Obsesi Cinta Tuan Mafia

Obsesi Cinta Tuan Mafia
Bab 53. Pilihan sulit


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Jonas yang saat itu masih dalam keadaan sekarat karena tembakan yang bertubi-tubi itu, masih sempat mengisyaratkan kepada Raiden untuk segera pergi dari sana.


"Sial!" umpat Raiden.


Raiden tak punya pilihan lain selain meninggalkan Jonas disana. Namun ia berjanji akan memenuhi semua janji pria itu. Jerry dan Raiden masuk ke dalam ruang bawah tanah, beruntung Raiden cerdas sehingga ia bisa dengan mudahnya melumpuhkan para penjaga ayahnya dengan mengalihkan perhatian. Melihat ruang bawah tanah itu di jaga dengan ketat, Raiden yakin bahwa memang benar ayahnya memiliki rahasia besar di dalamnya. Dengan kecerdasan yang tidak biasa, Raiden mematikan semua komunikasi antara orang-orang di dalam ruang bawah tanah dan anak buah William yang ada didepan tempat itu. Ia mematikan semua alat komunikasi.


Branz, orang kepercayaan ayahnya dengan tingkat kepekaan tingkat tinggi dan petarung hebat. Tiba-tiba saja sudah ada di belakang punggung Raiden dan menodongkan senjata padanya.


"Angkat tangan dan berbalik lah!" ujar Branz dengan suara dingin dan tegasnya penuh penekanan.


Shitt! umpat Raiden dalam hatinya.


Pria itu mengembalikan badan ke arah Branz, tanpa takut Raiden juga menodongkan senjata miliknya ke arah Branz. Saat tau pria itu adalah Raiden, Branz langsung menurunkan tingkat kewaspadaannya. "Tuan muda." pria itu langsung menundukkan kepalanya, seraya memberi hormat padanya.


'Mau apa tuan muda datang kemari? Kenapa dia bisa tau tempat ini?' batin Branz gelisah, namun dari luar pria itu bisa menyembunyikan rasa gelisahnya. Kehadiran Raiden disana membuat Branz tertekan, aura pria itu lebih mendominasi dari William. Meski usia Raiden jauh lebih tua dibandingkan dengan Branz.


"Aku kesini untuk bertemu dengan saudaraku, ayah yang menyuruhku kemari." dusta Raiden dengan wajah tenangnya. Seolah dia sudah tau sebelumnya bahwa Raymond ada disini. Tapi--sebenarnya ia hanya menguji pria itu.


"Tapi maaf tuan muda, tuan besar tidak pernah mengatakan sebelumnya bahwa tuan akan datang." kata Branz dengan kepala yang terangkat, ia menatap Raiden dengan lekat. Namun pria itu tampak tenang sama sekali tidak menunjukkan raut wajah berbohong, hanya datar.


"Apa kau tidak percaya padaku Branz? Ayah yang menyuruhku untuk datang kemari, dia sudah mengatakan padaku tentang Raymond." ungkap Raiden.


Branz terkejut, dia agak tidak percaya pada Raiden yang mengatakan bahwa William yang memberitahunya masalah Raymond. Pasalnya selama ini William selalu menutup rapat tentang putra sulungnya itu. "Tuan muda..."


"Aku akan bicara dengan ayahku kalau kau tidak percaya." kata Raiden mengancam.


"Baiklah tuan, tuan muda boleh masuk. Tuan muda Raymond ada di dalam ruang operasi." ucap Branz pada Raiden. Di belakang Raiden juga ada Jerry yang stay menemaninya.


"Operasi? Operasi apa?" tanya Raiden dengan alis terangkat.


"Hari ini tuan sudah menemukan donor jantung yang cocok dengan tuan Raymond dan mereka sedang melakukan operasi di dalam sana." ucap Branz menjelaskan.

__ADS_1


Pria itu tersenyum mendengarnya, Raymond akan mendapatkan donor jantung. Raiden pun berjalan masuk lebih dalam ke dalam ruang bawah tanah itu. Tentu saja dengan Branz, Jerry dan beberapa anak buah Raiden dan William juga disana.


Terlihat dari kaca jendela yang tembus pandang itu, dia orang pria terbaring di meja operasi, ada William juga disana. Raiden tersenyum dan tidak berniat menganggu operasi ini. Namun tiba-tiba saja sebuah tembakan melesat mengenai kaca tembus pandang yang menjadi tempat operasi itu.


Dor!!


Dor!!


Raiden dan semua orang disana terkejut mendengar suara tembakan yang bertubi-tubi itu. Entah darimana datangnya, tiba-tiba saja ada orang-orang menyergap tempat itu seperti akan menyelamatkan salah satu orang yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Raiden!" teriak William terkejut melihat putranya ada disana. William mengira ini adalah ulah Raiden. Ditengah kepanikan yang ada, tiba-tiba saja sebuah pistol sudah berada di kepalanya. Dan tangan kekar seorang pria sudah mencengkram tangan William.


"Ternyata...kau dalang dibalik semua ini." ucap Leon penuh kemarahan. Ia juga menatap Raiden yang tak jauh dari sana. "Raiden, aku tidak menyangka kau akan melakukan ini." kata Leon kecewa.


Dor! Dor!


Leon menembaki semua tim medis yang ada di dalam ruangan itu tanpa perasaan. Mereka semua tergeletak di bawah lantai tak bernyawa.


Raiden bingung, apa maksud dari ucapan kecewa Leon padanya. Raiden berjalan mendekat, namun Leon memintanya untuk menjauh. "Mundur kau! Jangan berani mendekat sebelum aku membawa anakku pergi." kata Leon sambil merengkuh tubuh William semakin erat. Pria itu kesulitan melawan Leon, walau fisik mereka sama besarnya. Tapi Leon lebih kuat, jelas saja dia adalah mantan mafia nomor 1 pada zaman dulu.


"Ayah! Jadi kau yang membantai keluarga Alea dan kau yang menculik Alexander! KAU DALANGNYA!" teriak Raiden murka, ia tidak percaya bahwa ayahnya dalang dibalik semua yang menimpa keluarga kekasihnya itu.


Wajah William pucat pasi, tidak hanya menyembunyikan tentang Raymond. Dia juga berkonspirasi dengan Mr.X untuk membantai keluarga Xavier. Bayangkan jika Alea tau semua ini, betapa hancurnya hati gadis itu. Raiden bahkan tak punya muka untuk bertatapan dengan Leon, ia malu.


"Jangan menyalahkan ayahmu Raiden, kau juga sama sepertinya. Kau juga ingin mengambil jantung anakku!" tuduh Leon dengan mata menyalang penuh murka. Leon sudah salah paham pada pria itu.


"Om Leon, aku tidak--"


Dor!


Dor!


Kemarahan telah membuat Leon buta, ia menembak dada Raiden. Terlihat darah mengucur dari dadanya. Beruntung tembakan itu tidak mengenai jantungnya ,namun tetap saja Raiden merasakan sakit.

__ADS_1


"Om Leon...argh.." Raiden meringis menahan rasa sakit di dadanya. Saat Jerry akan menembak Leon, Raiden menahannya. "Apa kau gila? Hentikan Jerry!" Jerry pun terdiam.


"Kau...tidak pantas untuk Alea!" teriak Leon yang sudah salah paham pada Raiden. Kemudian Leon memerintahkan Frans untuk membawa Alexander yang tidak sadarkan diri untuk pergi dari sana.


Tapi ternyata semuanya tidak mudah, sebab William dan anak buahnya yang lain juga tidak diam saja. Terjadi baku tembak disana, Leon dan William juga beradu kekuatan. Leon begitu murka dan mempunyai niat untuk membunuh William saat ia tau kebenaran bahwa Aileen dan Arsen kehilangan nyawa karena rencana jahatnya.


"Kenapa--kenapa kau melakukan ini William? Apa salahku padamu?!" teriak Leon sambil melayangkan belati pada tangan William. Wiliam sempat lumpuh sejenak, tapi serangan ini bukan apa-apa.


Darah menetes dari tangan William. Kedua mafia itu saling menyerang, tak peduli seberapa dalam luka mereka. Leon pastikan William harus mati, untuk membalaskan dendam kematian istri dan anaknya Arsen.


Sementara itu Raiden memanfaatkan kesempatan ini untuk menolong Alexander dan membawa Raymond juga. Meski ia dalam terluka karena tembakan Leon. Wajah pria itu pucat, tapi ia masih kuat untuk berjalan.


"Tuan! Biar saya yang membawa tuan Raymond, tuan..." Jerry terlihat cemas melihat Raiden yang melemah namun memaksakan diri untuk menggendong saudara kembarnya.


"Aku masih bisa..." lirih Raiden lemah. Dia melihat wajah Raymond yang bagaikan pinang di belah dua, sangat mirip dengannya.


Sementara di sampingnya ada Frans yang menggendong Alexander. Pria itu juga tidak sadarkan diri, namun beruntung operasi itu belum sempat di lakukan.


Dalam keadaan genting penuh baku hantam dan baku tembak. Raiden berusaha melarikan diri anak buah ayahnya, termasuk Branz. "Branz PERGI!" teriak Raiden.


"Maaf tuan muda, saya tidak bisa membiarkan tuan muda membawa tuan Raymond dan Alexander!" kata Branz tegas, ia menghalangi jalan Raiden.


"Sial!!"


Terjadilah baku hantam antara Raiden dan Branz. Akhirnya mereka sampai pada posisi dimana Raiden harus memilih antara Alexander dan Raymond. Branz berhasil membawa Alexander yang saat ini lepas dari penjagaan Frans, Frans sendiri ditembak oleh Branz.


"Tuan muda! Saya hanya akan melepaskan salah satu dari mereka...kau pilih tuan muda Raymond atau Alexander." Branz mengarahkan pistol ke kepala Alexander, pria itu masih tidak sadarkan diri.


Siapakah yang akan Raiden pilih? Raymond saudaranya yang baru saja ia temui atau Alexander, sahabat sekaligus kakak dari kekasihnya?


DUARR!!!


Tiba-tiba saja terdengar suara ledakan keras dan api yang besar dari ruang bawah tanah. Raiden dan semua orang yang terlibat dalam baju hantam itu terkejut melihatnya.

__ADS_1


"Om...Leon..."


...****...


__ADS_2