Obsesi Cinta Tuan Mafia

Obsesi Cinta Tuan Mafia
Bab 14. Keras kepala


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Aileen mengurai pelukan suaminya, ia merasa bingung dan ambigu dengan perkataan Leon tentang dirinya yang telah menemukan titik terang.


"Titik terang apa pah? Apa papa sudah menemukan keberadaan putri kita?"


"Maafkan aku sayang, bukan maksudku memberimu harapan. Tapi--putri kita belum ditemukan sepenuhnya. Maksudku, aku baru saja menemukan titik terang tentang keberadaannya."


"Benarkah? Ini kabar yang cukup baik sayang. Jadi Aileen dimana?" tanya Aileen penasaran.


"Aku dengar bahwa salah satu jet pesawat yang membawa Alea adalah pesawat pribadi Mr R." jelas Leon dari informasi yang dia dapatkan dari orang-orangnya.


"Mr. R? Siapa dia sayang?"


"Dia mafia ke-dua yang paling kuat di Meksiko."


"Apa? Lalu kenapa dia menculik Putri kita? Apa kau memiliki masa lalu dengan Mr.R?" tanya Aileen pada suaminya.


"Tidak, aku bahkan tidak mengenalnya. Makanya aku bertanya padamu sayang, apakah kau tau sesuatu tentang Mr. R? Ataukah mendiang kakekmu pernah berhubungan dengannya?" tanya Leon pada istrinya.


Aileen terdiam seperti tengah berfikir, siapakah Mr. R ini? Saat Aileen menjadi mafia sama seperti kakeknya dulu, ia merasa tidak pernah berhadapan dengan seseorang yang bernama Mr. R.


"Sayang, coba kau selidiki dulu identitas Mr R ini. Karena setahuku, aku tidak pernah berurusan dengan nama itu."


"Justru itu sayang, aku tidak mengetahui identitasnya sebab identitasnya sangatlah tersembunyi." jelas Leon sambil menunjukkan raut wajah cemas.


Pasangan suami istri itu terlihat sangat mencemaskan keadaan Putri mereka yang entah dimana. Namun titik terang tentang Mr. R ini membuat mereka berdua yakin, bahwa Alea di culik oleh mafia yang merupakan bagian dari masa lalu kedua orang tuanya.


*****


Mansion Raiden, kota Milan.


Alea terbaring tak sadarkan diri didalam dekapan Raiden. Tubuh Alea terasa dingin dan wajahnya berkeringat. Raiden sangat murka pada semua orang yang tidak becus menjaga Alea, terutama Jerry. Pria itu yang menggiring Alea ke kamar hitam. Tempat yang seharusnya tidak Alea ketahui. Dan ya, kalau sudah begini itu artinya kartu Raiden terbongkar.


Raiden yang murka itu, mengesampingkan rasa murkanya terlebih dahulu dan mementingkan Alea yang tidak sadarkan diri. Dan saat itu Raiden baru teringat bahwa Alea memiliki trauma saat melihat darah yang banyak. Saat SMA, Alea pernah pingsan ketika ia melihat orang yang kecelakaan didepan matanya. Namun bukan tentang kecelakaan itu, melainkan darah yang mengucur deras.


Alea dibawa ke kamarnya dan Raiden memanggil dokter keluarganya yang bernama Chris untuk memeriksa kondisi Alea. Sementara anak buahnya semua di kurung, Tommy dan Jerry terkena hukuman berat di ruang hukuman.


"Chris! Tolong periksa dia, jangan sampai terjadi apapun padanya Chris!"


"Ini pertama kalinya kau memohon padaku, Rai." cetus Chris sambil memegang stetoskopnya dan melihat gadis yang terbaring di atas ranjang.

__ADS_1


"CHRIS!" sentak Raiden tak sabar.


"Baiklah kawan, santai." Chris tersenyum tipis. Baru pertama kalinya, Chris melihat sosok Raiden pria dengan tubuh kekar dan menyeramkan itu terlihat panik karena seorang wanita.


'Hem... wanita ini cantik juga, sepertinya dia sangat berarti untuk Raiden sampai membuat pria di depanku ini menjadi panik' ucap Chris dalam hatinya.


Chris melakukan pekerjaannya sebagai dokter dengan fokus. Ia memeriksa kondisi Alea. Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Chris menjelaskan bahwa kondisi Alea tidak apa-apa, hanya syok saja dan akan sembuh jika Alea beristirahat.


"Benarkah dia baik-baik saja? Lalu kenapa dia masih belum siuman?" tanya Raiden lagi.


"Percayalah padaku, dia baik-baik saja. Dia akan siuman setelah tidurnya cukup. Dan aku sudah meresepkan obat, juga vitamin untuknya. Satu lagi, jangan biarkan dia stress! Beban pikiran itulah penyebab utama yang membuat tubuhnya tidak sehat." jelas Chris pada Raiden. "Tapi, apa yang membuatnya begini? Dia syok kenapa?" tanya Chris penasaran.


Raiden tidak menjawab dan netranya hanya terfokus pada satu hal yaitu Alea. Hati Raiden benar-benar seperti dihantam godam berat ketika melihat Alea jatuh pingsan tadi.


"Raiden?" panggil Chris sekali lagi.


"Kenapa kau berisik sekali hah? Cepat pergi kalau kau sudah selesai!" bentak Raiden kesal.


Chris langsung cemberut, bibirnya mencebik sebal. "Kau ini sangat jahat ya! Bagaimana pun juga aku selalu datang kemari dan menjadi penolongmu! Saat kau terluka, aku selalu datang kapanpun juga dan sekarang kau mengusirku? Oh sungguh, hatiku sangat sakit...harga diriku juga terluka. Bagaimana nasib persahabatan kita Rai? Apa kau--"


Heup!


Raiden langsung membekap bibir Chris dengan satu tangannya. Atensinya juga tajam pada pria yang sudah bersahabat dengan Raiden saat kuliah diluar negeri.


Raiden membawa Chris keluar dari kamar karena pria itu terus saja mengoceh. Didepan kamar itu pun dia masih mengoceh.


"Kau bisa diam tidak?!"


"Hem...aku akan diam dan memaafkanmu, kalau kau menjelaskan padaku siapa wanita itu? Apakah dia adalah wanita--"


"Benar, dia adalah wanita itu. Wanita yang aku cintai, cinta pertamaku." pungkas Raiden tulus. Ia sama sekali tidak bercanda soal ini.


Chris tersenyum, lalu menepuk bahu Raiden dengan gaya sok akrabnya. "Akhirnya pohon kayu tua itu berbuah juga ya, hehe."


"Diam kau!" Raiden menatap tajam pada Chris.


"Kalau begitu, aku pergi dulu ya kawan. Besok aku akan memeriksanya lagi, sekalian berkenalan dengan si cantik." Chris senang sekali menggoda Raiden yang dingin. Walaupun watak kedua pria itu berbeda, namun Raiden cocok berteman dengannya.


"Jangan macam-macam." tukas Raiden.


"Baiklah baiklah, aku akan kembali nanti. Jagalah si cantik Rai!" Chris pun pergi dari sana setelah dia bicara dengan Raiden, mengingatkan pria itu untuk selalu menjaga Alea.

__ADS_1


*****


Sore itu...


Setelah 3 jam tak sadarkan diri, Alea pun mulai membuka matanya dan ada Raiden disampingnya.


Alea beranjak duduk, matanya menatap tajam pada Raiden. "Kau sudah sadar? Apa ada yang sakit?" tanya Raiden cemas.


Plakk!


Tiba-tiba saja tangan Alea menampar pipi Raiden dengan sekuat tenaganya. "Alea... kenapa kau menamparku?"


"Kenapa? Kau tanya kenapa? Aku harusnya yang tanya kenapa! Kenapa kau membunuh gadis itu?! Kau sangat jahat!" geram Alea sambil terisak mengingat wajah Carissa yang berlumuran darah dan kakinya yang menghitam.


"Dia mencoba melukaimu dengan sengaja," jawab Raiden sekenanya.


"Jangan mengarang cerita! Bagaimana bisa dia melakukan itu padaku? Aku tidak ada masalah dengannya sebab aku juga baru kenal dengannya selama 1 Minggu. Kenapa dia harus mencelakaiku?" oceh Alea kesal.


"Dasar keras kepala!" Raiden berdecih, ia mulai kesal dengan sikap Alea yang polos dan mudah dibodohi. Dari dulu Alea selalu lembut dan penuh pikiran positif.


"Kau jahat Raiden! Kau jahat...kau pembunuh!" Alea memukul-mukul dada Raiden dengan kesal. Ia tak percaya Raiden membunuh Carissa hanya karena dirinya.


"Dia belum mati Alea! Tapi aku tidak akan membebaskannya!"


Alea terhenyak lega mendengar Carissa masih hidup. Ia pun memohon pada Raiden untuk Carissa. "Bebaskan dia Rai! Kumohon!"


"Tidak Alea."


Selama ini Raiden tidak pernah memberikan ampun kepada siapapun yang mencoba menyakiti orang yang ia sayangi. Dia selalu menyingkirkan resiko bahaya untuk dirinya sendiri maupun Alea.


"Rai...aku mohon, jangan kejam padanya! Dia kan tidak sengaja dan lagi aku tidak terluka. Aku mohon maafkan dia."


Melihat Alea menangis dan memohon padanya seperti ini, jelas membuat Raiden luluh. "Baik, aku akan memaafkan dan membebaskan dia." ucap Raiden dengan mudahnya.


"Benarkah itu Rai?"


"Ya, tapi dengan satu syarat!" kata Raiden lugas.


"Apa?"


"Jika dia sampai ketahuan menyakitimu lagi, izinkan aku membunuhnya." kata Raiden tidak main-main dan membuat wajah gadis itu memucat.

__ADS_1


Kau sangat keras kepala Alea, mungkin jika kau melihat dan merasakan sendiri. Baru kau akan menyadarinya.


...****...


__ADS_2