Obsesi Cinta Tuan Mafia

Obsesi Cinta Tuan Mafia
Bab 45. Desain rumah Alea


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Setelah menempuh perjalanan hampir 15 jam, malam itu Alea dan Raiden sampai di bandara Meksiko. Sesampainya disana, anak buah Raiden langsung siap siaga mengawal Raiden dan Alea ke mansion. Disana hanya ada Tommy, Jerry juga 20 orang anak buah Raiden yang lain. Namun tidak ada Lance disana, dan itu karena dia telah berkhianat pada Raiden. Entah kemana pria itu, yang jelas Alea tidak menanyakannya lagi. Ia takut Raiden akan marah padanya.


"Rai, apa perlu kita dikawal puluhan orang begini? Aku rasa ini sangat berlebihan." pikir Alea ,saat gadis itu naik ke dalam mobil berwarna hitam. Semua mobil lain berwarna hitam juga berjajar dibelakang mobil yang Alea naiki.


"Ini tidak berlebihan. Atau--kau merasa terganggu?" tanya Raiden dengan lirikan tajam pada Alea.


"Tidak Rai, tidak sama sekali." Alea melambai-lambaikan tangannya, sambil menggelengkan kepalanya.


"Kalau kau merasa terganggu, aku akan segera menyuruh mereka untuk pergi dari sini." ucap Raiden, walaupun sebenarnya dalam hati ia tak akan melakukan itu. Karena mulai saat ini dan seterusnya, Raiden akan menjaga Alea dengan sangat protektif. Raiden telah mendapatkan amanat besar dari Leon untuk menjaga Alea, ia tidak akan mengecewakan Leon demi sebuah restu, demi keselamatan orang yang ia cintai.


"Tidak perlu! Sudahlah, kita ke mansionmu." ucap Alea pada pria itu.


"Oke." sahut Raiden dengan senyuman tipis dibibirnya.


Sang supir, Tommy keheranan sebab Raiden yang jarang tersenyum. Kini menunjukkan senyuman lebarnya pada Alea, ini pertama kalinya ia melihat sang ketua mafia tersenyum tulus. Bahkan Tommy sendiri heran karena Raiden bisa kembali membawa Alea ke Meksiko.


****


Tak lama kemudian, mereka sampai di mansion Raiden yang ada di Meksiko. Jika dulu Alea di kurung di Milan oleh Raiden. Kali ini gadis itu datang ke Meksiko dengan sukarela. Alea takjub melihat mansion Raiden yang sebenarnya itu ternyata memiliki dekorasi yang sama dengan dekorasi mansion di Milan.


"Bagaimana? Tak jauh beda bukan?" atensi Raiden tertuju pada gadis itu yang menatap mansionnya tanpa berkedip.


"Ya...apa kau sengaja mendesainnya seperti ini? Tapi--setelah aku pikir-pikir...desain mansion ini sama dengan--" Alea kebingungan, ia tak melanjutkan ucapannya dan Raiden meneruskannya.


"Benar nona desainer, desain rumah ini adalah desain yang dulu kau gambar dibuku." jawab Raiden melengkapi apa yang Alea ungkapkan.


"Itu saat kita SMP, Raiden!" tukas Alea dengan tegas disertai tatapan tajam pada Raiden. "Kau mencuri karyaku!"


"Mana bisa dibilang begitu. Bukankah kau sendiri yang menyerahkan buku itu padaku. Apa kau lupa?" kata-kata Raiden sontak saja membuat Alea teringat dengan masa lalu.


#Flashback


4 tahun yang lalu, saat Alea dan Raiden masih kelas 3 SMA. Dua sahabat itu tengah duduk di sebuah cafe tempat tongkrongan mereka seperti biasa, bernama St*rbucks.


Terlihat Alea sedang menggambar seperti biasanya, asyik dengan buku gambar dan pensil meski berada dalam keramaian. Gadis itu emang hobby menggambar.y Sedangkan Raiden asyik juga, asyik memandangi gadis itu yang terlihat sangat serius.


"Al, cepatlah makan! Nanti spaghettinya dingin." ujar Raiden pada gadis itu.


"Hem..Rai, apakah menurutmu gambaranku jelek?" alih-alih menjawab pertanyaan Raiden, gadis itu malah balik bertanya yang sama sekali tidak nyambung.


Raiden, pria itu mengambil buku gambar Alea dan melihat apa yang sedang di gambarnya. Alea meminta pada Raiden untuk mengembalikan buku gambar itu, namun dia menolaknya. "Rai! kembalikan padaku! Kau sungguh sangat menyebalkan!" tegur Alea dengan bibir yang mencebik ke depan.


"Memang." sahut Raiden datar seperti biasa, tapi ada senyum tipis dibibirnya. Ya, dia tersenyum gemas melihat bibir Alea yang mencebik itu.


Raiden masih terus mempermainkan Alea, ia tak mau mengembalikan buku Alea dan ia malah melihat-lihat isi buku itu. Matanya tertegun manakala ia melihat gambar-gambar rumah yang di sana.


"Kenapa kau menggambar rumah? Biasanya kau menggambar pakaian?" tanya Raiden terheran-heran. Ia sangat tau bagaimana kebiasaan sahabatnya itu. Alea suka menggambar pakaian, tas, kalung dan cincin.

__ADS_1


"Aku hanya ingin saja...cepat berikan padaku!"


Pria itu masih enggan memberikannya, ia malah menunjukkan gambar-gambar rumah itu pada Alea dan memintanya untuk memilih. "Kau suka yang mana?" tanya Raiden.


"Tidak ada."


"Jawab dulu baru ku kembalikan." tukas Raiden dengan bibir yang tertarik sebelah kanan.


"RAIDEN!" sentak Alea sebal.


"Kau suka yang mana? Jawab dulu." pinta Raiden memaksa.


"Oke oke...aku suka yang nomor dua, itu rumah impianku..." jawab Alea pada akhirnya. Raiden pun mengembalikan buku itu pada Alea, dia terdiam sesaat seperti sedang berpikir setelah mendapatkan jawaban dari Alea.


"Rai, kenapa kau malah melamun?" tanya Alea bingung.


"Desain ini sangat jelek, lebih baik kau berikan saja bukunya padaku." cetus Raiden tiba-tiba dan membuat mata Alea menajam padanya.


"Kau bilang apa barusan?? JELEK?!" sungut Alea kesal. "Beraninya kau menghina karya orang!"


"Memang jelek, jadi berikan saja padaku bukunya. Akan aku jadikan kenang-kenangan, bahwa Aleana Fidelya Xaviet tidak bisa menggambar rumah...gambarnya jelek." cibir Raiden.


"Hush...kau benar-benar. Ya sudah, buku ini untukmu saja!" Alea yang sudah terlanjur kesal, malah memberikan buku itu pada Raiden. Melihat Alea marah, Raiden malah tertawa.


#End Flashback


"Kenapa? Terharu? Mau mengucapkan terima kasih?" tanya Raiden yang sontak saja membuat Alea tercengang.


"Kau ini bicara apa??!"


"Dalam cinta, tidak ada kata terima kasih Alea." ucap Raiden yang berhasil membuat jantung gadis itu berdegup sangat kencang. "Ayo kita masuk!"ajak Raiden.


Percakapan singkat mereka rupanya terdengar oleh Tommy dan Jerry. Mereka berdua tak menyangka bahwa Raiden bisa menggombal.


Alea dan Raiden masuk ke dalam mansion, sesampainya disana. Alea disambut baik dan hangat oleh Brieta, Yona dan para maid lainnya. Ya, kecuali Clarissa--wanita itu masih menyimpan dendam kesumat pada Alea.


"Selamat datang nona! Nona...kau akhirnya kembali, kami sangat merindukanmu." ucap Brieta dalam bahasa Inggris seperti biasanya.


"Aku juga merindukanmu Bu Brieta, juga---kalian semua." Alea terharu, ia mendapatkan sambutan hangat dari orang-orang di mansion itu.


"Nona, aku sudah buatkan cake keju coklat spesial untuk nona. Saat tuan memberitahu saya bahwa nona akan datang!" kata Yona sangat antusias.


"Baiklah. Ayo!"


Alea dengan semangat, mengikuti para maid itu yang katanya sudah menyiapkan makanan spesial untuknya. Mereka pun pergi ke ruang makan, meninggalkan Raiden dan para anak buahnya disana. Raiden tersenyum melihat Alea sudah lebih ceria, sepertinya Alea akan lebih baik tinggal disini. Namun tentunya dengan penjagaan yang ketat. Ia tak mau mengambil resiko, akan bahaya yang menyerang. Jangan lupakan bahwa musuh yang membantai keluarga Xavier masih berkeliaran.


"Tuan...harus saya apakan mereka?" tanya Tommy dengan wajah datarnya, ia merasa sikap para pelayan yang lupa menghormati Raiden itu sangatlah tidak sopan. "Perlukah saya berikan pelajaran dan menghukum mereka?" imbuhnya lagi.


"Dia sudah membuat wanitaku tersenyum, kenapa aku harus menghukum mereka? Harusnya aku memberikan mereka hadiah." seloroh Raiden bahagia.

__ADS_1


"Baiklah tuan."


"Lalu-- bagaimana keadaan Lance? Sudahkah dia mengaku?" tanya Raiden mulai serius pada Tommy dan Jerry.


"Dia masih bungkam, tuan." sahut Jerry.


"Sepertinya harus aku sendiri yang menanganinya. Namun aku harus berendam air hangat dulu." desah Raiden lelah, setelah perjalanan panjang dari Jakarta ke Meksiko. Ini pun mereka sampai tengah malam. "Kalian jangan ikuti aku, jaga Alea saja. Itu tugas kalian sekarang!" titah Raiden seraya menaiki anak tangga. Ia pikir Alea harus punya waktu untuk temu kangen dengan maid disana.


"Baik tuan!" sahut Jerry dan Tommy patuh. Mereka menjalankan perintah atasannya, Tommy ikhlas tapi tidak dengan Jerry. Ia masih tidak paham kenapa Raiden harus menjadi budak cinta Alea.


Jerry terus menggerutu seperti perempuan dan membuat Tommy menegurnya. "Memangnya kau tidak bucin juga? Bukankah kau sangat cinta mati pada Clarissa? Jangan bicara seperti itu soal tuan kita!"


"Cih!" Jerry berdecih.


"Kalau tuan mendengarmu, bisa mati kau ditangannya!" kata Tommy memperingati Jerry agar tidak bicara sembarangan kalau mau nyawanya aman.


*****


Sementara itu di Indonesia, Jakarta. Mansion Justin. Setelah mengetahui Alea pergi bersama Raiden, Justin semakin hancur. Ia pulang dalam keadaan mabuk dan membuat kesabaran Lisa habis.


"Justin sudahlah! Hentikan semua ini! Apa kau tidak lelah terus memikirkan seseorang yang tidak akan pernah jadi milikmu!"


"Kau diam saja! Kau tak tau apa-apa!" Justin mendorong tubuh Lisa sampai gadis itu terbaring di ranjang.


Lisa menangis lagi, semenjak menikah dengan Justin. Ia tak pernah bahagia, padahal Lisa menikah dengan pilihan hatinya sendiri.


"Bisakah kau menerimaku Justin? Belajarlah untuk melupakan Alea dan belajarlah untuk mencintaiku...aku mengandung anak kita. Kumohon kau harus menghargaiku, hargai perasaanku Justin!" teriak Lisa marah. Setiap hari suaminya hanya membahas soal wanita lain. Sakit hati Lisa menerima semua ini.


"Aku tidak bisa...aku tidak bisa mencintaimu. Jadi jangan berharap lebih Lisa. Sejak awal bukankah sudah aku tegaskan, bahwa aku hanya mencintai Alea. Tidak ada kau di dalam sini Lisa! Dan jika kau memang tidak terima, kau tinggal gugat cerai saja aku. Mudah kan?" seloroh pria itu dengan entengnya.


PLAKKK!!


Lisa tak tahan lagi, hingga satu tamparan melayang di pipi Justin. "Aku tidak akan pernah menceraikanmu Justin! Tidak akan pernah!"


Perdebatan antara Justin dan istrinya memang tidak ada habisnya. Tapi Lisa selalu mencoba sabar dan bertahan, ia percaya bahwa kelak Justin akan mencintainya dan anak mereka.


****


Kota Italia, di sebuah kapal pesiar mewah yang sedang berlayar. Terlihat sekumpulan orang dengan tubuh tegap dan berperawakan menyeramkan tengah berkumpul di atas dek paling atas kapal pesiar itu. Seseorang memakai topeng berdiri diantara mereka. Sosok yang sudah berumur, tapi berwibawa dan masih tampan. Matanya di penuhi dengan aura membunuh dan dendam.


"Costruiamo la forza, per rialzarci e diventare la mafia numero uno al mondo!!!" teriak pria itu pada anak buahnya.


"Lunga vita al drago nero!"


*****


Spoiler...


"Raiden Lucius Stanhard, membawa seorang wanita ke pesta para petinggi mafia ini? Wow...wow...ini sangat spektakuler!"

__ADS_1


__ADS_2