
Pagi itu, Alea menemani Raiden untuk tidur di kamarnya. Mereka tidak melakukan apapun dan hanya tidur saja. Raiden memeluk gadis itu, seakan Alea adalah area ternyamannya. Aroma tubuh gadis itu menguar bagaikan obat penenang yang bisa membuat dirinya nyaman. Dalam hitungan detik saja Raiden tertidur di dalam pelukannya.
"Dia pasti tidak tidur semalaman, sebenarnya apa yang dia kerjakan? Ya sudahlah....asalkan kau baik-baik saja," gumam Alea seraya memandangi wajah tampan yang berada di ceruk lehernya. Ia juga ikut memejamkan matanya, tak peduli bila hari sudah mulai siang.
****
Niatnya yang ingin bangun siang, malah bangun sore. Raiden terlihat sangat lelah dan pulas, Alea yang bangun lebih dulu tak tega membangunkannya. Alea memilih membersihkan dirinya ke kamar mandi, kemudian pergi ke dapur dan memasakkan sesuatu untuk Raiden.
"Nona, masakan ini sepertinya enak." kata Yona memuji masakan yang sudah disiapkan oleh Alea di atas meja makan.
"Hehe...kau belum tau rasanya sebelum mencoba." celetuk Alea seraya terkekeh. Ia sebenarnya tidak jago memasak seperti mamanya, tapi ia belajar sedikit demi sedikit.
'Ma, mama pasti senang kan karena Alea sekarang sudah bisa memasak?' Alea membatin, ketika dirinya kembali teringat mamanya, Aileen.
"Enak nona, bukankah tadi saya sudah mencicipinya!" Yona mengacungkan jempolnya.
"Baguslah! Semoga Raiden menyukainya juga. Oh ya, aku akan mencoba membangunkannya." ucap Alea sambil tersenyum. Gadis itu melangkah pergi meninggalkan ruang makan menuju ke lantai atas, lalu ia pergi ke kamarnya. Raiden tengah duduk dengan kondisi dada yang berdarah.
"Rai, kau kenapa? Kenapa kau berdarah?" tanya Alea seraya menghampiri Raiden dengan tatapan cemas. "Rai..."
"Aku baik-baik saja." ucapnya lirih seraya memegang lembut pipi kekasihnya itu.
"Baik-baik saja bagaimana? Kau berdarah banyak! Sebenarnya kau ini dari mana? Ini pasti sakit kan? Apa ini luka tembak??" tanya Alea beruntun, hingga membuat Raiden terpaksa harus membungkam bibirnya dengan bibir juga.
"Raiden! Kau masih saja mesum, aku sedang bertanya padamu SERIUS!" sentak Alea kesal.
"Nanti akan ku jelaskan padamu, tapi bisakah kau mengambilkan ponselku dulu?" Raiden meminta tolong pada Alea.
Alea bergegas mengambilkan ponsel raider yang terletak di atas lantai dan dia pun menyerahkan ponsel tersebut kepada pemiliknya. Raiden mengecup bibir Alea lagi sebagai tanda terimakasih. "Thanks, honey."
Alea dibuat tersipu malu olehnya, dia pun duduk di samping Raiden sambil menahan darah yang mengalir dari dada Raiden dengan kain yang ada disana. Ia terlihat cemas dengan keadaan kekasihnya itu. Raiden menelepon Chris untuk datang dan mengobatinya. Beruntung Chris cepat datang, dia mengobati luka Raiden. Alea ada disana dan melihat kekasihnya di obati.
Gadis itu terus mengomel karena luka tembak Raiden sedikit meleset saja bisa mengenai jantungnya. "Kalau kau mati, aku bagaimana? Aku tidak bisa hidup tanpamu." ucap Alea dengan mata yang mengembun.
Tangan Raiden menarik Alea, hingga tubuh gadis itu jatuh tepat di atas pangkuannya. "Tapi--aku kan tidak mati. Dan jangan pernah berharap aku mati, aku tidak mau kau menjadi janda muda. Kalau aku jadi janda, kau akan dengan mudahnya mencari pria lain di luar sana."
"Apa kau sedang bercanda?" Alea mendelik tajam.
"Melihatmu bersama pria lain, barulah aku bisa mati." Raiden menarik pelan dagu Alea, lalu perlahan ia mendekati wajahnya.
"Hey! Apa kalian lupa bahwa masih ada aku disini?" sentak Chris tiba-tiba dengan suara kesal. Alea pun kembali berdiri dan terlihat gugup. Mereka melupakan kehadiran Chris yang sedari tadi masih ada di ruangan itu.
"Sirik saja kau!" cetus Raiden.
__ADS_1
"Aku tidak sirik, aku bahkan punya banyak wanita dibandingkan dirimu Rai. Hanya saja kau tau--aku agak sedikit risih melihatmu bersikap vulgar begini. Seperti bukan dirimu." gerutu Chris seraya membereskan alat-alat medisnya.
"Asal kau tau, senjataku hanya berdiri ketika berada di dekatnya." pria itu tersenyum tipis.
"Kau serius? Nona...kau sangat spesial, sangat! Ketika ada seorang wanita kurang ajar yang memegang senjata Raiden, senjata pria ini sama sekali tidak bereaksi."
"Chris, stop!" Raiden meminta Chris untuk diam. Saat ia melihat raut wajah Alea kurang bersahabat.
"Senjata apa itu? Wanita kurang ajar?" tanya Alea mulai penasaran.
"Iya, dulu saat ke club malam...ada beberapa wanita yang menggodanya, tapi pria ini--"
"Beberapa wanita?" lirik Alea sinis pada Raiden, kedua tangannya menyilang di dada. Sial! Chris sudah membuat masalah dengannya. Alea marah, dia cemburu, gawat.
"Iya, wanita itu bahkan memegang senjata Raiden seperti lol--" Chris tidak sadar bahwa sedari tadi Raiden menatapnya dengan tatapan buas. Dan dia pun menyadarinya saat ini, bahwa mungkin nyawanya berada dalam bahaya. Lihat saja, pria itu menatapnya dengan tajam bak elang yang sedang memburu mangsanya.
"Hem..kalau begitu, aku permisi dulu hehe." Chris langsung berlari keluar dari sana. Namun satu kata dari Raiden langsung menghentikan langkahnya.
"Berhenti, atau ku tembak burungmu Chris!" ujar Raiden pada pria itu.
"Ehm...aku..."
"Jelaskan pada Alea, semuanya!" titah Raiden pada Chris dengan tegas. Lalu tatapannya beralih pada Alea. "Sayang, kau jangan salah paham. Chris si sialan ini akan menjelaskan semuanya." Raiden bicara dengan mode lembut pada Alea.
"Kau--kenapa masih berdiri disana? Tidak mau kemari?!" sentak Raiden pada Chris. Sungguh Raiden tidak tahan melihat raut wajah Alea di hiasi cemberut.
Chris merasa sangat sial karena tidak bisa menjaga mulutnya. Lalu ia pun membalikkan badannya dan menjelaskan semuanya pada Alea. Bahwa Raiden lah yang banyak digoda wanita lain di luar sana, bukan Raiden yang menggoda mereka. Akhirnya Alea percaya dan kepercayaan gadis itu membuat Chris selamat.
"Kau sudah lega kan?"
"Iya, aku percaya kau tidak akan mudah tergoda wanita lain di luar sana." seloroh Alea seraya tersenyum.
"Right, kau satu-satunya wanita yang bisa membuat hati dan ragaku bergerak." Raiden memeluk Alea pelan-pelan.
"Aku juga Rai." ucap Alea membalas.
Setelah itu Alea mengajak Raiden makan siang walau terlambat dan di lakukan di sore hari. Dan usai makan siang, Raiden membawa Alea pergi ke villa yang tak jauh dari mansion itu. Raiden bilang akan mempertemukan Alea dengan seseorang yang sangat ia rindukan.
Seseorang itu duduk di kursi roda dan membelakanginya. Namun dari belakang, Alea bisa mengenali orang itu. "Kak...kakak!"
Alexander membalikkan badannya, ia tersenyum melihat saudara kembarnya. "Alea..."
Mereka pun berpelukan dengan perasaan haru, diiringi isak tangis. Alea senang karena masih ada saudara kembarnya di dunia ini, ia tidak terlalu kesepian. "Aku sudah tau bahwa kau masih hidup, aku sudah tau..."
__ADS_1
"Aku senang bertemu denganmu Alea, terimakasih karena kau sudah baik-baik saja." Alexander mengusap lembut kepala Alea dengan penuh kasih sayang. Tangisan bahagia juga terlihat di matanya.
"Tidak! Itu seharusnya adalah kata-kataku, terima kasih karena kau masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja." Alea memeluk kakaknya lagi dengan bahagia.
Berita bahagia lainnya, Raiden berhasil menemukan saudara kembarnya yang hilang. Ia menceritakan semua tentang ayahnya pada Alea dan Alexander, Raiden juga meminta maaf karena ayahnya yang sudah membuat petaka di dalam keluarga Xavier. Awalnya Alea dan Alexander marah, namun semua itu bukan salah Raiden tapi ayahnya. Tentang kembaran Raiden, dia masih berada dalam keadaan koma.
Tanpa basa-basi lagi, Raiden langsung melamar Alea setelah keadaan dirasa membaik. Alexander dan semua keluarga Alea juga setuju dengan lamaran Raiden.
*****
3 bulan kemudian...
Seorang gadis cantik mengenakan gaun berwarna putih dengan mahkota cantik di kepalanya. Tengah duduk di tempat rias, bersama dengan kerabat dekatnya dan juga Lisa.
Perut wanita itu sudah terlihat membuncit, usia kandungannya sudah menginjak 5 bulan. Alea senang karena akhirnya Justin sudah mencoba membuka hati untuk Lisa. Terlihat Justin begitu perhatian pada Lisa, awalnya pria itu masih menggilai Alea. Namun sebuah kecelakaan kecil menyadarkannya, saat itu Lisa berusaha menolong Justin dan disanalah Lisa mendapatkan hati Justin.
"Selamat ya Alea, sepertinya kali ini Raiden tidak akan menculikmu lagi." kata Lisa sambil tersenyum bercanda.
"Mana mungkin begitu, dia bisa mendapatkan Alea dengan tangan terbuka tanpa menculiknya lagi." kata Justin seraya memeluk Lisa.
"Haha...kalian ini, itu tidak akan terjadi lagi. Rai, sudah meninggalkan dunia itu selamanya." kata Alea serius.
"Benarkah?" tanya Lisa senang mendengarnya. Alea dan Raiden sudah tidak berada di dunia itu lagi, maka mereka akan hidup bahagia.
Ya, salah satu syarat lamaran Raiden waktu itu. Alexander meminta agar Raiden tidak terlibat lagi dalam dunia hitam untuk selama-lamanya dan kini bisnis dunia hitam milik Stanhard telah di serahkan pada salah satu bawahan Raiden, yaitu Tommy. Raiden mengganti marga namanya menjadi Raiden Lucius Danzel, mengikuti marga kakeknya dari pihak ibunya.
Pernikahan Alea dan Raiden pun tiba, Alexander menuntun adiknya untuk diserahkan pada suaminya. Keduanya tampak bahagia.
"Saya mengambil engkau, Aleana Fidelya Xavier menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita dan inilah janji setiaku yang tulus." kata Raiden seraya mengangkat satu tangannya ke atas didepan sang pendeta. Wajahnya tampak berseri-seri.
"Saya mengambil engkau Raiden Lucius Danzel menjadi suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita dan inilah janji setiaku yang tulus." balas Alea tulus.
Keduanya pun telah resmi menjadi pasangan suami istri, janji mereka diakhiri dengan pemasangan cincin dan ciuman mesra. Semua orang terlihat bahagia dengan pernikahan mereka. Di kala semua orang tengah berada dalam kebahagiaan, Alea melihat sosok ibu, ayah dan adiknya Arsen tengah tersenyum padanya.
"Ayah, ibu, Arsen...kalian jangan khawatir karena aku akan baik-baik saja dan aku bahagia." lirih Alea seraya tersenyum dan menggandeng tangan suaminya.
Raiden tersenyum lebar, hari ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidupnya karena ia telah memiliki dunia dan seisinya, yaitu Alea.
...Tamat...
...****...
...Assalamualaikum semuanya, akhirnya tamat juga ini novel ππ tapi tenang aja nanti ada ekstra part 2 bab...jangan lupa komennya ya β€οΈβ€οΈ makasih banyak yang udah ngikutin sampai sini πβΊοΈ love you...
__ADS_1