Obsesi Cinta Tuan Mafia

Obsesi Cinta Tuan Mafia
Bab 11. Luka apa ini?


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Kini Alea dan Raiden berada di dalam kamar Raiden. Meski Raiden mengurung Alea di mansion itu, tapi ia selalu membebaskan Alea pergi kemanapun asalkan masih di dalam mansion. Mereka juga tidak tidur sekamar karena Raiden berjanji tidak akan menyentuh Alea apalagi sampai melakukan itu, sebelum Alea benar-benar menerimanya.


"Buka bajumu," perintah Alea pada Raiden.


"Kau mesum juga ya Alea." goda Raiden dengan satu sudut bibir terangkat ke atas.


Plakk!


Alea memukul Raiden tepat di kening pria itu. Alea terlihat galak karena Raiden berpikir macam-macam.


"Aku tidak mesum! Aku menyuruhmu buka baju, agar aku bisa lebih mudah untuk mengobati lukamu." ucap Alea dengan mencebikkan bibirnya.


"Jangan menunjukkan ekspresi seperti itu Alea." kening Raiden berkerut.


"Kenapa?" tanya Alea sambil membuka kotak p3k yang diberikan Yona padanya. Ia mencari-cari obat untuk Raiden.


"Membuatku tidak tahan ingin menciummu." jawab Raiden dengan tatapan nanar pada gadis itu.


Sontak saja Alea memalingkan wajahnya, ia terlihat gugup dan tidak mampu menatap manik mata pria itu. "Cepat buka bajumu!" seru Alea lagi.


Raiden tersenyum tipis, lalu ia pun menurut dan membuka satu persatu kancing kemejanya. Hingga kini pakaian itu terlepas dari sang empunya dan memperlihatkan perut dengan enam pack itu. Alea menelan saliva saat melihat bentuk tubuh Raiden yang semakin kekar saja. Raiden memang memiliki tubuh yang bagus dari dulu, tapi tubuhnya yang sekarang lebih bagus. Lebih berisi, berotot dan tentunya memperlihatkan sisinya yang dewasa.


Dulu ototnya tidak sebesar ini, dia pasti rajin olahraga.

__ADS_1


"Sentuhlah kalau kau mau, jangan dilihat saja." Raiden memegang tangan Alea dan ia letakkan di dadanya, tepat disalah satu ototnya.


"Da-dasar kau tukang pamer!" cetus Alea sebal. Alea pun melihat luka memar bekas coklat panas itu tepat didada Raiden. "I-ini pasti sakit ya? Apa masih panas?" tanya Alea cemas.


"Tidak sesakit saat aku tau kau bilang kau mencintai Justin," jawab Raiden asal tapi sebenarnya jawaban itu dari dalam lubuk hatinya.


"RAIDEN, aku tidak bercanda." Alea menatap tajam Raiden, kemudian dia membuka salep untuk mengobati luka bakar.


"Aku juga tidak bercanda." sahut Raiden santai dengan wajah datar seperti biasa.


"Diamlah! Jangan banyak bicara!" seru Alea mengingatkan. Tangan Alea yang sudah diolesi oleh salep itu pun mulai bergerak mengusap-usap dada bidang Raiden yang memar. Tanpa Alea sadari, tatapan Raiden tertuju padanya dengan sendu dan penuh cinta.


Memperhatikan wajah Alea, wajah ayu yang selalu membuatnya jatuh cinta. Raiden pun tenggelam dalam rasanya, ia mendekatkan wajahnya pada Alea.


Dengan cepat Alea menghindar dari Raiden. Ia menutup bibir Raiden dengan tangannya. Matanya melotot pada pria itu. "Sentuh aku, kau akan kehilangan satu Minggu-mu Raiden."


"Baiklah," jawab Raiden tanpa dosa.


Deg, deg, deg!


Sial! Jantungku berdetak kencang setiap didekatmu Alea. Batin Raiden gelisah.


Alea masih fokus mengoleskan salep itu di dada Raiden, namun fokusnya terpecah saat atensinya tertuju pada bekas luka di bagian kanan bawah perut Raiden.


"Luka apa ini Rai?" wanita itu mengerutkan kening saat merabanya.

__ADS_1


Seperti luka tembak?


Alea tau persis bagaimana luka tembak, sebab dulu ia pernah tinggal di mansion Eriko kakek buyutnya yang juga seorang mafia. Ibunya, Aileen selalu terkena luka tembak ketika pulang menjalankan isinya.


Raiden panik, lalu ia pun segera mengambil pakaiannya dan memakainya. Alea bingung dengan sikap Raiden yang terburu-buru itu.


"Raiden! Apa itu luka tembak?"


"Bukan urusanmu,"


"Rai!"


"Kau jangan kemana-mana, aku pergi ke bawah dulu." Raiden kembali dingin, ia meninggalkan Alea yang sendirian di kamar itu. Bahkan Raiden mengunci pintunya saat Alea mau mengikutinya.


"Rai! Raiden!" teriak Alea dari dalam kamar.


Raiden turun ke lantai bawah, ia menemui Yona dan Brieta untuk menjaga Alea di lantai atas. Tommy dan dua pengawal lainnya juga di suruh berjaga di lantai atas. Mereka patuh atas perintah Raiden.


"Apa dia sudah dibawa ke kamar hitam?" tanya Raiden dengan tajam, sambil memakai sarung tangan dan menyiapkan beberapa alat untuk operasinya. Alat untuk menyiksa seorang tawanan atau musuhnya.


"Sudah tuan," jawab Lance.


"Ya, akan aku beri pelajaran maid sialan itu!" umpat Raiden geram.


Lance dapat melihat raut wajah marah Raiden saat ini. Entah apa yang akan dilakukan Raiden pada Carissa.

__ADS_1


...****...


__ADS_2