
Dilla mencoba bersikap biasa saja dihadapan orang tua Arya itu, walaupun Arya dan juga Pak Bambang mendukung dirinya, tapi restu dari Nyonya Sri sangatlah dia butuhkan. Apalagi wanita itu adalah Ibu dari laki-laki yang sangat ia cintai saat ini.
Kapal yang mereka tumpangi sudah hampir menepi ke Dermaga pinggir kota Jakarta.Jantung Dilla semakin berdetak tak karuan, karena ini pertama kalinya ia akan pergi ke tempat asing yang sama sekali belum pernah ia kunjungi.
Bagaimana nanti suasana dirumah Arya, bagaimana nanti sikap Nyonya Sri kepadanya, bagaimana nanti ini, itu, semuanya berkecamuk didalam fikiran
gadis itu.
"Dilla, ayo. " ajakan Arya membangunkan Dilla dari lamunannya.
"Eh, sudah sampai ya?. " tanya Dilla.
"Iya nih, ayo kita turun dari kapal, sini biar aku bantu. "Arya menadahkan tangannya untuk memegangi Dilla.
Dilla pun menyambut uluran tangan Arya.
" Sok romantisan lagi??!. "kesal Nyonya Sri melihatnya.
" Mama. "Pak Bambang geleng-geleng kepala melihat kelakuan istrinya itu.
"Apa??!!. " ujar Nyonya Sri sambil melotot ke arah suaminya.
Arya dan Dilla jadi menoleh kearah kedua orang tua itu.
"Sudah Arya, kamu bantu nak Dilla untuk membawa tas nya ya, itu mobil kita ada disana, yang warna putih.Kalian duluan saja, Papa masih ada yang mau dibicarakan sama Pak Andra. " ujar Pak Bambang.
Arya pun menurut apa yang Papa nya katakan, dia pun membawa Dilla kekasihnya itu ke mobil yang tadi ditunjukkan Papa nya.
"Males banget satu mobil sama gadis kampung, mana ini yang dibawa mobil ku... lagi. " Lagi-lagi Nyonya Sri kesal.
Sambil berjalan congak Mama dari Arya itu mendahului putranya dan juga gadis yang ia tidak suka itu, siapa lagi kalau bukan Dilla.
Nyonya Sri memanggil supir mereka yang masih setia menunggu didalam mobil Alphard itu sambil tertidur pulas.
"Hey,Joko!!Bangun!!! , enak ya kamu tiduran di Mobil saya ini, nanti bau iler kamu semua nih mobil saya, mana ngorok lagi nih orang!!." Nyonya Sri marah-marah ke supirnya itu.
__ADS_1
"Eh, Nyonya. Sudah kembali rupanya dari pulau, saya kelamaan nunggu jadi ketiduran Nya. " jawab Pak Joko, sambil buru-buru bangun dan membetulkan kursi bagian kemudi yang tadi ia rebahkan. "
"Buruan bukakan pintu nya, diluar panas!. " perintah Nyonya Sri.
"Iya Nyonya. " Buru-buru Pak Joko turun dari mobil dan membukakan pintu bagian belakang untuk majikannya itu.
"Kamu! , masuk duluan! , saya gak mau ya duduk dibelakang. " ujar Nyonya Sri pada Dilla.
Dilla pun menurut saja apa kata wanita tua yang banyak gaya itu.
Setelah Dilla masuk disusul oleh Arya, keduanya duduk dibagian belakang.Tadi Nyonya Sri meminta puteranya itu duduk disamping Pak Joko saja,tapi Arya ingin menemani Dilla dikursi belakang.Sedangkan Pak Bambang nanti akan duduk dibagian tengah sama istrinya itu.
Sambil menunggu Pak Bambang yang sedang bicara berdua sama Pak Andra dipinggir Dermaga,Nyonya Sri mengeluarkan cemilan dari dalam box yang ada di mobilnya, tadi dirumah Dilla dia gak mau makan, padahal jamuan yang disiapkan Dilla dan Ibunya terlihat sangat menggugah selera, hanya saja dia merasa malu kalau mengambil makanan, karena ucapan yang sudah keluar dari mulutnya sendiri yang sudah mengatakan kalau rumah keluarga itu menjijikkan, bau, dekil, dan gak layak. Jadi dia menahan laparnya.
Nyonya Sri hanya menawarkan snack itu kepada Arya saja, tanpa mau berbasa-basi kepada Dilla yang masih saja merasa canggung sekaligus takut padanya.
"Kamu mau sayang? " Arya mencoba mencairkan suasana.
"Sayang, sayang, emangnya sudah berapa lama kamu jadian sama dia?? sudah pake sayang-sayangan segala!. "ujar Nyonya Sri.
"Apa??!. " Nyonya Sri jadi kaget, tapi dihati dia merasa sangat senang sekali, karena hubungan Arya dan Dilla baru, pasti akan mudah untuk memisahkan pasangan ini 'fikirnya.
Nyonya Sri mengulas senyuman dibibirnya, senyuman yang hanya bisa diartikan oleh dirinya seorang.
Tak lama kemudian, Pak Bambang datang dan masuk kedalam mobil.
"Ayo Joko, cepat jalankan mobilnya!. " perintah Pak Bambang.
"Iya Tuan, siap!. " jawab Pak Joko.
"Memangnya apa yang Papa bicarakan sama Pak Andra, kok lama banget?? " tanya Nyonya Sri.
"Nanti saja kita bicarakan dirumah. " hanya itu jawaban Pak Bambang.
Arya dan Dilla hanya mendengar saja,mereka juga masih merasa canggung dengan Pak Bambang dan juga Nyonya Sri.
__ADS_1
Mobil itu membelah jalanan Ibu kota dan beberapa jam kemudian akhirnya mobil itu tiba di sebuah mansion yang luas milik keluarga Sudjatmiko.
Dilla yang melihat rumah mewah dihadapannya jadi merasa kecil dan rendah diri. Mimpi apa dia bisa sampai disini, rasanya sekalipun didalam hidupnya Dilla merasa tidak pernah bermimpi ataupun berkhayal untuk tinggal dirumah sebesar ini.
Arya sedikit mengingat mansion ini, dia merasa pernah memasukinya.Rumah besar ini terasa tidak asing baginya. Bahkan kebiasaan untuk membuka sepatu setelah memasuki pintu utama pun dia masih ingat, refleks Arya mengganti sendal kulit biasa yang dia pakai dari rumah Dilla dengan sandal rumahan miliknya. Hal itu memang sudah jadi kebiasaannya saat baru pulang dari luar rumah.
Dilla meninggalkan sendal nya diluar saja, dia tidak berani membawa sendalnya kedalam rumah itu.
"Bawa saja Dill, taruh didalam lemari sepatu itu " ucap Arya.
"Tapiii... " Dilla melirik ke Nyonya Sri.
"Bawa masuk sendal jelek mu itu, taruh di dalam sana. Bisa turun nanti martabat saya kalau sendal bututmu itu sampai dilihat oleh tamu dan kolega saya yang datang kesini!. " ujar Nyonya Sri ketus.
Dalam hatinya ia ingin sekali melihat gadis ini tidak betah berada dirumahnya itu dan secepatnya meninggalkan puteranya Arya Sheta.
Nyonya Sri ingin membuat Dilla tidak tahan dengan sikap kasar dan cerewetnya, sehingga gadis itu akan menyerah dengan sendirinya dan kembali ke kampungnya di pulau.
*****
Sementara itu di Pulau. Bu Ayu jadi melow ketika mengingat putrinya. Sekarang sudah tidak ada lagi yang akan membantu dirinya membersihkan ikan dan juga membuat ikan asin.
Pak Yuda juga merasa sedih karena teringat akan putri kesayangannya itu.Dia berharap Dilla bisa sukses nanti Di kota dan bisa menemukan apa yang dia inginkan selama ini, yaitu Kuliah dan juga mendapatkan gelar sarjana sehingga dia bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.
"Sedih ya Mas kalau gak ada Dilla rumah ini jadi sepi banget. " ujar Bu Ayu sambil menyenderkan kepalanya di lengan Pak Yuda.
"Iya Bu,rasanya ada yang hilang.Tapi kita harus selalu mendoakan Dilla agar putri kita itu selalu dilindungi sama Allah dan hidupnya akan bahagia selalu ya Bu. "
"Iya Mas,sekarang Ibu akan merasa kesepian. Bagaimana nanti Ibu kalau mau bikin ikan asin, pasti Ibu akan butuh bantuan Mas Yuda untuk bersihkan ikannya. " keluh Bu Ayu.
"Kita bisa cari tenaga kerja yang lain Bu.Ajak saja anak yang ngganggur dikampung kita buat bantuin kamu. " ujar Pak Yuda.
"Baiklah,besok Ibu akan tawarkan ke beberapa gadis yang sedang tidak ada pekerjaan. Siapa tau ada yang berminat. " jawab Bu Ayu.
"Iya Bu. " jawab Pak Yuda.
__ADS_1
Keduanya kembali teringat akan putrinya,sambil menatap foto Dilla yang ada didinding rumah mereka.