Obsesi Cinta Tuan Mafia

Obsesi Cinta Tuan Mafia
Bab 48. Pesta mafia (2)


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Dia bukan wanita ku." kata Raiden kemudian melepaskan tangan Alea, gadis itu pun menoleh bingung ke arahnya dengan raut wajah kesal.


Raiden merotasikan matanya pada Tommy, ia menyuruh pria itu membawa Alea pergi dari sana. Karena berhadapan dengan Lucas, anak si Mr. tidak akan berakhir sederhana. Raiden takut Lucas yang hobi main wanita akan tertarik pada Alea. Raiden tau secara garis besar, Lucas seperti apa. Dia biasanya disebut psikopat wanita.


"Oh begitukah? Aku pikir dia sangat cantik," Lucas menatap nanar pada Alea yang saat ini berdiri tepat di samping Raiden. "Tapi dari yang ku dengar, kau seorang gay?"


Raiden tak mengindahkan ucapan Lucas, atensinya tertuju pada Tommy. "Tommy, bawa pelayan ini pergi dari sini! Beraninya kalian membawa pelayan rendahan ini kemari!" kata Raiden galak pada Tommy. Hatinya gelisah, apalagi saat Lucas menatap Alea.


Sedangkan Alea bingung, kenapa Raiden bicara begitu? Ia ingin marah, tapi setelah ia pikir-pikir lagi. Pasti Raiden memiliki maksud kenapa dia pura-pura tidak mengenal dekat dirinya.


"Maafkan saya tuan, saya bosan di mansion--jadi saya mengikuti tuan kemari." ucap Alea mengikuti permainan Raiden.


"Wah... ternyata benar hanya seorang pelayan saja berani ikut ke acar pesta ini." cibir Lucas pada Raiden. "Hey tuan Raiden, tidakkah kau harus memberikannya hukuman? Lihat dia! Betapa kurang ajarnya pelayan di mansionmu ini." kata Lucas terkesan menyebalkan.


"Aku akan menghukumnya nanti, itu bukan urusanmu." jawab Raiden tegas dan tatapannya menajam pada Lucas. Ia berharap pria itu cepat pergi.


"Bagaimana kalau hukumannya adalah menemaniku di pesta ini?" saat Lucas akan meraih tangan Alea, dengan cepat Raiden mendahului Lucas dan membuat gadis itu jatuh ke dalam pelukannya.


"Dia adalah pelayanku dan aku yang berhak menghukumnya. Oh ya, tuan Roberto menunggu anda di dalam Mr. Lucas." ujar Raiden mengalihkan perhatian Lucas dan salah satu bawahannya yang ada dibelakangnya, seorang pria dengan rambut merah. Perawakannya begitu sangar.


"Baiklah, aku duluan." Lucas berjalan bersama si rambut merah itu, namun sesekali ekor mata Lucas melihat ke arah Alea yang sangat cantik dengan rambut digerai dan dressnya yang berwarna maroon itu.


Segera setelah Lucas menjauh dari sana, Raiden menarik tangan Alea dengan kasar, membawa gadis itu ke tempat sepi, mengabaikan Tommy dan ketiga bawahannya di pesta itu. Tatapan cemas, marah, panik, bercampur di dalam raut wajahnya itu. Dia menyandarkan gadis itu ke tembok.


"Ah! Raiden, kau menyakitiku!" seru Alea memekik saat pria itu menyenderkannya ke tembok begitu saja. Tapi ia lebih sakit saat tangan kekar Raiden mencekal pergelangan tangannya dengan kuat.


"Kau! Kenapa kau ada disini, hah? Sudah ku bilang untuk tidak pergi kemana-mana!!" hardik Raiden emosi.


"Aku...aku merasakan firasat tidak enak tentangmu, Rai. Ja-jadi aku--"


"Bisakah kau tidak keras kepala Alea!" Raiden memangkas ucapan Alea sebelum gadis itu menyelesaikannya. "Ini bukan pesta biasa, ini bukan tempat dimana kau bisa datang sepuas hatimu! Ini adalah ranjau berbahaya untukmu, mengapa kau tidak paham? Keras kepala sekali dirimu ini!"


"A-aku tahu ini berbahaya tapi--" mata Alea bergetar melihat raut wajah Raiden yang campuran aduk itu. Alea dapat menerka bahwa pria itu marah, cemas, panik dan takut.


"Kau tau--tapi APA?!" lagi-lagi pria itu memotong ucapan Alea.


"Kau dengarkan aku dulu! Jangan memotong ucapanku terus. Jangan marah dulu padaku, Rai." gusar Alea dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Akhirnya pria itu mengalah dan melepaskan cekalan tangannya dari tangan Alea. Ia alihkan tangannya itu membelai lembut pipi Alea. Raiden sebenarnya tidak ingin bersikap kasar, tapi ini semua karena dia takut terjadi sesuatu pada Alea. Apalagi Lucas dan mungkin beberapa mafia yang berada di sana telah melihat wajah gadis itu.


"Jelaskan! Kalau penjelasanmu tidak logis, kau akan dapatkan hukuman." ucap Raiden tegas.


"Aku...aku datang kemari karena aku takut. Aku mencemaskanmu, aku takut terjadi sesuatu pada dirimu. Entah kenapa aku merasa bahwa akan terjadi sesuatu disini--"


Sayangnya hati Raiden yang sudah ditutupi rasa cemas dan takut, tidak bisa menahannya lagi. Apapun yang Alea katakan hanya terdengar seperti alasan. "Enough! Its not reason, Alea. Pulanglah bersama Tommy dan--"


Tiba-tiba saja Raiden mematung manakala Alea memajukan tubuhnya, berjinjit lalu kemudian ia mencium pipi Raiden. "Alea..." ditatapnya wanita itu dengan bingung. Wajah marah tadi kini kian berubah jadi linglung.


Alea juga terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan pada Raiden, entah kenapa dia seperti itu barusan. "Ra-Raiden aku--"


Tanpa aba-aba, Raiden merengkuh tubuh Alea dan membuatnya menempel di dinding. Kemudian pria itu mencium bibir Alea dengan rakus, ia mengajak si gadis untuk bertukar saliva. Suara decapan dan kecipak basah terdengar di dalam ruangan kosong yang hanya ada barang-barang bekas disana. Mungkin sebuah gudang.


Nafsu, perasaan mendalam, lalu mereka terbuai dalam ciuman itu. Hingga Raiden bergerak dengan insting lelakinya, tangan pria itu mulai bergerak dengan berani bagian depan gundukan milik Alea yang masih ditutupi dress dengan belahan dada yang terlihat.


"Eungh--ahhh..." lenguh Alea di sela-sela ciuman panas dan sentuhan tangan Raiden di depan sana. Tubuh Alea lemas karena terbuai, hingga Raiden merengkuh tubuhnya dengan erat agar tidak jatuh.


Merasa Alea akan kehabisan nafas dalam mengimbangi ciumannya yang liat, Raiden pun mengakhiri ciuman itu dalam waktu 2 menit. Mereka menyatukan kening masing-masing, hidung mancung mereka saling bersentuhan hampir tak ada jarak di wajah mereka. Netra abu-abu dan biru itu menatap dalam, dengan nafas yang terengah berkat ciuman barusan.


"Katakan bahwa ini bukan mimpi! Kau menciumku, kau berinisiatif lebih dulu...tolong jangan katakan bahwa aku yang terlalu percaya diri?" seloroh Raiden dengan intonasi yang dalam. Berharap jawaban Alea sesuai dengan ekspektasinya, setelah penantiannya selama ini.


"Yes Rai, i love you..." lirih Alea lembut, ia akhirnya menyadari bahwa perasaannya pada Raiden adalah cinta. Tak usah dijelaskan lagi, sebenarnya dari sikap Alea yang amat mencemaskan Raiden sudah menjadi bukti.


"Jadi--Rai, aku mohon kau harus--mmphhh--"


Kembali, Raiden memagut bibir basah nan bengkak itu. Dengan tangan yang menarik tengkuk si cantik, penuh perasaan haru bahagia. Bahkan buliran bening membasahi pipi Raiden. Ah! Tunggu? Apa Raiden menangis?


"Akhirnya...kau mengakui perasaanmu padaku...sudah kuduga bahwa kau mencintaiku!" ucap Raiden bahagia setelah Alea berhasil membuat jantungnya maraton dan hatinya berbunga-bunga.


"Iya...aku mencintaimu Rai...tapi--apa kau menangis?" tanya Alea seraya mengusap lembut air mata di pipi pria itu. Alea tidak percaya, Raiden menangis?


"Aku tidak menangis!" sanggah Raiden kembali dengan wajah datarnya.


"Haha...Raiden...apa kata bawahanmu nanti saat mereka melihatmu begini? Mereka pasti akan menertawakanmu....pasti tuan Tommy akan berkata, tuan mafia yang terhormat menangis karena seorang Alea? Itu pasti sangat--"


"Sudah cukup! Lebih baik kita keluar sekarang, sebelum aku berbuat macam-macam padamu disini."


"Hehe...ya ya baiklah, Raiden kepiting rebus haha. Lihatlah wajahmu ini sangat merah." ucap Alea sembari tertawa-tawa.

__ADS_1


"Jadi--kita sudah resmi menjadi kekasih." kata Raiden seraya memeluk Alea dengan lembut. Raiden sudah memiliki rencana di kepalanya, bahwa ia akan mengatakan cinta lagi pada Alea di tempat dan suasana yang lebih baik tentunya.


"Iya Rai, kita adalah kekasih."


Raiden melepas pelukan singkatnya, kemudian ia berkata bahwa ada peraturan yang harus Alea patuhi sebagai kekasih. Pertama-tama Alea harus pulang dari sini sekarang juga. Tapi Alea membantah, tidak mau menurut. Raiden tak bisa berbuat apa-apa, sebab gadis itu keras kepala.


"Baiklah, untuk kali ini aku memaafkan keras kepalamu itu. Karena kita sudah terlanjur disini, kau harus ikut aturan ku!"


"Baik Mr. Stanhard!"


"Bagus, Mrs. Stanhard." kata Raiden seraya tersenyum lalu mengecup kening Alea. Keduanya sama-sama terlihat bahagia setelah menyatakan cinta mereka.


****


Usai berciuman penuh kasih di dalam sana, Raiden dan Alea keluar dari ruangan itu dengan raut wajah berseri-seri. Tommy rupanya menunggu di luar sana, dia bersama Jerry yang tadi sedang ke toilet. Sementara tiga anak buah Tommy yang lain ada di luar sana ,mereka diusir karena tidak boleh ada banyak anak buah seorang mafia di dalam sana.


"Tuan--" Tommy akan bicara, namun tiba-tiba saja dia terdiam saat melihat gaun Alea melorot dan menunjukkan belahan dadanya. Tidak hanya itu, bibir tuannya dan juga gadis itu basah, disertai bengkak. Tommy dan Jerry jadi berfikir yang tidak-tidak. Apakah didalam sana tadi mereka--


"Ada apa? kenapa kau menatap kekasihku begitu?" tanya Raiden tajam.


"Eh? Kekasih?" Jerry dan Tommy saling melihat satu sama lain dengan raut wajah terkejut. Alea juga sama, pria itu langsung pamer kalau mereka sudah jadian pada anak buahnya.


'Jadi tuan benar-benar bukan Gay, haha' batin Tommy.


'Astaga, jadi tadi didalam itu--' batin Jerry keheranan.


Raiden pun sadar bahwa dress Alea melorot, kalau ia pun memakaikan jasnya pada Alea. Merapikan dress itu, dan mengusap bibir Alea yang basah. "Ayo sayang, kita ke pesta."


Mereka semua pun pergi ke pesta, namun Alea tidak terlalu dekat dengan Raiden sebab ia berperan sebagai pelayan disana. Pesta itu dihadiri oleh banyak anggota mafia, bahkan Wiliam juga ada disana. Ia melihat Raiden ada disana bersama Alea. William kurang senang Raiden bersama Alea.


Tanpa mereka sadari Leon berada diantara mereka dengan penyamaran, ia berusaha mencari informasi dimana anaknya berada.


Pesta itu pun berlalu cepat dengan kegiatan mengobrol ngobrol. Namun kebanyakan dari mereka membawa wanita untuk bersenang-senang. Ya, dari luar mereka tampak akrab namun sebenarnya dibelakang mereka adalah musuh dalam hal bisnis.


Di sepanjang perjalanan pulang, Alea terlihat kesal dan mendiami Raiden. "Sayang, kau ini sebenarnya kenapa?" tanya Raiden seraya memegang tangan Alea.


"Jangan sentuh aku! Aku tidak mau disentuh oleh mu!" serka Alea kesal sambil menepis tangan Raiden. Tommy, Jerry dan dua anak buah Raiden lainnya yang ada di mobil itu terheran-heran dengan sikap Alea.


...****...

__ADS_1


__ADS_2