Obsesi Cinta Tuan Mafia

Obsesi Cinta Tuan Mafia
Bab 26. Kembali ke Jakarta


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Gadis itu masih belum berdiri dari lantai, ia tampak kebingungan dengan sikap Raiden yang kasar dan tiba-tiba dingin padanya. Entah kenapa saat Raiden mengatakan tidak mencintainya, Alea kembali merasakan tidak nyaman dan sakit dibagian dadanya.


"Kau sungguh-sungguh mengatakan itu Rai?" tanya Alea dengan air mata menggenang dan siap keluar bola ia mengedipkan matanya.


"Benar, aku salah menganggap itu cinta. Seperti apa katamu, ini hanya obsesi bukan cinta." tegas Raiden dengan tatapan tak gentar pada Alea. Menegaskan bahwa dirinya tidak mencintai gadis itu.


Alea kembali berdiri dengan kaki gemetar dan tubuh yang lemas. Ia berjalan mendekati Raiden, mendongakkan kepalanya dan menatap pria itu dengan dalam. "Rai tatap aku, biarkan aku melihat matamu." pinta Alea.


"Aku ingin mencari kebohongan disana," lugas Alea seraya menyentuh pipi Raiden dan berusaha agar pria itu melihatnya.


"Hentikan ini Alea!" tukas Raiden seraya menepis kasar tangan Alea.


"Tatap mataku dan katakan padaku bahwa kau tidak mencintaiku. Ayo Raiden, aku ingin tau." Alea tau Raiden dari dulu, ketika pria itu berbohong atau gugup. Raiden tak akan berani lawan bicaranya, Alea tahu Raiden sulit berbohong terutama padanya.


"Raiden, please."


Kali ini Raiden menoleh pada Alea dengan tatapan begitu retoris dan tajam. Ia menatap mata berwarna biru langit nan indah, namun berkaca-kaca itu. "Aku tidak mencintaimu Alea dan meski aku bilang begitu, kau kan sudah bertunangan. Maaf karena aku salah telah memisahkanmu darinya."


Percayalah, sulit bagi Raiden saat mengatakan semua ini. Sulit bagi Raiden untuk melepas Alea, tapi ia harus dan ia sudah janji pada Leon untuk menjauhi Alea. Raiden pikir ini semua juga baik untuk Alea. Hidup dengan Raiden hanya akan membuat Alea berada dalam bahaya. Ia belum menyelesaikan misinya untuk mencari sesuatu yang ada didalam dunia mafia.


"Rai..."


"Pergi! Aku tidak mau bertemu denganmu lagi!" usir Raiden pada gadis itu. Raiden mengusir Alea dari hidupnya. Jujur dalam hatinya Raiden masih sangat mencintai Alea, namun ia akan mencoba menerima fakta bahwa Alea mencintai Justin dan mencoba melupakan semuanya.


Alea tidak bisa memaksa Raiden untuk berkata jujur, ia pun menyerah dan marah pada Raiden. "Baik, aku akan pulang dan aku akan menikah dengan Justin. Persis dengan apa yang terjadi sebelumnya. Tapi Rai, aku harap kau datang...kau masih sahabatku kan?"


Pertanyaan itu tak mampu Raiden jawab. Entah, ia sendiri tak tahu apakah dia masih menganggap Alea sahabat atau bukan. Sebab, sejak dulu Raiden menganggap Alea sebagai wanita.


Setelah bicara dengan Alea, Raiden pun pergi meninggalkan Alea disana. Raiden masih melihat Alea yang menangis.


'Kenapa kau menangis Alea? Bukankah kau tidak mencintaiku? Jangan begitu, kumohon' ucap Raiden dalam hatinya.


'Kenapa Rai? Kenapa aku berat untuk meninggalkanmu?' batin Alea sedih.


Saat pria itu akan membuka pintu ruang rawat Alea. Tiba-tiba saja Raiden merasakan ada tangan mungil dan mulus melingkar di tubuhnya dari belakang.


"Aku akan pergi Rai, setidaknya harus ada pelukan perpisahan bukan. Percaya atau tidak, aku masih menganggap sahabat...meski sekarang kau tidak begitu. Aku harap kau hidup bahagia, aku harap kau segera menemukan apa yang kau cari, agar kau berhenti dari dunia hitam ini. I wish you always happy, Rai." lirih Alea tulus, hingga air matanya merembes pada kemeja Raiden.


Sungguh, Raiden ingin membalikkan badannya saat ini juga dan menghambur memeluk Alea. Mungkin ini untuk terakhir kalinya Raiden bisa memeluk Alea. Tapi jika pria itu memeluknya, maka akan sulit baginya membiarkan Alea pergi.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, Justin menatap keduanya dengan cemburu. Hatinya menatap tajam pada Raiden yang dipeluk oleh Alea. Rasa cemburunya yang besar membuat Justin membuka pintu itu dan sontak saja Alea langsung melepaskan pelukannya pada Raiden. Justin bisa melihat mata Alea yang sembab dan sudah bisa ditebak kenapa Alea begitu.


"Apa kalian sudah selesai bicara?" tanya Justin dingin.


Alea dengan cepat berusaha menjelaskan agar Justin tidak salah paham."Justin, jangan salah paham. Aku hanya memeluk Raiden karena dia adalah--"


"Sahabat, aku paham. Tidak lebih kan?" kata Justin memangkas ucapan Alea. Tatapan Justin begitu tajam pada Alea dan Raiden, seolah menangkap dua orang yang berselingkuh.


Raiden berjalan mendekat Justin, kemudian dia mendekatkan bibirnya pada telinga Justin. Raiden berbisik disana. "Jika aku mendengar Alea sampai menangis dan terluka karena perbuatan kotormu dan si L, lihat saja...aku akan buat perhitungan denganmu." bisik Raiden yang berhasil membuat Justin terdiam dengan telak. Kejadiannya bersama Lisa kembali terngiang di kepalanya. Ia menatap Alea dengan cemas, takut kalau ucapan Raiden didenger olehnya.


"Rai..."


"Aku sudah memberitahu Alea, bahwa kau tidak sesuci itu. Tapi dia tidak percaya, aku bisa menunjukkan bukti tapi aku sepicik itu. Aku tidak sanggup melihatnya terluka, jadi lebih baik kau jujur." bisik Raiden lagi yang membuat jantung Justin berdebar kencang.


Jujur? Tidak! Justin tidak akan jujur pada Alea tentang kesalahan satu malamnya bersama Lisa, jujur yang akan membuat ia kehilangan Alea. Setelah susah payah ia mendapatkan Alea, mengganti status sahabat jadi tunangan. Justin tidak akan melakukan hal bodoh itu, semua akan hancur karena kesalahan bodohnya.


****


Setelah itu, Alea pulang ke Indonesia bersama dengan kakak, papa dan tunangannya. Di sepanjang perjalanan, Alea dan Justin lebih banyak diam tanpa bicara seperti biasanya. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tapi Justin lebih ke takut, ia takut Alea tau tentangnya dan Lisa.


'Tidak! Alea tidak boleh tau tentang semua ini, lagipula Lisa juga sudah berjanji'


"Justin, apa kau baik-baik saja?" tanya Alea yang melihat tangan Justin gemetar. Ia memulai pembicaraan lebih dulu.


Justin memeluk Alea dengan erat, penuh kasih sayang. Alea tidak menolak itu juga tidak membalasnya. Bicara tentang Lisa? Apa yang terjadi pada gadis itu?


*****


Sesampainya di bandara Jakarta, Alea melihat ada Aileen, Arsen, Lisa, Bram dan juga Lusi disana. Mereka menjemput Alea dan ingin menyambut gadis itu secara langsung.


"Kakak!" Arsen memeluk kakaknya lebih dulu. "Kakak baik-baik saja kan? Kenapa kakak gemukan? Bukankah kakak disekap?" tanya Arsen beruntun, sambil melihat pipi Alea yang gembul. Sudah hampir satu bulan mereka tidak bertemu. 3 Minggu Alea berada di Milan bersama Raiden.


"Aku baik-baik saja dan aku sangat sehat." jawab Alea seraya tersenyum. Tapi pikirannya tertuju pada Raiden nun jauh disana.


"Alea sayang, apa Raiden menyakitimu? Kami sudah mendengarnya bahwa Raiden yang menyekapmu." Aileen memeluk putrinya dengan rasa lega karena Alea pulang dalam keadaan utuh.


"Raiden tidak menyakitiku, mom. Justru disana aku dimanjakan. Lihat saja, aku gemuk begini? Hehe." kekeh Alea sambil membalas pelukan dari mommynya dengan perasaan rindu yang sudah terbayar. Alea tidak bohong, Raiden memang tidak pernah menyakitinya. Dia selalu bersikap baik pada Alea dan disana Alea makan banyak. Dilayani pelayan dan bebas makan apa saja, tapi satu hal yang tidak boleh ia langgar. Yaitu keluar dari mansionnya.


Bram dan Lusi juga memeluk Alea, mereka senang karena Alea baik-baik saja. Kemudian mereka semua pun pergi ke rumah Alea untuk mengobrol disana. Rumah yang dirindukan oleh Alea.


Semua pelayan dan pengawal di mansion Xavier menyambut Alea dengan bahagia. Terutama Frans si kepala pengawal yang sudah menganggap Alea seperti putrinya sendiri. Dia senang Alea baik-baik saja dan merindukan gadis ceria itu. Rumah sepi tanpa Alea. Mereka pun merayakan kepulangan Alea dengan makan-makan disana.

__ADS_1


"Al, kau baik-baik saja kan?" tanya Lisa pada Alea cemas. "Aku tidak menyangka bahwa Raiden akan melakukan semua ini." imbuhnya lagi.


"Aku baik-baik saja Lis, kau tidak perlu cemas. Raiden tidak menyakitiku, sama sekali." Apa yang dikatakan Alea bukanlah pembelaan, tapi memang benar Raiden tidak menyakitinya.


"Syukurlah Alea, aku senang kau baik-baik saja."


"Terimakasih kau sudah mencemaskanku. Disana aku juga memikirkanmu dan Justin." celetuk Alea.


Uhuk...uhuk!


Tiba-tiba saja Justin tersedak tanpa alasan yang jelas. Alea langsung berinisiatif menyodorkan segelas air minum pada Justin. Tatapan Lisa langsung terkunci pada pria itu, ia juga panik.


Atensi Alex langsung terfokus pada Lisa dsn Justin yang sama-sama panik setelah mendengar kata-kata Alea. Tapi sayang, Alea tidak peka.


"Apa kau baik-baik saja Justin?" Alea menepuk pelan punggung Justin.


"A-aku tidak apa-apa Alea, aku tersedak hewan..ya tadi ada hewan masuk ke tenggorokanku." jelas Justin gugup. "Tapi, kau bilang kau memikirkan kami?" tanya Justin seraya menatap ke arah Alea dengan penuh rasa penasaran.


"Iya, aku mencemaskan keadaan kalian. Pernah suatu malam aku memimpikan kalian berdua." ungkap Alea. "Tapi kalian baik-baik saja, sepertinya aku bermimpi karena kalian terlalu merindukanku. Hahaha.." Alea tertawa, tapi Justin dan Lisa malah terlihat pucat. Justin dan Lisa saling membuang muka satu sama lain dengan perasaan gelisah.


Tak lama kemudian, seorang pelayan di rumah itu yang bernama Rani mengantarkan sup tulang iga untuk Alea.


"Sup kesukaan nona Alea sudah datang," kata Rani dengan raut wajah bahagianya.


"Woah...terimakasih Bik Rani. Sudah lama aku tidak merasakan sup tulang iga, di Milan susah sekali ingin makan sup tulang iga sebab tidak ada bibik yang membuatnya." Alea terlihat sangat gembira melihat sup kesukaannya telah tersaji didepan matanya.


"Oh ya Alea, Justin, kalian akan menikah lusa. Daddy dan sudah membicarakannya dengan mama Justin." kata Leon tiba-tiba saja.


"Apa itu tidak terlalu cepat dad?" tanya Alea terperangah.


"Lebih cepat lebih baik bukan? Kalian juga seharusnya sudah menikah 3 Minggu yang lalu," kata Aileen sambil tersenyum.


"Kau setuju kan Justin?" tanya Alex pada calon iparnya itu.


"Iya, aku senang pernikahannya di percepat." jawab Justin dengan senyuman tipis di bibirnya yang hampir tak terlihat.


Tiba-tiba saja atensi semua orang tertuju pada seorang gadis di samping Alea, yaitu Lisa. Saat Lisa mual-mual begitu melihat SOP tulang iga.


"UWEKK... Uwekkk!!"


"Lisa? Kau kenapa?"tanya Alea cemas.

__ADS_1


"Maaf, aku permisi dulu...uwekk.." Lisa beranjak dari tempat duduknya kemudian dia berlari menuju ke kamar mandi.


...****...


__ADS_2