
...🍁🍁🍁...
"Kita buat kesepakatan! Dalam waktu 1 bulan jika kau bisa membuatku luluh padamu, maka kita akan menikahi...tapi jika dalam waktu 1 bulan itu kau tidak berhasil membuatku luluh. Kau harus membiarkanku pergi pada Justin!"
Kata-kata itu terus terngiang di kepala Alea, setelah ia membuat kesepakatan konyol yang awalnya hanya candaan itu. Dia tidak bermaksud serius pada Raiden, hanya menggertak saja.
Alea juga kesal dan marah karena video yang dilihatnya di ponsel Raiden. Video itu menunjukkan Justin yang tengah dipukuli oleh beberapa orang. Dan itu semua perbuatan Raiden. Dia benar-benar berani untuk menyakiti orang yang Alea cintai padahal Justin adalah sahabatnya sendiri.
"Kau sudah gila ya RAIDEN!" hardik Alea ketika dia melihat video Justin di pukuli. Hati Alea sakit melihat Justin babak belur itu. Matanya sampai berkaca-kaca, tapi hati Raiden juga sakit sebab Alea menangis karena pria lain.
"Aku gila, ya...aku gila karena dirimu Alea. Taukah kau betapa hancurnya hatiku saat aku mendengarmu akan menikah dengan seseorang? Itulah salah satu alasan kuat mengapa aku kembali ke Indonesia, untukmu ALEA! Bahkan sampai aku membawamu ke sini karena perasaanku. Bila saja aku terlambat, mungkin saat ini kau sudah menjadi istri orang lain dan aku tidak dapat membayangkan hal itu."
Tatapan Raiden begitu sendu pada Alea, seakan cinta yang besar bersemayam didalam raut wajahnya saat ini. Hati Alea sama sekali belum tergerak sebab ia mencintai Justin.
"Jangan menangis lagi karena pria lain. Ingat semua kesepakatan kita, dalam satu bulan...aku akan membuatmu melupakan Justin dan kau tidak akan pernah meninggalkan ku."
"Aku tak mau Raiden!" tukas Alea.
"Kau bicara begitu, maka kau harus menanggung konsekuensinya juga. Dalam satu bulan, kita akan bersama di rumah ini. Paham?" kali ini Raiden menatap Alea dengan tajam, ia tidak mau dibantah.
"Kau...egois..." lirih Alea dengan buliran air mata yang semakin mengalir deras.
Aku mencintai Justin, kau hanya sahabatku Rai. Kenapa kau tidak paham?
Susah payah ia membawa Alea kesini, tidak mungkin ia akan melepaskan gadis itu untuk kembali pada Justin. Selama satu bulan itu Raiden akan membuat Alea melupakan Justin dan berbalik mencintainya.
"Percayalah Alea, Justin tidak sebaik itu. Aku akan bawakan buktinya padamu!"
"Tidak! Justin baik, dia setia dan lebih baik darimu Raiden." bela Alea pada kekasihnya. Dia bahkan masih memakai cincin pertunangannya itu dengan setia, tak mau ia lepaskan.
"Oh ya? Kita lihat saja nanti," tantang Raiden dengan penuh percaya diri.
****
__ADS_1
"Nona...nona! Apa nona baik-baik saja?" tanya Brieta pada Alea yang hanya duduk melamun di atas ranjang.
Alea tersadar dari lamunannya ketika wanita paruh baya itu lambaikan tangannya ke depan wajah Alea. "Iya bu?"
"Nona, anda tidak perlu bersikap formal pada saya. Panggil saja saya Brieta," ucap wanita paruh baya itu seraya tersenyum lembut kepada Alea.
Alea balas tersenyum. "Tidak Bu. Mungkin disini memang terbiasa memanggil nama satu sama lain. Tapi saya tidak bisa begitu, mommy saya selalu mengajarkan saya agar bersikap sopan dimanapun dan kepada siapapun. Dan mommy saya mengajarkan kepada saya untuk selalu sopan kepada yang lebih tua." jelas Alea rendah hati.
Brieta mengulum senyum penuh kekaguman pada Alea. Selain cantik, Alea juga baik hati dan memiliki sopan santun terhadap yang lebih tua. Brieta jadi berpendapat kalau Raiden memang cocok dengan wanita lembut seperti Alea. Tak heran jika Raiden jatuh cinta kepadanya sampai membawa gadis cantik ini dan mengurungnya.
"Baiklah nona, kalau nona butuh sesuatu. Nona katakan pada saya atau Yona. Oh ya, nona belum kenal Yona kan? Sebentar saya panggilkan." Brieta beranjak dari ranjang empuk itu kemudian ia berjalan menuju ke arah pintu.
Dia membuka pintu kamar itu dan mempersilahkan Yona, salah satu maid kepercayaannya untuk masuk ke dalam kamar. Yona tampak lebih muda dari Alea, wajahnya seperti orang bule. Rambutnya pirang dan di kuncir dua.
"Yona kemarilah dan perkenalkan dirimu!" titah Brieta dengan elegan pada gadis berpakaian maid itu.
"Ha-halo nona, nama saya Yona!" gadis bernama Yona itu menundukkan kepalanya dan tampak takut. Yona takut bahwa Alea sama seperti Raiden yang kejam.
"Kau bisa berbahasa Indonesia juga?" tanya Alea ramah.
"Yona, jawablah! Nona Alea bertanya padamu," ujar Brieta pada Yona.
Yona pun berjalan semakin mendekat ke arah Brieta dan Alea dengan langkah yang ragu-ragu. "Perkenalkan, namaku Alea. Sepertinya kita seumuran ya?" Alea mengulurkan tangannya dengan hangat kepada Yona.
Yona membalas uluran tangan Alea. "Perkenalkan nama saya Yona, nona."
"Berapa usiamu Yona?" tanya Alea lagi. Alea memang orang yang mudah akrab dengan orang lain, sebab dia orangnya ramah dan juga friendly. Bahkan sekarang, Yona yang pendiam saja bisa banyak bicara dengan Alea.
Alea terlihat senang karena setidaknya selama berada di mansion itu, ia mempunyai teman mengobrol.
****
Tak terasa 1 Minggu berlalu, sejak Alea menghilang. Keluarga Alea terlihat sedih dan murung, bahkan Aileen juga jadi sakit-sakitan karena tak tahu kabar putrinya satu-satunya.
__ADS_1
Sementara Alex dan Leon pergi ke luar negeri untuk bertemu dengan anak buah Leon dulu. Mereka akan mencari informasi tentang Alea dan orang yang menculik Alea ini yang kemungkinan besar dari kalangan dunia hitam Leon dahulu. Atau musuh Ericko kakek dari Aileen.
Dan Justin bagaimana kabarnya? Setelah dia di pukuli satu Minggu yang lalu oleh orang-orang yang entah siapa, kini ia mulai merasa depresi karena Alea belum ditemukan juga. Rindu mulai membunuhnya, sungguh ia sangat rindu dengan Alea.
Malam itu Justin datang ke sebuah club' malam sendirian. Ia meneguk minuman haram yang belum pernah diteguknya itu.
Ketika itu Justin mabuk berat, hingga akhirnya salah satu bartender disana menelpon Lisa yang dikenalnya sebagai sahabat Justin.
"Rik!" Lisa berlari menghampiri Riki dan Justin yang sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan kepala tertunduk di meja.
"Alea...Alea...kau dimana sweetie? Aku merindukanmu..." racau Justin dengan mata terpejam.
"Ini temen Lo si Justin. Sorry gue gak bisa ngehubungin yang lain karena gue taunya Lo doang Lis." kata Riki begitu melihat Lisa datang. Lisa adalah teman Riki di kampus dan Riki tau bahwa Justin pernah datang beberapa kali bersama Lisa, Alex dan Alea ke club malam tersebut.
"Makasih udah hubungin gue Rik." kata Lisa sambil melihat ke arah Justin dengan miris. Ada luka di mata Lisa saat melihat Justin rapuh seperti ini.
Kenapa kau begitu mencintai Alea, Justin? Kenapa?
"Katanya calon istrinya ilang ya?"
"Hem...Rik Lo bisa bantu gue bawa dia ke mobil. Gue mau anterin dia pulang." ucap Lisa dengan suara pelan.
"Oke Lis."
Dengan dibantu Riki, Lisa berhasil membawa pulang Justin. Lisa memapah tubuh Justin dengan susah payah hingga mereka tiba di apartemen Justin. Awalnya Lisa kebingungan karena tak tau password apartemen Justin, namun Lisa berhasil menebaknya dan kode itu adalah ulang tahun Alea. Lagi-lagi Lisa menunjukkan ekspresi mirisnya, sakit hati.
"Aku pergi Justin. Aku tak sanggup melihatmu begini karena wanita lain, sungguh..." Lisa meneteskan air matanya setelah membaringkan tubuh Justin di atas sofa.
Saat Lisa akan membalikkan badannya, tiba-tiba saja Justin menarik tangannya. Ia mencium bibir Lisa dengan dalam. "Aku merindukanmu, Alea..." lirih Justin seraya menatap Lisa seolah dia adalah Alea. "Love you."
"Aku juga mencintaimu Justin, tidak apa meski kau menganggapku Alea. Tidak apa..." Lisa mencium Justin dan membuat rasa panas menjalar pada tubuh mereka berdua.
Dalam keadaan tidak sadar, Justin pun melakukan making love bersama dengan Lisa pada malam itu dan Lisa bukannya menghindar tapi malah menikmatinya.
__ADS_1
...****...