Pacar Amnesiaku Ternyata CEO

Pacar Amnesiaku Ternyata CEO
BAB 11


__ADS_3

Kapal yang ditumpangi oleh Dilla dan Ibunya Bu Ayu baru saja tiba didermaga Pulau🏝.Dilla sudah tidak sabar ingin memberikan hadiah yang ia beli untuk Banyu.


Gadis itu sampai berlari kecil setelah kakinya menginjak dermaga,saking tidak sabarnya dia sampai melupakan ibunya yang tertinggal jauh dibelakangnya.


Begitu sampai dirumah, Dilla mencari-cari Banyu,pintu rumah tertutup tapi tidak dikunci. Dilla memanggil-manggil nama Banyu tapi tak ada sahutan.


"Abang Banyu, Abang Banyu... " Kok sepi.


"Ada apa Dill, kok kamu teriak-teriak?. " tanya santai Ibu yang baru saja tiba di depan rumahnya.


"Bang Banyu gak ada Bu,rumah sepi banget gak ada orang. " ujar Dilla cemas.


"Mungkin dia lagi mandi ke sungai. " kata Bu Ayu.


"Tapi ember tempat sabun mandi masih ada dikamar mandi Bu." jawab Dilla yang sudah memeriksa seisi rumah.


Bagaimana kalau dia pergi diam-diam Bu??. "


"Gak mungkin lah Nak, dia saja tidak tau siapa dirinya, yang ada nanti dia tersesat. " ujar Bu Ayu.


"Lalu kemana ya dia Bu?. "


"Kemana ya?,coba kamu lihat dipinggir pantai sebelah sana. Dekat tempat kamu jemur ikan." suruh Bu Ayu.


"Mungkin juga Bu. " Dilla pun berlari kearah tempat jemuran ikan.


Dilla melihat tempat penjemuran ikan asin yang sudah kosong dan sepertinya ada orang yang membantu mengangkatnya.


"Apa Bang Banyu yang mengangkatkan?. " gumam Dilla.


Dilla memanggil-manggil nama laki-laki itu, tapi Banyu tak juga muncul.


"Ada apa Nak Dilla?. " tanya seorang Ibu-ibu yang kebetulan lewat.


"Bu, Apa Ibu lihat Bang Banyu? . laki-laki yang amnesia dan tinggal dirumah kami. " tanya Dilla.


"Ooo, yang mirip orang Korea itu ya? yang ganteng banget?. " tanya Ibu-ibu itu.


"Iya Bu. "

__ADS_1


"Tadi sih dia ikut kami merajut jaring di dekat rumah Bu Kadus. "


"Ooo, makasih Bu."


Dengan perasaan senang sekaligus cemas Dilla berlari kearah rumah Pak Kadus. Di sepanjang jalan tanpa disadarinya dia terus memanggil-manggil nama Banyu.


Mungkin setiap orang yang melihatnya pasti bisa menerka bagaimana perasaan gadis itu ke Banyu sebenarnya.


"Ada Apa Neng Dilla,kok lari-lari?. " tanya Ibu-ibu yang lain lagi.


"Ibu lihat Bang Banyu! " tanya Dilla pada setiap orang yang berpapasan dengannya.


Tanpa disadari pula oleh gadis itu, Banyu yang baru saja pamit untuk pulang pada Bu kadus dan yang lainnya melihat dari balik jaring-jaring yang mereka rajut tadi, seorang gadis yang sangat mencemaskan dirinya, berlari di sepanjang jalan tanpa alasan kaki dan mata penuh air mata yang tertahan.


Banyu dapat merasakan getaran dihatinya sepertinya getaran itu tidak berasal dari sebelah pihak.Gadis yang mulai merasuki kalbunya itu sepertinya mempunyai juga perasaan yang sama.


"Bang Banyuuuuuuu, kamu di mana???. " Teriak Dilla.


Kali ini gadis itu sudah dibutakan oleh cinta,dia tidak tau kalau kelakuannya kali ini sudah seperti mengumumkan perasaannya kepada Banyu selama ini pada semua orang.


Tersungging sebuah senyuman kecil disudut Bibir Banyu.Banyu pun keluar dari balik jaring-jaring itu,dan berjalan perlahan menuju ke arah dimana gadis yang bernama Dilla itu berada.


Banyu mencoba menenangkan Dilla dan mengusap-ngusap sebelah lengan gadis itu


"Kamu kenapa?. " tanya Banyu.


Dilla spontan memeluk Banyu, Tapi Banyu berusaha menenangkannya dan melerai pelukan yang ada di tubuh nya itu karena sejak tadi mereka sudah menjadi tontonan warga.


"Kita pulang ke rumah yuk. " ajak Banyu.


Dilla hanya mengangguk, dia sangat malu ketika dia tau kalau sekarang sudah jadi tontonan warga.


Mereka berjalan berdampingan berdua, namun Dilla mencoba menyeka air matanya.Tiba di tepi Pantai yang agak sepi, Banyu menghentikan langkah Dilla dan mengajak gadis itu bicara empat mata.


"Ada apa?. " tanya Banyu.


Sejak kejadian tadi( Saat Dilla spontan memeluk Banyu)gadis itu hanya diam membisu, dia malu.


Dilla juga tak berani menatap mata Banyu, gadis itu terus saja menunduk sambil mengusap air matanya cepat.

__ADS_1


"Apa kamu tadi mengira aku akan pergi tanpa bilan-bilang?. " tanya Banyu.


Dilla hanya bisa mengangguk.


"Kenapa kamu menangis?, apakah itu karena kamu takut kehilangan saya?. " tanya Banyu lagi.


Dan lagi-lagi Dilla hanya bisa menangis dan tertunduk malu, malu karena perasaannya sudah bisa ditebak oleh laki-laki ini.


Untuk terakhir kalinya, Banyu bersuara lagi.


"Apa kamu mencintai saya?. "


pertanyaan Banyu ini membuat gadis itu hanya bisa diam, semakin tertunduk dan tak berani berkata-kata sedikitpun.


Dilla juga bingung dengan perasaannya itu, entahlah apa ini cinta atau bukan Dilla pun tak tau.Gadis itu semakin Kalut didalam fikirannya sendiri, sampai Banyu menyadarkan dirinya dengan sedikit mengguncang tubuhnya.


"Dilla, kamu tidak kenapa-napa kan?. " tanya Banyu.


"Iya."


"Saya mengerti, kamu tidak perlu bicara. Biarkan saya yang bicara. " ujar Banyu.


"Memangnya Abang mau bicara apa?. " tanya Dilla penasaran, didalam hatinya dia takut kalau Banyu akan berkata agar dia tidak memiliki perasaan terhadapnya.


"Dilla, mungkin tebakan ku salah.Tapi percayalah, sepertinya aku juga mempunyai perasaan yang sama denganmu.Aku juga suka sama kamu, aku cinta sama kamu, tidak tau sejak kapaan perasaan ini tumbuh. Yang pasti aku tak bisa kalau tanpamu sehari saja, tadi saat kamu belum juga kembali dari kota, aku sangat merindukan dirimu. Aku yakin perasaan ini bukanlah perasaan antara teman dan juga perasaan seperti kakak ke adeknya.Aku beneran suka sama kamu Faradilla Cahyani. " ungkap Banyu.


Sontak saja, Kepala Dilla terangkat. Kata-kata Banyu ini sangat berkesan dihatinya.Dilla sangat bahagia didalam sana. Air matanya yang tadi mengalir deras kini sudah berhenti, Banyu yang menyekanya.


"Abang serius?. " tanya Gadis itu.


"Iya Dilla,aku sangat yakin kalau aku menyukai kamu, mencintai kamu. " jawab Banyu.


"Bagaimana nanti kalau ingatan Abang kembali, apakah Abang akan pergi meninggalkan Dilla dan kembali bkeng kehidupan Abang yang lama?. " tanya Dilla, ia takut akan ditinggalkan.


"Kalau nanti saya ingat siapa diri saya sebenarnya, saya akan selalu bersama kamu. Saya juga tidak mau kehilangan kamu. "jawab Banyu. dengan penuh keyakinan.


" Bagaimana kalau Abang ternyata sudah punya istri?. "tanya Dilla lagi.


" Aku tidak yakin soal itu, tapi aku yakin kalau aku masih bujangan dan belum pernah menikah.Lihatlah, tidak ada cincin kawin dijari manisku, bahkan diseluruh jariku tidak ada bekas cincin. Iya kan?. "ujar Banyu menjelaskan.

__ADS_1


Dilla menatap ke semua jari-jari Banyu, ya memang tak ada bekas cincin disana.Walaupun aslinya dia sudah bertunangan, tapi dihari pertunangan antara dirinya dan juga Siska, Banyu alias Arya Sheta tidak pernah mau dipakaikan cincin pertuanangan oleh gadis pilihan Ibunya itu.


__ADS_2