirinya dengan tajam. Ia langsung mendorong wanita-wanita itu.
"Tuan Tommy, ayo kita pulang sekarang!" ujar Alea pada Tommy dengan kesal. Gadis itu berjalan pergi meninggalkan club, akhirnya Raiden pun mengikutinya dan kini Alea marah padanya.
****
Di dalam perjalanan pulang, Alea sama sekali tidak mau bicara pada Raiden. Tommy dan Jerry hanya bisa mengusap dada mereka, saat melihat sosok putra mafia red snake itu seperti suami takut istri. Bahkan ketika sampai mansion, Alea tidak mau bicara dengannya.
"Al...kenapa kau diam saja? Kau cemburu aku dekat-dekat wanita itu?" tanya Raiden pada Alea.
"Cemburu? Menurutmu? Ah... sudahlah, aku jadi ragu dengan perasaanmu. Kau bilang kau cinta mati padaku, tapi apa? Disentuh wanita lain saja ,kau mau." cibir Alea menumpahkan segala kekesalannya yang tadi sempat dia tahan di dalam mobil karena Jerry dan Tommy.
Alea memutar bola matanya, malas. Ia pun masuk ke dalam kamarnya dan hendak menutup pintu. Namun tangan Raiden menahan pintu itu dengan kuat.
"Lepaskan tanganmu!" tukas Alea sambil memegang tangannya.
"Alea...kita baru saja jadian, mana mungkin aku membiarkanmu marah seperti ini." ucap Raiden yang sama sekali tidak mendapatkan respon dari Alea. Gadis itu masih berusaha untuk menutup pintu kamarnya.
"Lepas!"
Brak!
__ADS_1
Raiden membuka pintu itu dengan paksa, ia pun membuat Alea terjengkang karena kekuatannya. Sontak, Raiden dengan sigap merengkuh tubuh Alea dan membawanya ke atas ranjang.
Gadis itu berada di bawah tubuh Raiden, namun ia tak mau melihat Raiden. Terus saja Alea memalingkan wajah. Kedua tangan Alea, dipegang oleh satu tangan Raiden dan diletakkan di atas kepalanya sendiri.
"Raiden kau mau apa?"
"Kau sangat imut Alea...kau sangat cantik, sungguh." lirih Raiden seraya menatap wajah cantik kekasihnya itu.
"Raiden jangan merayuku, aku tau kau hanya membual." cetus Alea marah. Raiden merasa ini bagus, sebab jika Alea benar-benar marah gadis itu akan diam dan tidak bicara sepatah katapun. Tapi ini masih aman sebab Alea masih mau bicara dengannya.
"Aku tidak merayu, ini fakta. Kau sangat cantik kalau sedang cemburu begini." goda Raiden seraya mengusap-usap tengkuk Alea. Bagian sensitif dari gadis itu yang mudah merasakan geli.
"Rai...hentikan..." Alea menggelinjang kegelian.
"Aku akan menghentikannya saat kau mengaku padaku bahwa kau cemburu." goda Raiden mendesak Alea lagi untuk jujur.
"Tidak! Aku tidak cemburu," sanggah gadis itu.
Raiden semakin memainkan tubuh Alea, contohnya sekarang ia sedang menggigit pelan cuping telinga Alea hingga gadis itu mendesahh dan mengerang. "KYAAKK! Raiden...stop it... please... don't do that!"
Mendengar suara Alea dan gerakan sensual akibat kegelian itu, malah membuat sang empu Raiden terbangun. Celaka! Dia telah membuat kesalahan besar dengan menggoda Alea, malah ia yang tergoda dan bergairah.
"Shitt!!"
Perlahan Raiden mulai melepaskan cekalan tangannya dari Alea. Tangan Alea sudah bebas, kini malah merangkul leher Raiden guna memperdalam ciuman mereka. Tangan Raiden mulai nakal menjelajahi tubuh cantik Alea, meraba-raba paha dan...
"Rai..." nafas Alea terengah-engah, tapi dia masih sadar dan menahan tangan Raiden yang akan menyentuh lebih pada tubuhnya. Ya, Alea tau Raiden menginginkan lebih.
"Alea...maafkan aku, maaf...hampir saja aku mati." decaknya.
"Huh? Mati?" Alea menatap pria itu dengan bingung.
"Ya, aku bisa mati kalau dad--"
'Astaga, apa yang baru akan ku katakan ini? Hampir saja aku keceplosan mengatakan bahwa om Leon masih hidup' batin Raiden.
"Dad--apa Rai?"
"Tidak! Bukan apa-apa...but, aku minta maaf karena sudah membuatmu cemburu. Dengarkan penjelasanku dulu."
"Mandi dulu sana, bukankah tubuhmu bekas wanita lain. Aku mau bicara kalau kau sudah bersih."
"Ckckck, bukankah barusan kita habis berpelukan dan berbagi saliva?" goda Raiden seraya bangkit dari ranjang itu lalu duduk.
__ADS_1
"Itu kan karena kau yang memaksaku! Pergi sana, mandi dulu...lalu kita bicara." ucap Alea tegas.
"Baiklah sayang. Sungguh ciuman barusan sangat memabukkan dan manis, lebih manis dari coklat." lirih Raiden dengan guyonan gombalnya.
"Ish! Jangan coba merayuku!"
"Mana ada--aku tidak." sangkal Raiden.
Pria itu pun pergi meninggalkan kamar Alea, ia pergi membersihkan tubuhnya. Setelah itu, Raiden menjelaskan semua yang terjadi di pesta tersebut saat makan malam bersama di lantai bawah. Alea tetap tidak menerima alasannya.
"Apapun alasanmu, maaf. Semuanya tidak masuk akal." Alea menggelengkan kepalanya, lalu tangannya mengambil air minum di dalam gelas dan meneguknya.
"Alea kumohon..."
"Kenapa? Kau mau menyanggah lagi? Baik, kalau begitu biar ku balikkan pertanyaannya padamu. Jika--ada pria yang menyentuhku seperti itu, apa kau mau?"
"TIDAK! Itu tidak akan terjadi."
"Lalu apa yang akan kau lakukan kalau ada yang menyentuhku seperti itu? Menciumku misal?" Alea menggoda Raiden.
Cup!
Raiden tiba-tiba saja mengecup bibir Alea, pria itu jadi hobi nyosor padahal baru 2 jam mereka jadian. Yona dan Jerry yang ada disana langsung meneguk saliva begitu melihat adegan live tersebut. Mereka sontak saja memalingkan wajah.
Rupanya benar bahwa kesetiaan Raiden dan sikap lembutnya hanya di peruntukan bagi Alea seorang. Pawangnya, cintanya, tidak ada yang bisa membuat seorang Raiden bucin begini.
"Raiden kau!" Alea yang marah langsung terdiam manakala ibu jari Raiden menyentuh bibirnya.
"Jika ada pria yang berani menyentuhmu, aku akan memotong tangannya. Dan jika ada yang berani menyentuh bibir yang boleh hanya menjadi bibirku saja--maka ku akan membunuhnya. Walaupun mereka hanya mendambakan dirimu, aku akan mencongkel mata mereka." tutur Raiden yang membuat Alea ngeri karena tatapan dan ucapannya nampak serius.
'Dia pasti bercanda' pikir Alea dalam hatinya.
...****...
Spoiler dikit...
"Raiden sudah mulai membantahku karena wanita itu...baiklah mungkin aku memang harus membangkitkan pewarisku yang satunya lagi. Siapa tau dia berguna!"
"Cepat siapkan operasi pemindahan jantungnya!" seru seorang pria pada para anak buahnya yang memakai setelan baju putih-putih.
Dan terlihat dua orang pria terbaring lemah diatas ranjang dengan selang oksigen yang ada pada tubuh mereka berdua.
...*****...
__ADS_1