
...🍀🍀🍀...
Raiden meneguk ludahnya kasar, setelah melihat pemandangan yang membuat libidonya meningkat. Ini pertama kalinya ia melihat tubuh telanjang seorang wanita. Raiden tidak menyangka bahwa tubuh Alea benar-benar seksi dan memiliki gunung kembar berisi sesuai ekspektasinya.
Ah! Astaga, apa yang Raiden pikirkan? Sial, Raiden jadi bernafsu. Tidak, Raiden tak boleh begini. Pria itu pun keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya, meninggalkan Alea sendirian disana.
"A-aku pikir terjadi sesuatu padamu...ja-jadi aku...." Raiden bersandar di balik pintu, dia benar-benar gugup. Wajahnya memerah, seperti kepiting rebus. Membayangkan tubuh Alea dan seketika fantasi liar bermunculan di kepalanya.
"Kau sangat menyebalkan Raiden!" teriak Alea dari dalam kamar mandi. Alea kesal karena Raiden seperti sudah menelanjanginya kalau melihatnya begini.
"Ma-maafkan aku..."
Alea terdiam sejenak, ia berusaha mengambil handuk di dekat sana. Gadis itu berhasil mengambil handuk kimono itu dan memakaikannya pada tubuhnya yang semula polos. Namun saat akan berdiri, Alea kembali terjatuh.
"Ack! Aduh." Alea memegangi kakinya yang terasa sakit.
"Alea ada apa?" suara bariton seorang pria terdengar dari luar pintu kamar mandi itu.
"Rai, kenapa kau masih ada disini?!" sentak Alea sambil meringis menahan sakit di kakinya. "Auch..."
"Alea, apa kau baik-baik saja? Aku masuk ya!" tangan Raiden sudah memegang gagang pintu bersiap untuk menariknya ke bawah.
"Rai, kau jan--"
Brak!
Raiden membuka pintu itu dan melihat Alea terduduk di lantai, kali ini gadis itu tidak telanjang dan tubuhnya sudah memakai bathrobe. Rambut panjangnya yang berwarna coklat terurai dalam keadaan basah. Membuat si cantik berkulit putih bersih itu semakin bersinar, berkali-kali lipat cantiknya di mata si gagah.
"Kenapa kau langsung masuk saja? Kau tidak takut aku tidak pakai baju seperti barusan?" oceh Alea kesal pada Raiden yang seenaknya masuk tanpa basa-basi dulu.
"Maaf, aku khawatir padamu." beo Raiden. Hingga gadis itu menatap ke arahnya dengan sendu. Mending kata khawatir itu membuat Alea senang.
"Aku baik-baik saja." jawab Alea pelan dengan kepala tertunduk. Alea merasa aneh sebab ia merasakan hatinya berdebar kencang didekat Raiden.
Atensi Raiden kemudian tertuju pada tangan Alea yang memegang pergelangan kaki kanannya. "Kakimu kenapa?"
"Aku tidak apa-apa." sanggah gadis itu.
Raiden menyingkirkan tangan Alea dari kakinya, kemudian ia melihat bengkak di pergelangan kaki si cantik itu. "Tidak apa-apa bagaimana?"
Tiba-tiba tubuh Alea melayang dan ya, tubuhnya sudah digendong ala bridal oleh pria itu. "Rai, apa yang kau lakukan?"
Pria itu diam tidak menjawab, ia membawa Alea keluar dari kamar mandi. Berada lama di dalam kamar mandi akan membuat Alea masuk angin dan Raiden tak mau itu terjadi.
"Rai..." lirih Alea saat merasa tubuhnya sudah terbaring di atas ranjang. Kedua netra Alea dan Raiden tak sengaja bertemu tatkala keduanya berada dalam jarak dekat. Mereka saling menatap keindahan dan mengagumi wajah masingmasing.
Cukup lama mereka berpandangan dan tenggelam dalam pikiran mereka sendiri, kedatangan Cleo membuat keduanya sontak menjauh.
"Alea? Raiden? Apa yang kalian lakukan?" tanya Cleo terheran-heran dan gagal fokus dengan posisi Raiden dan Alea. Alea memakai bathrobe tipis dan Raiden berjarak sedikit dari gadis itu. Belum lagi wajah keduanya memerah.
Suasana sempat hening dan canggung sebab Alea Raiden saling memalingkan wajah. Menyembunyikan diri masing-masing.
"Ma, tolong panggil dokter." pinta Raiden yang membuat suasana hening itu pecah. Raiden menoleh ke arah Cleo dengan datar seperti biasanya.
__ADS_1
"Hah? Dokter? Siapa yang sakit Rai?" tanya Cleo seraya menghampiri Raiden dan Alea. Ia menatap khawatir keduanya. Raiden lalu berdiri dari atas ranjang itu.
"Alea jatuh di kamar mandi, sepertinya kakinya terkilir." jawab Raiden dengan atensi yang tak lepas dari gadis itu.
"Aku baik-baik saja Tante Cleo." jawab Alea untuk menenangkan Cleo. Begitu ia merasa Raiden menatapnya, sontak gadis itu kembali memalingkan wajah.
'Rai, kenapa kau menatapku begitu?'
"Dia tidak baik-baik saja Ma. Lihat saja kakinya bengkak seperti itu." tuduh Raiden seraya melirik pergelangan kaki kanan Alea yang bengkak.
"Astaga! Alea, ini pasti sakit ya nak? Tante akan panggilkan dokter....sebelum kakimu sembuh kau tidak boleh pulang dulu. Tante tidak enak pada mamamu, kalau memulangkan mu dalam kondisi begini." kata Cleo perhatian.
"Tapi Tante--"
"Rai kau pergilah keluar, kau saja yang telepon dokter Cakra." ujar Cleo pada putranya. Sebenarnya ia sengaja menyuruh Raiden keluar dari sana sebab Cleo ada maksud lain dengan Alea.
"Baik." sahut Raiden, kemudian dia berjalan keluar dari kamar itu. Meninggalkan Cleo dan Alea saja berdua disana.
Alea sudah berganti pakaian, kini ia duduk di atas ranjang bersama dengan Cleo. Cleo bilang dia ingin bicara empat mata dengan Alea, soal Raiden.
"Tante, tante ingin bicara apa?" tanya Alea seraya menatap wajah Cleo yang tampak cemas akan sesuatu. "Tante--ada apa?"
"Ini tentang Raiden. Alea, Tante rasa hanya kamu yang bisa membantu Tante." Cleo memegang tangan Alea. Terlihat keresahan di dalam wajah Cleo.
"Membantu apa Tante?"
"Tolong bujuk Raiden untuk mengatakan alasan sebenarnya mengapa dia memilih jalan ini dan bujuklah dia untuk tetap tinggal disini, juga meninggalkan dunia hitamnya itu. Tolong Alea, selama ini Alea selalu mendengarkanmu dan dia pasti akan menurutimu."
"Tante..." Alea merasa kasihan pada seorang ibu yang mencemaskan anaknya itu. Alea paham sebab ia juga merasakan hal yang sama dengan Cleo. Ia cemas pada Raiden, takut pria itu kenapa-napa.
Alea menghembuskan nafas panjang. "Aku akan mencobanya Tante."
Gadis itu akan mencoba membujuk Raiden untuk mengatakan yang sebenarnya dan syukur syukur Raiden mau meninggalkan dunia hitamnya.
2 hari pun berlalu, Alea menginap di rumah Cleo dengan alasan ingin menenangkan diri bersama dengan Asha disana. Aileen mengizinkannya, walaupun Leon dan kedua saudara laki-lakinya kurang setuju karena cemas disana ada Raiden. Tapi semua pria itu kalah oleh omelan Aileen dan menurut saja.
****
Di kediaman Justin Schubert baru pulang setelah 2 hari menghilang disekap oleh orang yang tidak dia kenal. Lisa dan Hera sampai menelpon polisi bahkan detektif untuk mencari Justin. Namun hari ini, siang ini mereka dikagetkan dengan kepulangan Justin ke rumah. Kondisi pria itu terlihat kacau, rambutnya acak-acakan dan pakaiannya berantakan. Pria itu terlihat linglung, pandangan matanya kosong.
"Justin, kau sudah pulang nak? Kau..."
"Suamiku, apa kau baik-baik saja? Kau kemana saja?" Lisa hendak mendekati Justin, pria itu dengan cepat menepis tangannya. Hati Lisa sungguh sakit melihat suaminya masih bersikap dingin. Ya, Justin pasti akan sulit menerimanya setelah semua yang ia lakukan.
Justin memilih menghampiri mamanya dan memeluk mamanya itu. Air matanya luruh begitu deras, ia memeluk Hera dengan erat. "Lisa, cepat ambilkan air minum untuk suamimu! Kenapa kau diam saja hah?!" bentak Hera pada menantunya itu.
"Baik Ma," Lisa pergi ke arah dapur untuk mengambilkan air minum. Tak berselang lama kemudian ia berjalan ke arah Justin yang sudah duduk bersama ibunya di sofa, sambil membawa segelas air minum.
Justin, pria itu masih berada di dalam pelukan ibunya sambil menangis terisak. "Ada apa nak? Kenapa kau begini?" tanya Hera seraya mengusap lembut pipi Justin.
"Ma...aku ingin menikah dengan Alea...kumohon Ma, aku mencintainya." permintaan Justin yang frustasi itu tentu saja membuat Lisa tercengang. Hatinya seperti dihantam ribuan pisau yang tajam.
Prang!!
__ADS_1
Gelas yang dibawa Lisa pecah ke lantai, air matanya luruh. Sorot matanya tajam pada Justin. "Tidak Justin! Kau tidak bisa bersamanya, kau adalah suamiku!" serka Lisa tegas.
Justin dan Hera menatap tidak suka pada Lisa. Mereka tampaknya akan sulit menerima keberadaan Lisa dalam hidup mereka. Disisi lain, hati Justin masih mencintai Alea.
****
Malam itu di teras balkon kamar Raiden, tampak ia tengah berbicara dengan seseorang di telpon menggunakan bahasa Italia. Wajahnya tampak muram, sepertinya membahas sesuatu yang penting.
Alea yang ada di balkon sebelah, tak sengaja mendengar pembicaraan itu. Setelahnya Raiden menghubungi Tommy.
"Bagaimana keadaan Lance?"
"....."
"Bagus! Jangan biarkan dia mati sebelum aku kembali ke Meksiko." titah Raiden pada Tommy sedang bicara dengannya di seberang sana.
Raiden langsung menutup teleponnya dan menyimpan ponselnya ke dalam saku. Kemudian dia menoleh ke arah balkon sebelahnya. Tepat dimana Alea tengah berdiri disana. Alea langsung bersembunyi dari Raiden dibalik tembok.
"Aku sudah melihatmu Alea, keluarlah jika kau mau bicara." ujar Raiden datar seperti biasanya.
Gadis itu pun menunjukkan batang hidungnya, lalu ia melempar senyuman pada Raiden. "Yeah! Aku ketahuan. Jika kau ada waktu, apa kau mau melihat bintang bersamaku?"
Dan mereka pun berakhir pergi keluar dari rumah untuk jalan berdua, yang katanya akan melihat bintang bersama. Melihat bintang dalam kamus Alea dan Raiden adalah pergi ke atas gedung sekolah mereka. Dimana mereka bisa melihat keindahan kota Jakarta yang penuh gemerlap lampu dari atas sana.
"Kau pikir pak Adam akan mengizinkan kita untuk masuk ke dalam area sekolah malam-malam begini?" decak Raiden begitu sampai didepan gerbang sekolah.
"Ayolah Rai, dulu kita pernah pergi diam-diam ke sekolah untuk melihat bintang kan?" kata Alea yang mengingatkan mereka berdua akan masa sekolah dulu.
"Tapi Alea--"
"Please Rai...aku ingin kesana. Bukankah kau sudah setuju untuk ikut denganku? Ayolah!" ajak Alea seraya tersenyum pada pria itu. "Kau sudah janji untuk menghibur gadis yang sedang patah hati ini. Jadi--"
"Baiklah." singkat Raiden, lalu ia menggenggam tangan Alea dan membawa gadis itu ke tempat rahasia agar bisa masuk ke dalam sekolah tanpa ketahuan.
Alea tersenyum, ia rindu masa-masa bersama Raiden dan sejenak ia bisa melupakan rasa sakit hatinya pada Justin. Dua orang itu pun pergi ke belakang sekolah, dimana tak ada siapapun disana. Mereka masuk melalui celah di tembok yang ditutupi oleh semak-semak.
"Ternyata masih ada Rai!" kata Alea sembari menunjuk ke arah lubang di tembok itu. Raiden tersenyum tipis melihat Alea tersenyum. Pikirnya, Alea mungkin bisa lupa pada Justin.
"Hati-hati." Raiden melindungi kepala Alea dengan satu tangannya agar tidak mengenai pinggiran tembok. Mereka berdua merangkak masuk ke dalam celah itu secara bergantian. Melihat gedung sekolah itu, perlahan ingatan mereka nostalgia tentang masa lalu di masa putih abu-abu.
****
Di luar rumah Justin.
Pria itu sudah berpakaian rapi sambil membawa buket bunga ditangannya dan makanan manis di bungkus oleh kotak berbentuk hati.
"Justin, aku ini istrimu. Kenapa kau malah pergi menemui wanita lain?" tanya Lisa sambil memegang tangan Justin.
"Aku tidak peduli!"
"Justin!" teriak Lisa kesal pada suaminya yang masih mempunyai niat besar untuk mendapatkan mantan calon istrinya itu.
Justin masuk ke dalam mobil tanpa mempedulikan perasaan Lisa. Hera yang melihat itu juga tidak mencegahnya.
__ADS_1
...****...