
...🍁🍁🍁🍁...
Rupanya usaha Alea mengelabui para anak buah mafia dan usahanya melarikan diri, hanya sia-sia. Sebab si ketua mafia Jack berhasil menangkap basah gadis itu ketika ia akan melarikan diri.
Jack menjambak rambut Alea dengan kasar, tak hanya itu ia juga menampar Alea hingga pipinya langsung memerah dan sudut bibirnya berdarah lagi.
'Perih, sakit, tapi aku harus tahan'
Alea yang jatuh terduduk berusaha untuk kembali berdiri, namun dengan kasar Jack menjambak rambutnya lagi seraya menyeret tubuhnya. Disana juga sudah ada anak buah Jack yang lain, anak buahnya yang mesum tadi. Dibandingkan kawanan Rizz yang tergolong santai dan kalem. Mereka yan
"AKHHH... lepaskan aku... kumohon...ini menyakitkan...ah..."
Gadis itu sungguh tidak tahan lagi dengan rasa sakit di kepalanya, rasanya rambut itu seakan di lepas dari sana. Sakitnya sampai ke ubun-ubun dan membuat Alea terus meringis. Apalagi kakinya terseret-seret di pantai, menyebabkan luka lecet pada kakinya. Sangat perih dan sakit.
"Kau pikir kau pintar hah? Kau pikir kami bodoh? KAU INGIN MERASAKAN KEKEJAMAN KAMI? BAIKLAH!" hardik Jack penuh amarah. Pria itu dengan sedikit tenaganya, tapi mampu membuat Alea terluka.
Sedangkan Rizz dan tiga pria yang tadi menjaga Alea hanya bisa melihatnya dengan pasrah diseret seperti itu. Sungguh pria-pria itu sangat kejam padanya.
"Tolong...sakit..." Alea meringis kesakitan. Tapi Jack tetap menarik rambut dan menyeret tubuhnya.
'Rai, tolong aku'
Bukan nama ayah, ibu, kakak, adik, ataupun tunangannya yang terbesit didalam benak Alea. Tapi nama Raiden, entah kenapa hanya Raiden yang bisa ia ingat saat ini.
Jack dengan emosi, menyeret Alea ke sebuah ruangan kumuh dimana ada para anak buahnya yang genit disana. Tubuh Alea terpelanting ke ranjang keras disana.
BUGH!
"AKHHH!"
"Kalian mau dia kan? Silahkan kalian cicipi," ucap Jack kepada para anak buahnya itu. Mereka berlima pun tersenyum menyeringai dan bersiap untuk melaksanakan aksi bejat yang berbalut perintah itu.
Alea mulai takut dengan tatapan tatapan lapar penuh nafsu dari lima pria bule bertubuh besar itu. "Jangan! JANGAN!"
Suara Alea gemetar saat berteriak-teriak, tubuhnya beringsut mundur menghindari mereka semua yang mulai menanggalkan pakaian. "KUMOHON...jangan! RAIDEN dia tidak akan membiarkan kalian semua." ancam Alea pada Jack.
"Aku tidak perduli dan sepertinya dia juga tidak peduli padamu. Buktinya dia tidak ada disini untuk menyelamatkanmu. Dia terlalu lamban dan selamanya dia hanya anak ingusan, tidak akan bisa melampaui diriku! Akulah master of MAFIA!" kata Jack dengan angkuhnya, disertai tawa yang menyeramkan.
Jack menatap Alea dengan tajam kemudian pria itu pergi dari sana, sementara salah satu pria itu mulai berani memegang kakinya yang mulus. "Come on nona, akan ku beri kau yang namanya nikmat surgawi...haha." kata pria itu terbahak. Lidahnya keluar, sungguh menjijikkan.
'Aku tidak punya pilihan lain'
__ADS_1
Gadis yang tengah terdesak itu akhirnya merogoh sesuatu di saku blazernya. Dengan tangan gemetar, ia mengancam semua orang disana dengan pistol yang ia pegang.
"Wow...wow...kau membawa pistol nona," ucap seorang pria pura-pura terkejut.
Kelima pria itu sontak menjauhi Alea dengan kondisi telanjang dada dan resleting celana yang sudah dibuka. Mereka benar-benar serius ingin menggagahi wanita itu. "Mundur! Kalau tidak, aku akan melepaskan peluru didalam pelatuk ini!" hardik Alea mencoba memberanikan diri walau ia sangat ketakutan saat ini.
"Letakkan itu nona! Tidak baik gadis cantik sepertimu memegang senjata seperti itu, lebih baik kau memegang senjataku yang sudah tegak di bawah ini! Hahaha..."
Dor!!
Tanpa diduga-duga, Alea menarik pelatuk untuk pertama kalinya. Kelima pria itu terkejut dan Alea juga syok. Peluru itu mengenai salah seorang pria yang berambut merah.
'Aku menembak...aku?'
"SHITT!! Sudahlah kita hentikan permainan ini dan mulai saja. Aku sudah tidak tahan," ucap pria berambut merah itu sambil memegang tangannya yang berdarah karena timah panas yang ditembakkan Alea. Beruntung baginya karena tembakan itu tidak sampai melubangi tangannya dan meleset, hanya mengenai sedikit kulit luar tangannya.
Pria itulah yang lebih dulu mencengkram kedua tangan Alea dengan kasar. "Akh... lepaskan aku BAJINGAN!"
Ketika pria itu akan mencumbu Alea, tiba-tiba saja terdengar suara pintu yang di dobrak dan hancur.
BRAKK!!
Benar saja, pintu ruangan itu hancur lebur karena tendangan dari seseorang. Tak hanya itu, di luar sana terdengar suara tembakan beruntun. Seperti terjadi perkelahian.
"Justin?" panggil Alea pada pria yang kini sudah berdiri diambang pintu itu. Dia mengerutkan keningnya, ketika melihat sosok pria yang masih berstatus sebagai tunangannya itu ternyata ada disana. Apakah ia bermimpi?
Sepasang netranya kini bertemu dengan Alea, penuh rasa rindu dan cinta. Ingin ia memeluk Alea dan memecahkan kerinduannya saat itu juga. Namun kelima pria itu harus dia bereskan dulu.
"Beraninya kalian menyentuh ALEA!" Justin berlari lalu menendang dua orang pria berbadan kekar itu dengan keras.
Kedua pria itu terjengkang jatuh karena tendangan Justin. Pria itu benar-benar marah melihat Alea terluka. Masih tersirat banyak cinta didalam hati Justin untuk Alea. Tapi entah kenapa Alea merasakan hal aneh. Kenapa Alea tidak senang Justin yang datang dan berharap pria itu yang datang?
RAIDEN, ya nama itulah yang Alea harapkan. Mengapa? Harusnya ia senang bukan dengan kedatangan Justin, tunangannya.
Terjadi baku hantam di depan Alea, Justin melawan ke 5 pria itu. Tapi pada akhirnya Justin terdesak dan kalah oleh kemampuan bela diri anak buah mafia terkuat nomor 3 di dunia mafia itu.
"Bangun kau! Dasar pria kecil!" tantang kelima pria itu pada Justin yang sudah lemah dengan wajah lebam-lebam. Alea tidak tega melihat Justin seperti itu, ia pun berusaha melindungi Justin saat si rambut merah mengangkat besi untuk memukul Justin dari belakang, ketika pria itu kehilangan konsentrasinya.
"Justin!"
BUGH!
__ADS_1
PRANG!
"Rai..." lirih Alea terkejut melihat Raiden yang terkena pukulan itu, bahkan kepalanya sampai mengalir darah. Justin juga terkejut saat Raiden menyelamatkan dirinya.
Dengan kerennya Raiden masih bisa tetap santai, ia bahkan melirik kelima pria itu dengan tatapan membunuh. Kemudian mengarahkan pistol ke arah mereka.
"Justin, tolong tutup mata Alea dan telinganya." ujar Raiden penuh penekanan.
Tanpa bicara, Justin langsung memeluk Alea dan menutup kedua telinga Alea dengan tangannya.
Dor!
Dor!
Dor!
Dor!
Dor!
Lima kali terdengar suara tembakan itu dengan brutal. Raiden seperti seorang algojo yang mengeksekusi terpidana hukuman mati. Raiden tau akan menjadi masalah bila dia membunuh anak buah Jack, tapi melihat luka-luka di wajah dan tubuh Alea. Ia tidak bis menahan emosinya. Kelima orang itu pun roboh dengan kepala berlubang, mereka semua sudah mati.
"Bawa Alea pergi dari sini!" ujar Raiden pada Justin dengan suara dingin dan ia melirik pada sepasang kekasih yang masih berpelukan itu.
Hancur, itulah yang Raiden rasakan saat ini. Sepasang netra berwarna abunya itu menyiratkan luka dan rasa sakit.
"Sweetie...kau tidak apa-apa kan?" tanya Justin seraya meraba-raba wajah Alea dengan lembut, kemudian dia mencium kening gadis itu dan memeluknya kembali.
"Aku baik-baik saja Justin," Alea ragu membalas pelukan Justin. Entah kenapa dan tatapan Alea tertuju pada mata Raiden yang berkaca-kaca melihatnya saat ini.
'Kenapa kau menatapku seperti itu Rai? Kenapa rasanya aneh?'
...****...
Spoiler bab berikutnya...
"Sungguh? Kau ingin aku pergi?"
"Bukankah itu yang kau inginkan selama ini. Lagipula sudah ada Justin, tunanganmu."
...****...
__ADS_1
Jangan lupa komennya Readers...sorry untuk novel ini belum bisa Crazy up... mungkin bulan depan ya 😎