
...🍁🍁🍁...
Malam telah berganti menjadi pagi, bulan telah berganti menjadi matahari. Seorang gadis diatas ranjang empuk nan nyaman itu baru saja terbangun dari tidurnya. "Hoamm...ini sudah pagi rupanya. Apa ini sudah siang?" gumam gadis itu bingung.
Alea pun melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, kemudian ia akan bersiap untuk pindah ke apartemen tempatnya tinggal nanti. 15 menit telah berlalu, Alea selesai membersihkan tubuhnya di bawah guyuran shower yang segar.
Gadis itu mengikat satu rambutnya, memakai celana jeans dan juga blouse lengan pendek berwarna ungu. Dia tampak cantik, walau hanya dengan penampilannya sederhana seperti ini. Perlu digarisbawahi bahwa Alea tidak seperti gadis lain yang hobi belanja, ke salon dan berkumpul bersama dengan teman-teman wanitanya. Kemudian bergibah ria.
Alea tidak bisa begitu, ia fokus dengan sekolahnya sebagai desainer perhiasan dan pakaian di kota Paris sebelumnya. Kini setelah batal menikah dengan Justin dan jadian dengan Raiden, mungkin ia akan kembali memulai karirnya sebagai desainer di Paris. Namun untuk sementara ini, Alea akan memenangkan dirinya dulu dari duka di dalam hatinya karena kehilangan semua anggota keluarganya. Meski Alexander, tak tahu bagaimana kabarnya dan dia ada dimana.
Pagi itu Alea turun dari lantai atas, menuju ke lantai bawah dengan buru-buru. Niatnya ia akan bicara pada Raiden dan meminta bantuan untuk mencari Alexander, ia yakin bahwa hilangnya Alexander ada hubungannya dengan dunia mafia, alias dunia ilegal.
"Hati-hati! Jangan berlari seperti itu Alea, kau bisa jatuh!" seru Raiden memperingatkan, ia khawatir melihat Alea jalan sambil berlari-lari dari atas tangga.
"Rai, aku ingin bicara padamu! Ini pen--kyaakkk!!" Pekik Alea terkejut saat kakinya tidak menapak lagi di salah satu anak tangga, alhasil tubuhnya jadi oleng.
Dengan sigap Raiden berlari dan menangkap tubuh Alea yang hampir jatuh itu. Ya, Alea memang jatuh. Jatuh ke pelukan Raiden lebih tepatnya. Dan adegan itu tak luput dari perhatian pengawal dan juga Maids yang ada disana, mereka diam-diam tersenyum melihat betapa manisnya pasangan yang belum lama menjalin hubungan itu.
"Sudah aku bilang kan, untuk berhati-hati! Memang ya, keras kepala itu adalah bagian dari dirimu." seloroh Raiden yang masih memeluk Alea.
"Ish..kau benar-benar menyebalkan! Ayo turunkan aku!" ujar Alea kesal karena Raiden masih memeluknya dan memarahinya juga. Bukan marah tapi menegur Alea yang berjalan tidak hati-hati barusan.
Tanpa bicara apapun, tanpa menurunkan gadis itu dari gendongannya yang ala karung beras tersebut. Raiden membawa Alea ke ruang makan, sungguh Alea malu karena semua pengawal dan pelayan yang ada disana jadi beratensi padanya.
Dengan hati-hati Raiden mendudukkan Alea di atas kursi yang sudah ditarik oleh Raiden sebelumnya. Di depan sana, diatas meja, telah tersedia roti dan juga telur sebagai menu sarapan hari ini. Menu sarapan yang simple dan tidak menghabiskan waktu lama untuk memakannya.
"Makanlah,"
"Hem...baik." sahut Alea sambil mengambil rotinya. Namun mata gadis itu mengunci pria tampan didepannya dengan tatapan yang tidak dapat diartikan oleh Raiden.
Raiden sendiri yang baru saja memakan satu gigitan rotinya, sontak mengalihkan atensi pada Alea saat menyadari gadis itu tengah menatapnya. "Kenapa sayang? Apa aku tampan?" tanya Raiden dengan smirk dibibirnya. Senyuman tipis yang menggoda si cantik didepannya itu.
"Cih! kenapa kau jadi kepedean begini?" tukas Alea sebal, lalu mengigit roti panggang tersebut dengan bibir masam.
"Aku kan memang tampan." jawab Raiden.
Dalam hati Alea juga mengatakan yang sama, ia teringat berapa banyak wanita yang di tolak oleh Raiden.Bahkan saat sekolah dulu, Raiden memiliki fans club, dia dinobatkan sebagai raja di SMA dulu tempat mereka bersekolah. Pria kasar, dingin, tapi memiliki popularitas paling tinggi.
"Baiklah Alea, ada yang mau aku bicarakan denganmu." kata Raiden di sela-sela sarapan pagi mereka.
"Ya, aku juga. Tapi--kau duluan yang mengatakannya." ujar Alea.
"Ladies first." ucap Raiden singkat. Alea berdecak, ia pun mengatakan maksudnya pada Raiden. Ia meminta pria itu untuk mencari informasi tentang keberadaan kakaknya, Alexander.
__ADS_1
"Kumohon Rai, tolong cari kakakku. Dia adalah satu-satunya anggota keluargaku yang tersisa, setidaknya aku memiliki harapan dia masih hidup." kata Alea pada kekasihnya itu dengan wajah sedihnya.
'Tanpa kau mengatakannya atau memintanya, aku memang sudah meminta orang menyelidiki tentang Alexander. Dia juga adalah sahabatku dan calon kakak iparku' Raiden membatin.
"Tentu, aku akan membantu. Tapi selama dalam pencarian itu, kau harus tetap tinggal disini. Urungkan niatmu untuk tinggal di apartemen." Raiden mengajukan syarat pada Alea.
"A-apa itu tidak--"
"Syaratnya hanya itu--dan ini demi kebaikanmu juga Alea. Apa kau tau bahwa pihak polisi dan orang-orang ku belum menemukan siapa pelaku pembantaian itu? Aku hanya takut kehilanganmu, pahamilah aku dan jangan keras kepala... setidaknya untuk diriku, kau harus baik-baik saja." Raiden meminta kepada kekasihnya untuk tidak egois dan keras kepala untuk satu kali ini saja, sebab ini juga demi kebaikannya sendiri.
Alea menarik nafas kemudian menghembuskannya, ia sadar bahwa dirinya terlalu keras kepala selama ini. "Huft...baiklah, aku akan tetap tinggal disini." sahut Alea setuju.
****
Telat setelah sarapan pagi, Raiden pamit pergi dari mansion tersebut pada kekasihnya. Ia meminta puluhan orang pengawalnya untuk menjaga Alea. Pria itu mewanti-wanti kepada pengawal pengawalnya untuk selalu waspada dan tak boleh ada satupun luka di tubuh Alea. Peringatan dan perintah ini juga berlaku pada para maids di mansion itu.
"Jika sampai gadisku tergores sedikit saja--tunggu waktu KEMATIAN kalian!" sentak Raiden kepada para pengawal dan maids yang tenang berjejer didepan rumah itu seperti sedang latihan militer saja.
"Rai, sudahlah kau membuat mereka ketakutan! Aku akan baik-baik saja dan meskipun aku terluka sedikit--itu bukan salah mereka. Ini tubuhku dan akulah yang bertanggung jawab atasnya." kata Alea seraya menatap tajam pada kekasihnya.
"Iya iya baiklah, terserah kau saja sayang." Raiden balas tersenyum. Sontak saja semua pengawal dan maids merasa jadi nyamuk diantara mereka berdua.
"Lagi-lagi kau memanggilku, apa kau mau ku pukul?!" ancam Alea galak.
"Kita hanya penyewa disini." bisik Tommy seraya tersenyum.
Kemudian Raiden memeluk dan mencium kening Alea sebelum ia benar-benar pergi. Ayahnya menelpon Raiden untuk pergi ke rumah merah miliknya. Entah apa yang akan di bicarakan oleh pria itu padanya.
"Rai, cepatlah kembali...aku menunggumu."
"Heem." balas Raiden kemudian ia masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan oleh Jerry. Sementara Tommy berada di rumah bersama dengan Alea dan puluhan anak buah Raiden yang lain.
Alea pun berdoa agar Raiden selalu berada dalam baik-baik saja dan cepat menemukan Raymond saudara kembarnya itu. Agar semua ini cepat berakhir dan Raiden bisa hidup normal.
*****
1 jam menempuh perjalanan, Raiden, Jerry dan anak buahnya yang lain sampai di rumah merah milik William. Seperti biasa, Wiliam tengah melakukan adegan intim bersama dengan beberapa wanita yang biasa disebut Threesomee. Ini gila, tapi memang benar adanya. Salah satu alasan Cleo meninggalkan William adalah sikap pria itu yang kecanduan sekss.
"Ada apa ayah memanggilku?"
"Duduklah dulu Rai, ada banyak hal yang harus kita bicarakan." ucap William pada anaknya, sambil meresletingkan celananya. Kemudian ia meminta dua wanita berpakaian seksi itu untuk pergi dari sana.
"Hey boy, kau sangat tampan." kata seorang wanita berambut pendek sambil memegang-megang dada Raiden.
__ADS_1
"Apa kau mau pelayanan dari kami?" tanya seorang wanita seraya memegang dagu Raiden dengan genit. Tanpa hati, Raiden memelintir tangannya.
"Ack! Sialan!" pekik wanita itu kesakitan.
"Enyahlah!" ujar Raiden marah karena dipegang-pegang oleh wanita-wanita genit itu. William hanya tersenyum tipis melihat sikap anaknya pada dua wanita pemuas nafsunya itu.
Raiden pun kini hanya duduk berdua bersama ayahnya di sebuah ruangan tertutup disana. William langsung mengatakan apa maksudnya pria itu meminta Raiden kemari. William memerintahkan Raiden untuk membunuh Lucas, anak dari MR.X.
"Membunuh Lucas? Apa ayah sudah gila? Kita sudah menjalin hubungan kerjasama dengan meraka bukan?" tampaknya Raiden tidak setuju dengan ucapan William.
"Son, kau tau kan tidak ada yang namanya hubungan sehat diantara para mafia. Dengan kau melenyapkan Lucas, pewaris dari kalajengking merah. Maka geng kita akan menjadi nomor satu dalam dunia mafia dan setelah itu kau akan menjadi pewarisku." ucap William tajam.
"Ayah, sejak awal tujuanku datang kesini bukan untuk jadi pewarismu. Aku kesini untuk menemukan Raymond, saudaraku." tegas Raiden dengan sorot mata bagai kilat pada ayahnya.
William mengernyitkan dahinya, ia tidak terima dibantah oleh Raiden putranya sendiri. Raiden jadi membangkang.
"Raiden, tapi hanya kau satu-satunya pewarisku!" geram William.
"Tapi aku tak mau, setelah menemukan Ray aku akan kembali pada kehidupanku yang semula. Bersama orang-orang yang kucintai." itulah tujuan Raiden menjadi mafia, untuk menemukan Raymond. Tidak ada niatan sama sekali untuk menjadi pewaris.
"Memangnya kau bisa hidup seperti itu? Kau sudah terjun ke dalam dunia ini Raiden, kau sudah basah dan--"
"Enough! Jika kau memintaku kemari untuk membicarakan masalah ini, maka jangan pernah memintaku datang kemari lagi." Raiden memotong ucapan papanya.
'Sialan! Ini semua karena wanita itu, Raiden jadi berubah. Harusnya dia lenyap saja bersama keluarganya waktu itu' geram William dalam hatinya.
Raiden Lucius Stanhard, akhirnya pergi meninggalkan rumah merah itu tanpa pamit pada ayahnya karena kesal. Jauh-jauh ia datang kemari hanya untuk membicarakan ini? Setelahnya Raiden akan pergi mengecek barang-barang dan senjata yang di selundupkan ke kapal pesiar menuju New Caledonia.
***
Sepeninggal Raiden, William sangat marah bahkan sampai membunuh dia pengawalnya karena emosi. William pun pergi ke suatu tempat untuk melampiaskan kemarahannya, ia pergi ke tempat Raymond. Namun bukan hanya ada Raymond saja disana.
"Raiden sudah mulai membantahku karena wanita itu...baiklah mungkin aku memang harus membangkitkan pewarisku yang satunya lagi. Siapa tau dia berguna!" ujar William kesal.
"Cepat siapkan operasi pemindahan jantungnya!" seru Wiliam, pada para anak buahnya yang memakai setelan baju putih-putih.
Dan terlihat dua orang pria terbaring lemah diatas ranjang dengan selang oksigen yang ada pada tubuh mereka berdua.
...****...
Spoiler....
"Raiden! Kau kenapa? Bagaimana ini bisa terjadi..."
__ADS_1