
...🍁🍁🍁...
"Dia tidak akan melakukan itu Rai!" seru Alea percaya pada Carissa.
Raiden tau bahwa Alea akan seperti ini, dia sangat naif dan polos. Kadang Alea membuat Raiden jengkel dengan sifatnya yang satu ini. Menyebalkan! Bebal!
"Baik, tapi aku tidak akan segan-segan menghukum atau bahkan membunuhnya jika dia memang berniat jahat padamu." ucap Raiden retoris, ia tak main-main dengan perkataannya.
"I-iya Rai."
Tiba-tiba saja kedua tangan Raiden menangkup pipi Alea yang chubby itu. "Rai...apa yang kau--"
Cup!
Satu kecupan lembut di kening Alea dari bibir sensual pria itu dan membuat Alea memundurkan tubuhnya secara refleks. "Kau... kehilangan satu Minggu-mu!" tukas Alea sambil memegang keningnya.
"Baiklah, jadi sisa dua minggu lagi. Aku juga yakin setelah 2 Minggu itu kau akan tetap tinggal disini, kau yang akan memintanya." ucap Raiden percaya diri. Ya, kepercayaan diri pria itu memang selau nomor satu.
Ketika dia berkata a maka akan a, ketika b maka akan b. Contoh, dulu saat di sekolah menengah atas. Dia pernah mengatakan dengan percaya diri bahwa ia akan meraih juara umum di sekolah dan benar saja itu terjadi. Dia mengalahkan Alex dan Alea yang sebelumnya meraih juara umum di sekolah.
"Kau sangat percaya diri." beo Alea dengan bibir yang mencebik.
"Daripada rendah diri, lebih baik percaya diri bukan?" Raiden tersenyum tipis.
"Hum...dasar."
"Ya sudah, kau makan dulu ya. Lalu minum lah obat." kata Raiden lembut.
"Rai...tunggu, aku ingin bicara." sela Alea yang tidak dapat lagi menyembunyikan rasa penasarannya.
__ADS_1
"Apa?"
Alea mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya. Ia menatap Raiden dengan begitu retoris dan mengunci pandangannya disana. "Kau...apa kau seorang mafia Ray?"
Deg!
Seketika jantung Raiden mencelos mendengar pertanyaan yang tak mau ia dengar. Pertanyaan yang mengartikan bahwa Alea sudah tau semuanya. Alea memang naif, polos dan lembut tapi bukan berarti dia bodoh. Terkadang hatinya lebih dia gunakan daripada logika. Ya, karena itulah dia mempercayai Carissa dengan mudah.
"Makan dulu." alih Raiden sambil mengambil bubur yang ada di atas nakas.
"Raiden jawab aku! Benarkah kau seorang mafia? Apa 4 tahun ini kau melakukan semua pekerjaan itu?"
"Apa maksudmu pekerjaan itu Alea?!" hardik Raiden lalu menyimpan buburnya ke atas nakas. Ditatapnya Alea dengan tajam.
"Kau bekerja dalam bisnis ilegal, tapi yang paling tidak ku terima. Kenapa kau harus membunuh orang? Kenapa Rai? Kenapa kau berubah?" tanya Alea kecewa.
Pria itu bungkam, ia tak bisa menjelaskan pada Alea alasan kenapa dia melakukan ini. Bungkamnya Raiden membuat Alea meyakini bahwa semua yang dikatakannya benar. Raiden memang melakukan bisnis ilegal, tak heran dia sangat kaya saat berada di luar negeri. Dia juga pernah membunuh orang, menyiksa dan berbuat kriminal lainnya.
"Benar aku memang mafia." jawab Raiden jujur. "Hanya itu saja yang bisa aku katakan padamu," sambungnya lagi.
"Rai...tapi kenapa?" Alea mengerutkan keningnya, ia tak paham kenapa Raiden menjadi bagian dari mafia. Pasti ada alasannya dan Alea ingin tau itu.
Namun Raiden bungkam, ia tetap tak mengatakan apa alasannya.
****
1 Minggu telah berlalu lagi, hingga hari ini genap lah dua Minggu Alea berada di mansion mewah itu dengan pengawasan ketat dari Tommy dan Jerry. Setelah melihat anak buah Raiden di hukum berat karena lalai dan melanggar aturannya yang berkaitan dengan Alea. Gadis itu tidak membuat masalah apapun untuk anak buah Raiden lagi. Ia bahkan tidak mencoba kabur, ataupun berontak. Sebab, ia tak mau orang lain terluka karena dirinya lagi. Dan soal Carissa? Kakinya tidak bisa berjalan sementara karena siksaan dari Raiden. Sungguh, Alea jadi merasa bersalah.
Sudah cukup, Carissa, Tommy dan Jerry menjadi korban karena kemarahan Raiden. Tapi sikap Raiden ini menyadarkan Alea, bahwa pria itu memang obsesi kepadanya.
__ADS_1
"Sampai kapan kau akan keras kepala Rai? Kenapa kau tidak melepaskanku? Kau tidak mencintaiku, ini hanya obsesimu." lirih Alea sambil duduk di dekat jendela sambil menatap langit Milan yang penuh bintang pada malam ini.
Tengah malam itu Alea belum tidur, terbesit lagi rasa rindu di hatinya untuk keluarganya dan juga Justin. Mengenai Justin, tiga hari yang lalu Raiden mengatakan padanya bahwa Justin bukan pria setia. Alea tidak percaya pada Raiden, bahkan ketika Raiden siap menunjukkan bukti. Alea menolak mentah-mentah dan memilih percaya pada Justin. Sejak bertengkar masalah Justin, Raiden belum pulang ke mansion. Entah apa yang ia kerjakan di luar sana.
"Rai...kau pasti akan baik-baik saja kan? Ah...kenapa aku jadi memikirkanmu? Kau melakukan pekerjaan yang berbahaya di luar sana, karena apa Rai? Karena siapa?" gumam Alea seraya memegang dadanya yang sesak.
Tanpa ia sadari, pikirannya jadi lebih condong pada Raiden daripada Justin.Padahal pria itu yang sudah membatalkan pernikahannya, menculiknya. Tapi dia peduli pada Raiden.
Ketika ia sedang melamun melihat bintang, lamunannya buyar seketika ia mendengar suara gaduh di luar sana.
BRAK!
BRUK!
"Cepat panggil dokter Christopher!" suara Lance terdengar lantang dari luar sana.
Alea terperanjat, ia semakin panik dan ia segera keluar dari kamarnya dengan buru-buru.
Ceklet!
"Nona? Anda belum tidur?" tanya Lance yang matanya membola saat melihat Alea masih terjaga disana.
Sial! Nona belum tidur?
Anak buah Raiden yang ada disana terlihat pucat pasi begitu menangkap atensi Alea berdiri diambang pintu kamarnya.
"RAIDEN!" pekik Alea saat melihat sesuatu yang mengerikan didepan matanya. Bulir air bening pun jatuh membasahi wajahnya tanpa izin lebih dulu.
"Apa yang terjadi padanya?!" sentak Alea panik.
__ADS_1
...****...