
...🍁🍁🍁...
Keadaan Raiden begitu kacau, ia yang bersimbah darah membuat Alea jantungan. Tidak pernah seumur hidup Alea melihat Raiden seperti ini. Hatinya terhenyak, tubuhnya lemas seakan tak bertulang.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Alea sambil menghampiri Raiden yang tengah di papah oleh Lance dan Jerry. Pria itu sepertinya tak sadarkan diri, sebab matanya terpejam rapat.
"Nona... lebih baik anda kembali masuk ke dalam kamar!" ujar Tommy karena ia cemas dengan kondisi Alea yang terakhir kali. Saat gadis itu syok melihat Carissa 3 hari yang lalu.
"Tidak mau! Aku ingin melihat Raiden, aku ingin membantunya." kata Alea memberanikan diri. Meski ia takut darah yang banyak, tapi demi Raiden ia bisa menekan semua rasa itu.
"Nona..."
"Aku akan membantunya!" sergah Alea tidak mau dibantah.
Jerry terlihat tidak senang dengan sikap Alea, sejak kejadian Carissa ia jadi menyebalkan.
Para anak buah Raiden pun jadi berpikir bahwa Alea dan Raiden sama-sama keras kepala. Brieta dan Yona juga jadi berpendapat bahwa sebenarnya Alea mencintai Raiden, tapi dia belum menyadarinya. Walaupun mereka seringkali mendengar cerita tentang Justin, tunangannya.
Dalam keadaan panik dan gelisah, Alea berusaha membantu Raiden yang kala itu terluka parah terutama di bagian perut dan dada.
Kini Raiden berbaring di atas ranjang kamarnya sendiri. Alea memerintahkan kepada dua maid terdekatnya untuk membawakan air dingin dan handuk kering.
"Yona, bisakah kau bawakan air dingin dan masukan ke dalam baskom, pakai es juga tidak apa. Dan juga handuk keringnya," ucap Alea pada Yona. Ketika dia meminta bantuan atau memberi perintah kepada siapapun, dia selalu meminta tolong terlebih dahulu.
Hingga semua orang di mansion itu pun memperlakukannya dengan baik dan hormat padanya, kecuali Jerry yang kadang bersikap tak sopan pada Alea.
"Baik, saya akan segera bawakan nona!" seru Yona patuh, gadis itu berlari keluar dari kamar untuk segera melaksanakan perintah Alea.
__ADS_1
"Tuan Tommy, apa Raiden bisa dibawa ke rumah sakit?"
"Maafkan saya nona, tuan Raiden melarang saya untuk membawanya ke rumah sakit! Lagipula dokter Christopher juga akan segera datang kemari." jelas Tommy tegas.
"Tapi--" Alea terlihat cemas melihat kondisi Raiden, bahkan nafasnya tersengal-sengal. Pendarahannya juga belum berhenti meski Alea menahannya dengan kain dan tangannya. Semua itu tak cukup, sebab Raiden masih belum sadarkan diri.
Rai...kenapa kau harus melakukan hal-hal yang berbahaya? Kau harus bangun Rai, kau yang membawaku kemari, maka kau harus bertanggungjawab! Dasar bodoh. Maki Alea pada pria itu didalam hatinya.
Tak lama kemudian, Yona datang dengan membawakan baskom berisi air dingin dan es. Tak lupa handuk keringnya juga. Yona berjalan tergesa-gesa, hingga tak sengaja airnya tumpah sedikit ke badan Alea. Piyama tidur satin yang dipakainya pun jadi basah dan memperlihatkan dalamann milik gadis itu.
"Ma-maaf nona..."
"Tidak apa! Kita akan menghentikan pendarahannya terlebih dahulu sambil menunggu dokter Chris datang." Alea mengambil handuk kering itu lalu membasahinya dan menyimpan beberapa es batu didalamnya.
Kemudian dia menekan darah yang ada di perut bagian kanan Raiden dengan air es itu. Berharap bahwa pendarahannya sedikit berkurang atau lebih bagus bila berhenti.
Kumohon Rai... kumohon...
"Sebentar lagi dokter Chris akan datang nona! Biar saya bantu menekan lukanya." Tommy menawarkan diri menggantikan Alea. Ia kasihan melihat Alea yang berkeringat.
"Tidak perlu! Aku bisa! Aku pernah belajar ilmu kedokteran dulu," ujar
3 orang kepercayaan Raiden hanya memperhatikannya disana. Mereka juga terlihat mencemaskan Raiden.
"Cih! Sok sok-an mau menolong tuan, padahal dirinya sendiri lemah. Memangnya dia dokter?" gerutu Jerry nyinyir dengan suara berbisik.
Sontak saja Lance menoleh ke arahnya dengan kesal, sebab ia mendengar gerutu si Jerry. "Kenapa akhir-akhir ini mulutmu jadi seperti wanita? Apa kau senang mengumpat tentang nona?" sarkas Lance.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?"
"Kalau tuan sampai mendengar ocehanmu tentang kekasihnya, habis KAU." tegur Lance pada Jerry yang akhir-akhir ini selalu nyinyir pada Alea.
"Kekasih? Dia bukan kekasih tuan, dia itu cuma jalanggnya tuan." celetuk Jerry tak suka.
Lance langsung melotot kepada Jerry, "Jaga mulutmu itu!"
Tak berselang lama kemudian, Chris datang ke mansion itu. Buru-buru ia masuk ke dalam kamar Raiden dan memeriksanya. Keadaan Raiden tidak baik, bahkan Chris sampai membawa alat-alat medis ke rumah itu untuk menopang Raiden.
"Kenapa Raiden tidak dibawa ke rumah sakit?" tanya Alea khawatir.
"Nona Alea, kurasa kau sudah tau tentang Raiden. Ia tak akan bisa pergi ke rumah sakit dengan kondisi seperti ini," kata Chris.
Alea hanya terdiam, ia menatap Raiden dengan sendu. "Kenapa kau menempatkan dirimu dalam bahaya Rai? Apa kau selalu berada dalam bahaya seperti ini selama empat tahun?" gumam Alea dengan rasa cemas di ulu hatinya.
****
Di sebuah tempat gelap, terlihat seseorang duduk di kursi goyang dengan tudung hitam di tubuhnya. Tubuhnya tinggi, namun wajahnya tak terlihat.
"Kau yakin dia terluka parah?" kata orang itu pada seseorang di balik telepon.
"Ya, dia terluka...parah, aku melihatnya sendiri."
"Bagus, ini adalah kesempatan. Segera bawa wanita itu dan lakukan dengan rapi!" pria itu menutup telponnya lalu tersenyum licik.
...****...
__ADS_1