Obsesi Cinta Tuan Mafia

Obsesi Cinta Tuan Mafia
Bab 38. Terbukalah Rai


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Lisa menangis dan kesal sebab suaminya pergi tanpa mempedulikan dirinya. Lisa pikir setelah ia menikah, ia akan bahagia dan sikap Justin akan berubah. Apalagi ia mengandung anaknya, ya setidaknya berubah jadi lebih baik. Tapi Lisa salah besar, pria itu malah semakin membencinya setelah menjadi miliknya.


"Kenapa kau ada disitu? Sudah, biarkan saja suamimu pergi." ucap Hera sambil tersenyum sinis.


"Ma, kenapa mama tega padaku? Suamiku, dia pergi mengejar wanita lain dan Mama membiarkannya? Mama jangan lupa kalau aku sedang mengandung cucu mama." ungkap Lisa seraya mengusap air mata yang terus jatuh membasahi pipinya.


"Cih! Baiklah, kau memang sedang mengandung cucuku...lalu apa yang harus aku lakukan kalau anakku tak mencintaimu? Terima nasibmu saja Lisa, kau adalah pelakor. Mungkin ini karmamu karena sudah merebut calon suami orang lain dengan cara licik. Jangan salahkan anakku atas kehamilanmu, kau sendiri yang menikmatinya bukan?" ucap Hera begitu sarkas dan menusuk ke dalam hati Lisa.


Seketika Lisa membeku dan secara langsung diamnya ini membenarkan semua ucapan ibu mertuanya itu. Ya, dia memang sudah merebut calon suami dari sahabatnya sendiri. Andaikata malam itu Lisa menghindar saja dan bukan menikmati, pasti Lisa tidak akan sesakit ini. Dianggap wanita licik dan penuh tipu muslihat, itulah pandangan orang-orang terhadapnya. Apalagi Justin dan Hera, mereka tidak menganggap Lisa sama sekali.


****


Didepan mansion Xavier, kini Justin berada sambil membawakan buket bunga. Makanan untuk keluarga Alea, gadis yang masih menjadi penghuni hatinya.


Kedatangannya kesana, tentulah masih menaruh harapan besar pada hubungannya dan Alea. Bahkan ia melupakan statusnya yang sudah menikah.


"Mau apa kau kemari Justin?" tanya Alexander seraya menepuk bahu Justin, pria itu baru saja pulang dari rumah temannya dan melihat Justin masih berdiri di gerbang.


"Alex, apa Alea ada di rumah?" tanya Justin sambil tersenyum.


"Alea tidak ada. Lagipula kenapa kau menanyakan adikku? Dan--kenapa kau kemari Justin?" tanya Alexander dengan pandangan tak suka.


"Aku ingin bertemu dengan calon istriku, apa aku salah?" jawab Justin sekaligus bertanya. Alexander sangat terkejut dengan jawaban Justin, rasanya bogem mentah ingin melayang di wajah Justin.

__ADS_1


Tapi tunggu--mengapa pria itu tampak kurusan? Pucat dan seperti orang stres dengan pandangan mata kosong. Mungkinkah Justin sakit?


"Lebih baik kau pulang, sebelum aku mengusirmu dengan cara yang kasar." ancam Alexander, kemudian anak sulung dari keluarga Xavier itu meminta petugas kemanan di rumahnya untuk membukakan pintu gerbang.


"Alex, aku mohon...aku sangat merindukan Alea. Izinkan aku bertemu dengannya." Justin mencekal tangan Alexander, ia memohon pada pria itu untuk mempertemukannya dengan Alea. "Aku bisa mati kalau tidak melihatnya."


Alexander menghempaskan tangan Justin, ditatapnya pria itu dengan sinis. "Justin, hentikan semua ini. Kau ini kenapa hah? Kau sudah menikah, jadi jauhi ADIKKU!"


"I-itu...aku tidak menikah, aku hanya akan benar-benar menikahi Alea." ucap Justin tergagap. Ia jadi ingat statusnya, tapi tak mau peduli.


"JUSTIN! Hentikan dan sadarlah, sebelum kau kehilangan Lisa dan bayimu. Lupakan adikku Alea, ingat statusmu!" serka Alexander mengingatkan.


Namun Justin tidak mengindahkan apa yang dikatakan oleh Alexander, dia tetap bebal dan memegang tangan pria itu. "Kumohon...katakan dimana Alea? Aku ingin bertemu dengannya!" sentak Justin keras kepala.


"Justin, KAU--"


"Jadi Alea di rumah Raiden? Kenapa kalian membiarkan Alea bersama dengan dia?!" teriak Justin marah.


Alexander dan Arsen semakin ilfeel dengan sikap Justin. Siapa pria itu berhak marah pada Alea? Padahal mereka juga bukan siapa-siapa lagi. Mungkin juga hubungan persahabatan mereka juga hancur.


****


Akhirnya Alea dan Raiden sampai di atas gedung sekolah itu. Disinilah Alea dan Raiden selalu menghabiskan waktu bersama melihat bintang. Tidak ada Justin dan Lisa, tempat ini hanya mereka berdua yang tau. Setiap kali Alea sedih, ia selalu berteriak disini bersama Raiden. Dan disini juga Alea akan membuat pria itu terbuka padanya tentang semua hal yang berkaitan dengan dunia hitam. Apa alasan Raiden berubah,Alea harus tau.


"Tempat ini sama sekali tidak berubah ya. Masih sama seperti 4 tahun yang lalu, tapi orang disebelahku inilah yang banyak berubah." sindir Alea seraya menatap Raiden yang masih berwajah datar.

__ADS_1


"....." hening, tak ada respon dari Raiden.


"Rai, lebih baik kau matikan dulu mode kulkasmu itu. Aku ingin bicara serius padamu," ucap Alea tegas.


"Hem." sahut Raiden datar lagi.


"Ayo kita duduk dulu." ujar Alea seraya meniup niup debu di lantai itu agar tak kotor saat diduduki. Kemudian ia pun menyapu nyapu kotor di lantai itu, tapi tiba-tiba saja.


"Ahhh!!" pekik Alea sambil menarik tangannya dan melihat jari telunjuknya terluka. "Kenapa bisa ada silet disini?!" gerutu gadis itu.


Tangan Raiden buru-buru memegang tangan Alea yang terluka, jari telunjuknya lebih tepatnya begitu. "Sakit?"


"Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil."


Tak berselang lama kemudian, bibir Raiden mengulum jari telunjuk Alea, menjilat lukanya seperti Vampir. Sungguh, apa yang dilakukan oleh Raiden membuat hati Alea berdebar.


"Raiden--a-apa yang kau--" Alea dibuat gagap karenanya. Sumpah demi apapun, wajah Raiden begitu mempesona saat ini dimatanya.


Dan beberapa detik kemudian, Raiden selesai dengan aksi yang gila menurut Alea. "Apa masih sakit? Kalau masih sakit, kita pulang saja dan obati di--"


"Tidak sesakit hatiku Rai, luka ini tidak apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit yang ada didalam hatiku sebab kau tak mau terbuka padaku." Alea memangkas ucapan Raiden.


"Terbukalah Rai, padaku. Kau masih menganggap diriku penting dalam hidupmu kan?" tanya Alea yang membuat pria itu mendesah pelan, ia paling tak bisa membuat gadis itu sedih. Mungkin ia rasa cintanya untuk Alea begitu besar, walau jarang di tunjukkan dengan kata-kata.


"Baiklah, tanyakan apa yang ingin kau tanyakan. Aku akan menjawabnya." desah Raiden akhirnya, hingga senyuman indah pun terbit di wajah si cantik.

__ADS_1


Alea siap menanyakan apa yang ingin ia tahu tentang RAIDEN, pastinya pria itu harus menjawab.


...****...


__ADS_2