Obsesi Cinta Tuan Mafia

Obsesi Cinta Tuan Mafia
Bab 52. Keinginan Jonas


__ADS_3

Deg!


Jantung Raiden seakan berhenti saat itu juga, saat ia mendengar fakta tentang saudara kembarnya yang sakit jantung dan ternyata masih hidup. Jonas, selama ini pria itu mengetahui rahasia besar yang disembunyikan ayahnya tapi dia tidak pernah bicara ketika Raiden bertanya. Tentu saja itu karena sebelumnya , kesetiaan Jonas hanya pada Wiliam. Tapi sekarang kesetiaan itu- sudah tidak ada lagi, Jonas telah berubah menjadi pengkhianat demi mendapatkan keuntungan lebih besar di dalam dunia mafia.


"Kau--kau tau dimana kakakku? Kau pasti tau bukan? Dia berada ditangan mafia yang mana?!" sentak Raiden antusias, begitu retoris dan dalam saat pria menatap Jonas. Sungguh ia sangat ingin tau dimana Raymond berada. Saudara kembar yang bahkan tidak pernah ia lihat seumur hidupnya. Jika dia benar masih hidup, pasti dia juga sudah dewasa sama sepertinya. William pernah mengatakan bahwa wajahnya dan Raiden sangatlah mirip.


"Aku akan beritahu...aku juga akan menunjukkan dimana tempat kakakmu berada. Namun pertama-tama lepaskan aku dulu." pinta Jonas liris, wajah pria itu penuh darah dan tubuhnya penuh luka akibat ulah anak buah William.


Ada rasa tidak percaya di hati Raiden untuk Jonas, namun rasa penasarannya tentang Raymond membuatnya memberikan kesempatan pada Jonas. Jika pria itu macam-macam atau mencoba menipunya, ya tinggal tembak saja. Sama seperti Raiden membunuh anak dan istri Jonas dulu.


Diam-diam Raiden mengelabui penjaga ayahnya dan membawa Jonas keluar dari rumah merah yang sering disebut black house itu, dia cerdik. Tak heran jika William begitu menginginkan Raiden sebagai penerusnya, namun satu hal yang Wiliam yang tak suka dari Raiden, anak itu pembangkang dan keras kepala. William beranggapan bahwa wanita telah membuat Raiden kembali ke jalan yang benar, dia tidak mau itu sampai terjadi. Raiden harus tetap berada di dunia ini, di jalan yang sesat.


Jerry dan kedua anak buah Raiden memapah Jonas yang masih dalam keadaan lemas itu untuk masuk ke dalam mobil di belakang black house. Jonas memuji kecerdikan dan kegesitan Raiden dalam berstrategi, ia jadi paham kenapa William sangat terobsesi pada Raiden dibandingkan pada saudara kembarnya yang sakit-sakitan.


"Kau sangat cerdik dan cepat, tak heran William sangat terobsesi padamu dibandingkan pada saudara kembarmu." celetuk Jonas setelah dia memakai pakaian, menutupi tubuh telanjang dadanya.


"Maksudmu apa?" Raiden menangkap ada kata ambigu di dalam ucapan Jonas padanya


"Ayolah Raiden, ini adalah sebuah clue. Apa kau tidak menyadarinya?" tanya Jonas menyindir. Ia menguji kecerdasan Raiden dalam menangkap ucapannya. Fine, Raiden memang menemukan yang ambigu disana namun tak tahu apa. Tak lama kemudian, ia menatap lekat ke arah Jonas yang kini duduk di sampingnya.


"Apa--ayahku yang sudah menahan kakakku selama ini?" tebak Raiden yang tepat sasaran, Jonas tersenyum tipis menanggapinya. Ia menganggukkan kepalanya dengan mantap.


ASTAGA! Raiden tidak percaya ini, ternyata ayahnya sangat jahat dan selama ini Raymond yang ia cari berada didekatnya. Dia tak habis pikir, bagaimana bisa Raiden berkecimpung di dalam dunia hitam untuk menyelidiki saudaranya, menjadi mesin pembunuh, melakukan bisnis ilegal sambil menyelami mencari keberadaan saudara kembarnya. Sebab William mengatakan bahwa Raymond di culik oleh salah satu musuhnya. Bodohnya, ia tidak menyelidiki keluarganya sendiri karena rasa percaya. Sungguh, Raiden merasa dikhianati begitu dalam.


"Sialan?! KAU BAHKAN TIDAK PANTAS UNTUK DISEBUT AYAH?! PRIA KEJAM!" teriak Raiden penuh kemarahan di dalam mobil itu, tak peduli ada anak buahnya disana bisa melihat kemarahannya.


Jika saat ini ada William didepannya, sudah pasti ia akan menghajarnya. Tak peduli pria itu adalah ayahnya atau bukan. Kelakuannya tidak bisa di maafkan. Menyembunyikan Kakaknya selama ini yang sakit jantung, membuatnya koma agar Raiden terikat dengannya di dunia hitam.


"Sial! Harusnya aku tau bahwa pria itu licik." kata Raiden.


Jonas hanya tersenyum melihat kemarahan Raiden, entah apa yang ia pikirkan saat ini. Mereka sekarang sedang menuju rumah yang menjadi tempat Raymond disembunyikan selama ini. Tentu saja atas petunjuk dari Jonas.


Sebelum sampai ditempat itu, Raiden menelpon Alea terlebih dahulu. Ia ingin menanyakan keadaannya dan bicara pada kekasihnya.


Alea yang tengah menanam bunga matahari didepan halaman Mansion itu, tiba-tiba menghentikan kegiatannya ketika Yona melaporkan padanya bahwa Raiden menelpon lewat telpon rumah. Alea terlihat semangat. Apalagi menunggu kepulangan Raiden, ia akan menunjukkan padanya bunga matahari yang ditanamnya hari ini.

__ADS_1


"Alea, apa yang sedang kau lakukan? Apa kau sudah makan siang?" tanya Raiden perhatian.


"Hem...sudah, apa kau sudah makan?" Ale balik bertanya.


"Bagus, akhirnya kau tidak keras kepala lagi." cetus Raiden.


"Rai, pertanyaanku belum kau jawab."


"Sudah."


"Kau pasti bohong." tukas Alea yang tau benar nada bicara Raiden yang bohong dan jujur.


"Dari mana kau tau aku berbohong?" tanya Raiden pada Alea. Disisi lain, Jonas tampak memperhatikan Raiden yang mengobrol dengan raut wajah hangat. Baru kali ini Jonas melihat raut wajah Raiden yang begini. Ia yakin pasti wanita yang sedang berbicara dengannya di telepon ini, adalah cintanya Raiden.


"Kalau kau jujur, kau tidak akan setenang ini." cetus Alea.


"Aku memang belum makan, puas?" akhirnya pria itu memilih jujur, anggap saja hadiah karena Alea tau kebiasaannya.


"Tuh kan! Kau pasti belum makan. Kalau begitu ayo pulang dulu, kita makan bersama. Pekerjaanmu, selesaikan saja nanti Rai." pinta Alea cemas. Hati Raiden terhenyak haru, lantaran Alea sudah menjadi kekasihnya dan sangat perhatian padanya. Dia berjanji akan kembali setelah menyelesaikan semua ini. Kembali ke kehidupan yang normal, menikah, punya anak, saling mengasihi. Membangun keluarga bersama dengan wanita yang ia cintai.


"Maafkan aku sayang, aku belum bisa pulang sekarang." lirih Raiden yang membuat Jonas semakin yakin bahwa Alea memang kekasih Raiden atau bahkan lebih dari itu. Entah kenapa sorot mata Jonas berubah menjadi tajam sekarang.


"Aku akan makan di jalan setelah menyelesaikan semuanya. Al--kalau aku belum pulang, kau harus makan duluan."


"Kau sudah janji mau pulang sebelum malam, lalu kenapa--" Alea kecewa dengan ucapan Raiden. Padahal ia ingin bersama pria itu.


"Kita bicara lagi nanti." ucap Raiden menyudahi. Tadinya ia ingin bicara soal Raymond, tapi dia mengurungkan niat itu. Lebih baik memberitahunya saat sampai di mansion saja. Ia tak mau Alea cemas menunggunya.


"Baiklah, mungkin kau sibuk. Aku paham, tapi jangan lupa makan...aku tidak mau kau sakit." jelas Alea yang tidak ragu lagi untuk menunjukkan perhatiannya terhadap Raiden.


"Hem, kau juga. Jaga dirimu, jangan keras kepala."


"Ya ya.... cerewet! Kau juga cepatlah pulang, ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan padamu."


"Apa?"

__ADS_1


"Surprise, kalau aku memberitahumu sekarang itu artinya bukan surprise lagi." cetus Alea sengaja membuat Raiden penasaran.


"Huft...baiklah, aku akan pulang secepatnya."


"Aku...mencintaimu." ucap Raiden kemudian penuh perasaan.


"Aku juga mencintaimu." balas Alea dengan perasaan yang mendalam.


Setelah saling mengutarakan perasaan satu sama lain, Alea segera menutup teleponnya dengan perasaan malu. Ia menangkup kedua pipinya dengan kedua tangannya. Wajahnya merah merona, sayang sekali Raiden tidak bisa melihat wajah yang seperti ini sekarang. Hingga tanpa Alea sadari, Yona memotret Alea diam-diam lalu mengirimkannya pada Raiden.


Di dalam mobil, Raiden tersenyum melihat kiriman foto Alea yang imut dari Yona. Raiden langsung menjadikannya sebagai wallpaper di ponselnya. Raiden mengusap ponsel dengan gambar Alea disana, dalam hati ia bertekad bahwa wallpaper di ponsel ini akan berganti menjadi foto keluarga.


****


Tak lama kemudian, Raiden sampai ditempat itu bersama Jonas. Tempat yang jauh dari keramaian dan tercium bau darah yang menyengat disana. Tempatnya didekat hutan temaram, tanpa penerangan. Jangan lupakan bahwa hari sudah malam.


"Disinilah ayahmu menahan kakaknya selama bertahun-tahun" ucap Jonas pada akhirnya.


"Terimakasih." kata Raiden singkat. "Katakan apa permintaanmu?" tanya Raiden tanpa basa-basi, ia tak mau berhutang Budi pada Jonas.


"Pertama aku meminta kau membiayai pemakamanku kelak disamping makan istri dan anakku yang sudah kau bunuh...dengan layak, kedua...aku ingin kau memberikan putri pertamaku pekerjaan yang bagus dan uang."


"Putri pertama? Kau masih punya putri lain?" tanya Raiden terkejut karena ia baru tau bahwa Jonas mempunyai seorang putri lagi selain gadis kecil yang waktu itu ia bunuh bersama ibunya.


"Ya, aku punya seorang putri dari istri pertamaku. Namanya Ciara, dia tinggal di Melbourne. Dia berusia 20 tahun, aku ingin kau menjamin kehidupannya sampai dia menikah." jelas Jonas meminta.


Raiden tidak punya alasan untuk tidak mengabulkan permintaan Jonas. Raiden menyanggupi semuanya. Kemudian ia pun masuk ke dalam sana bersama Jerry dan beberapa anak buahnya. Tak lama kemudian, terdengar suara tembakan memberendel pada Jonas. Raiden sontak melihat ke arahnya dengan panik.


Dor!


Dor!


Dor!


"Sial! Ayah pasti sudah tau aku berada disini!" seru Raiden.

__ADS_1


Niat Raiden menolong Jonas, harus ia tunda sebab ia harus segera masuk ke dalam sana dan bertemu dengan Raymond.


...****...


__ADS_2